Skip to content

Cerpen: Since I Found You (1)

by pada 21 Desember 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(woaini01.wordpress.com)

(woaini01.wordpress.com)

Oleh Christina Ambarita

Ini untukmu. Seberkas cerita tentang kamu, yang selalu membuatku sesak. Sesak saat mengingat kembali setiap kenangan yang menyeruak di benakku.

Menorehkan rentetan kisah manis, yang rasanya ingin kusesap penuh nikmat. Seperti kala aku meneguk secangkir kopi dan menyesap aromanya lamat-lamat.

Aku seperti gadis pada umumnya. Menyukai pria romantis. Setidaknya pria yang bisa bermain musik. Itu sudah menjadi standarku dalam memilih pria yang cocok untukku.

Dan kamu, iya aku tahu kalau kamu bisa bermain musik. Walau kamu tidak pernah memainkannya di depanku. Dan aku, walau sudah berusaha memberitahumu kalau aku ingin sekali melihatmu bermain musik, tetapi tak pernah secara terang-terangan memintamu memainkannya untukku. Hanya sekadar kode, agar kamu memahami. Tapi sepertinya kamu tidak pernah menyadari setiap kode-kode dariku. Ya sudah, tidak apa-apa.

Musik dan kopi. Dua hal yang menjadi caraku untuk selalu mengingatmu, kala aku sedang sendiri. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, saat dirimu memasangkan headset hanya untuk memberitahuku tentang lagu itu. Lagu yang menjadi kesukaanmu sejak dulu.

Aku masih ingat betul intro lagu itu. Bahkan, judulnya juga. Since I Found You yang dinyanyikan apik oleh Christian Bautista. Dan sejak saat itulah, aku tak pernah bosan menyetel lagu itu bila aku merindukanmu.

Lalu terdiam sesaat, setelah lagu itu usai. Berharap kau menyadari betapa aku merindukanmu. Lebih dari itu. Aku telah jatuh ke dalam tahap yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku mencintaimu, Rewis.

*******

Rewis, pria yang usianya sebaya denganku, telah berhasil membuatku lupa tentang segala kepenatan hidup kala aku bersamanya. Sudah hampir tiga tahun kami saling mengenal. Mengenal dan berteman.

Entah pertemanan seperti apa, kami pun tak pernah bisa memahaminya. Biarlah, kami sudah terlanjur nyaman dengan semua ini. Tak peduli di luar sana, banyak orang yang mengira hubungan kami sudah seperti sepasang kekasih.

“Wis, kamu dimana? Aku udah di Houston, ya. Buruan kesini,” ujarku melalui telepon.

Houston adalah tempat favorit kami. Setidaknya tiga kali seminggu kami mampir ke kedai kopi itu, sekadar untuk berbincang-bincang.

Setelah hampir setengah jam aku menunggunya, ia tiba dengan wajah sumringah. Aku menatapnya saat ia masuk. Aku sudah hafal semuanya. Cara jalannya, senyumnya, tatapannya. Juga kumis tipis yang membuatnya makin mempesona. Rewis, aku selalu menyukai semua yang ada padanya. Tak peduli ia tengah kumal, atau sedang rapi.

Ada yang aneh. Senyumnya begitu bahagia. Jarang sekali aku melihatnya dengan senyum seperti itu.

“Kamu kenapa? Kok senyumnya aneh gitu?” tanyaku.

“He-he-he. Nggak apa-apa. Aku lagi senang aja, tadi seharian nggak ada dosen,” jawabnya.

“Oh. Aku kira ada sesuatu. Ya udah, sini duduk,” pungkasku sambil menawarinya duduk.

Bukannya duduk di bangku depanku yang kosong, ia justru mengambil posisi duduk di sebelah kananku. Ia menatapku, masih dengan senyum anehnya. Lalu, tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu kananku.

“Ahhh, Na. Aku lagi bahagia banget,” katanya padaku, sambil menerawang dengan senyum yang (agak) aneh bagiku.

“Kamu kenapa sih?”

Aku semakin penasaran dengan yang terjadi padanya. Dia hanya menggeleng. Lalu menarik tangan kiriku. Ia menaruh tanganku di dada kanannya.

“Kamu bisa rasain ini nggak, Na?”

Aku terdiam. Apa yang harus kujawab. Jelas aku merasakannya. Jantungnya berdetak kencang. Tentu di momen seperti ini, juga membuatku merasakan hal yang sama.

“Na, aku punya janji kan sama kamu? Aku akan nyanyiin satu lagu. Hmm, besok ya.. Aku bakalan nyanyi di depanmu.”

“Serius kamu?”

“Iya,” jawabnya.

Lalu, kami memesan dua cangkir kopi. Kebersamaan kami diwarnai dengan percakapan manis, yang membuat waktu pertemuan kami amat bermakna.

*******

Seperti biasa, Rewis mengantarku hingga depan pintu rumah. Karena sudah malam, ia segan masuk bertamu. Ia pun segera mengeloyor pergi, seusai membiarkanku masuk sendiri.

Aku sudah tahu, malam ini pasti tidak bisa tidur nyenyak. Di benakku hanya ada bayangan Rewis, yang sedang memetik senar-senar gitar sambil menyanyikan satu lagu di depanku. Ah anganku sudah terlalu jauh.

Ponselku bergetar, membuyarkan lamunanku tentang Rewis. Sebuah pesan singkat masuk. Ya, dari Rewis.

“Tidur kamu. Jangan mikirin besok aku mau nyanyi apa. Pokoknya, bakalan surprise buat kamu.”

Aku hanya tertawa membaca pesannya. Sial. Sepertinya dia bisa membaca yang ada di benakku. Jika sudah begini, lebih baik aku diam dan mengikuti sarannya untuk tidur. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: