Skip to content

Cerpen: Since I Found You (2)

by pada 22 Desember 2013

Pengantar:  Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

(mynameisnia.blogspot.com)

(mynameisnia.blogspot.com)

Oleh Christina Ambarita

Aurina dan Rewis. Mereka hanya sepasang anak manusia, yang tak tahu tentang kisah mereka nantinya. Sebuah cinta yang telah mengalir dalam diri Aurina adalah cinta tulus yang tidak muncul begitu saja.

Bukan sekadar cinta yang mudah pupus bersamaan dengan hadirnya rasa jenuh, namun cinta Aurina tercipta karena waktu yang telah membawa mereka sejauh ini.

Harapan-harapan kecil tentang kebersamaan, keabadian, bahkan cinta sejati tak pernah absen dalam benak Aurina. Dan Rewis, tak ada yang tahu isi kepalanya dan segala imajinasinya.

Ia hanya sosok pria ramah yang memiliki banyak teman. Aurina salah satunya. Rewis tak pernah memungkiri pertemanannya dengan Aurina. Terkadang ia hanya bisa mengutuki dirinya, karena terlalu bodoh untuk tak menyadari keberadaan sosok gadis yang membuatnya nyaman saat bersama.

Nyaman untuk menjadi siapa dirinya. Nyaman untuk bertukar pikiran dengannya. Bahkan nyaman untuk berdebat dan bertengkar kecil, lalu berbaikan kembali. Rewis terlalu tak ambil pusing soal pertemanannya dengan Aurina.

Bahkan tak membiarkan hatinya berbicara, jika ia pun jatuh cinta pada sahabatnya. Rewis hanya seorang pria yang nyatanya masih mengingkari, tentang rasa yang menyeruak kala ia bersama Aurina.

Tentang detak jantungnya saat itu –jika bukan karena lagu Since I Found You, yang tak sengaja didengar dalam perjalanan menemui Aurina– ia tak akan pernah menyadari, jika hatinya memang telah jatuh pada Aurina.

*******

Seperti biasa, Houston masih sepi. Aku melongok ke arah jam tanganku. Hanya seperempat jam kuhabiskan di jalan untuk mencapai lokasi ini. Tak ada pesan singkat mampir di ponselku. Tak juga dari Rewis.

Ia belum mengabariku seharian ini. Aku hanya was-was, jika ia melupakan janjinya kemarin. Aku sudah hafal betul kebiasaan sahabat yang satu itu. Kadar lupanya, terkadang melebihi batas normal. Kuharap tidak, untuk kali ini.

Satu jam. Dua jam. Ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Jelas aku cemas. Pesan singkatku pun belum dibalas. Ia berhasil membuat mood­-ku berubah. Namun tetap saja, aku tak pernah bisa marah padanya. Entah mengapa.

Kulihat pengunjung kedai kopi ini semakin sepi. Aku paling tidak betah duduk di sebuah ruangan, hanya seorang diri. Berat hati kuputuskan meninggalkan Houston, tentu dengan rasa kesal yang menumpuk di dada.

Aku menumpuk rasa kesalku dengan merutuki bodohnya diri. Mempercayai Rewis yang serba pelupa dan tengah sibuk dengan segala tugas kuliahnya. Aku terlalu polos untuk menanti janjinya, yang tak pernah ia tepati. Janji untuk memainkan gitar dan bernyanyi di depanku.

Aku kesal dengan setiap perasaanku kepadanya yang sedikit pun tak pernah berkurang. Andai kau tau itu, Rewis. Andai kau tahu, betapa aku sudah banyak kecewa dengan setiap rasa yang kualami.

Makin kutepis semua ini, semakin aku sadar kalau aku telah jatuh terlalu dalam dengan perasaan yang ditopengi oleh status pertemanan ini.

*******

Ini sudah hari ketiga aku tidak bertemu dengan Rewis. Entahlah, ia menghilang. Sudah sekian kali menghilang, lalu muncul kembali seenak hatinya. Dan aku –masih dengan segudang maafku– bisa membuatnya merasa seakan tak berdosa atas tindakan itu.

Dengan langkah lemas, aku melangkahkan kaki menuju kelas Jurnalistik. Gedung kampusku masih sepi. Kelas Jurnalistik mengambil ruangan paling ujung, membuatku harus melalui koridor panjang yang agak gelap karena beberapa lampu tidak dinyalakan. Bahkan beberapa kelas kosong, belum terisi mahasiswa.

Deg.

Jantungku berdegup kencang. Aku menghentikan langkah, setelah mendengar suara itu. Suara yang sungguh tak asing di telingaku. Bukan suara teriakan seseorang yang tengah memanggilku. Namun, suara merdu diiringi petikan gitar. Ia memainkan lagu Since I Found You dengan amat indah. Aku menghentikan langkah dan mendapati sebuah siluet.

Aku bisa mengenalinya. Ya, siluet itu adalah sosok Rewis yang tengah menyanyikan lagu sambil memangku gitar. Ia tersenyum ketika melihatku datang, lalu melanjutkan permainan gitarnya.

Demi setiap cinta yang ada di hati ini, seakan ingin tersungkur melihatnya dalam posisi itu. Tubuhnya yang tinggi membentuk siluet indah, sambil memamerkan senyum yang membuatku mematung beberapa saat.

Melihatku diam, Rewis tak lantas menghampiriku. Ia justru meneruskan permainan gitarnya, hingga lirik terakhir. Aku masih tak percaya dengan yang terjadi saat ini.

Lagu pun habis. Tak ada suara musik lagi. Hanya diam. Kami berdua saling membisu. Kali ini isyarat yang berbicara. Sorot mata Rewis mampu membuatku tak berkedip, kala menatapnya. Ia melangkah perlahan menghampiriku. Kedua tangannya meraih tanganku. Ia menutup matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

“Aku sudah menepati janjiku, Aurina,” ujarnya.

“Janji apa?” tanyaku.

“Janji menyanyikan sebuah lagu, di depan seseorang yang kusayangi,” lanjut Rewis.

Itulah penuturan Rewis. Sebuah kalimat sederhana, yang membuatku bungkam seribu bahasa. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: