Skip to content

Kitakah Pembudaya Kemacetan?

by pada 24 Desember 2013

Oleh Febryantino Nur Pratama

Sadarkah kita, kemacetan seakan menjadi lumrah bagi hari hari kita? Terkadang kita frustasi terhadap kemacetan dan amat mengganggu bila sedang dikejar waktu. Apakah kita  tahu, sesungguhnya apa yang terjadi dengan kota ini?

Macet setiap hari –saat pagi atau sore hari– mungkin sangatlah biasa bagi kita yang beraktivitas di kota Jakarta. Kondisi ini dapat disebabkan oleh sikap tak terpuji kita yang membudaya, sebagai pengguna jalan yang tidak mematuhi peraturan lalu-lintas. Juga sikap egois kita, yang enggan menggunakan transportasi masal lantaran kualitasnya jauh dari baik.

Berbagai masalah memang terjadi di jalan raya. Antara lain, kurangnya petugas lalu-lintas yang mengawasi hingga persoalan teknis jalan. Dapat kita sebut misalnya permukaan jalan yang tidak rata maupun proyek galian kabel yang menyisakan gundukan tanah dapat mengganggu laju kendaraan.

Juga kurangnya perhatian pemerintah terhadap lebar jalan dan tidak adanya pembatasan jenis kendaraan. Malah terkadang para oknum sopir angkutan memperparah kemacetan, dengan ngetem sembarangan di pinggir jalan, ditambah para pedagang kaki lima yang berjualan melebihi bahu jalan.

Kemacetan lalu lintas di Jakarta amat memberikan dampak negatif bagi kita, seperti  bahan bahan bakar yang terbuang sia sia, terbuangnya waktu tempuh perjalanan, kerusakan lingkungan akibat polusi udara, hingga kerugian ekonomi Negara yang ditimbulkan oleh kemacetan.

Sebaiknya pemerintah tidak terlalu berpikir panjang. Segeralah ambil tindakan pasti, sehingga kemacetan dapat terurai. Di sisi lain, masyarakat harus menyadari betapa pentingnya kesadaran. Ambilah langkah dengan menggunakan transportasi umum dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk jarak dekat, sehingga dapat mengurangi kemacetan yang kian menyebar.

Harga kendaraan bermotor yang relatif murah dan mudah didapat serta meningkatnya status sosial, juga memberikan dampak lumayan besar dalam menyumbang kemacetan. Apakah mereka juga menyadari hal itu?

Sekarang seringkali kita lihat, hanya seorang yang berada dalam satu mobil. Bayangkan bila banyak orang seperti itu saat jam kantor yang bertemu di pintu tol atau persimpangan jalan, kemungkinan timbulnya kemacetan sangat besar. Belum lagi sumbangan macet, dari para pengendara motor yang kurang tertib.

Emosional para pengguna jalan di Jakarta tak terkendali, karena kemacetan itu sendiri. Budaya santun antar sesama pengendara pun hilang, bagai lupa akan akar bangsa kita yang terkenal sopan dan ramah. Seringkali sebagai pengguna jalan, kita melihat pertengkaran  yang terjadi akibat saling mendahului dan kurang toleransi.

Sebagai warga Negara yang baik, seyogyanya tidak berkontribusi terhadap kemacetan. Sudah seharusnya masyarakat ibu kota tidak bergantung sepenuhnya atas kendaraan pribadi, penggunaannya hanya pada waktu tertentu.

Juga bertoleransi tinggi di jalan, agar tidak terjadi saling menyerobot jalur dan tidak saling bersikut. Dengan demikian diharapkan, para pengguna jalan tidak emosi dan tetap bersabar.

Masyarakat kita tampaknya lebih mementingkan sikap hedonis dan egois, termasuk saat berada di jalan. Mereka merasa lebih penting memamerkan kendaran yang mahal, ketimbang memikirkan kemacetan yang dibuatnya.

Para pembuat kebijakan sudah sepantasnya lebih tegak, tegas, dan arif dalam menangani kemacetan, yang sudah merajalela dan meningkat kian kronis.

Jadi sampai kapankah kita tersadar dalam labirin kota yang semrawut ini? Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menyadarinya? Memulai dari diri sendiri dan dari hal yang kecil yang dapat menghindari kemacetan.

Semoga, kemacetan tidak menjadi budaya yang kekal di masa mendatang.

 

One Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: