Skip to content

Cerpen: Senja dalam Elegi

by pada 29 Desember 2013
(www.bekamsteriljakarta.com)

(www.bekamsteriljakarta.com)

Oleh Hanifah Muthmainnah

Rona selalu benci senja. Ia benci pada warna jingganya yang keemasan.  Ia benci pada ketenangan dan kesyahduan yang diciptakan senja. Ia benci, tatkala senja mengingatkan kepada seseorang yang dikasihinya dulu.

Bagi Rona, senja tak ubahnya seperti gurun pasir tandus. Rona terisak. Tidak tahu harus berapa lama lagi ia hidup seperti ini. Didekapnya sebuah foto yang telah usang, dipandanginya dengan syahdu sosok pria berpunggung tegap itu.

“Aku kangen, mas.. Apa kabarmu disana?” ucapnya lirih.

Tanpa sadar, pikirannya melayang ke masa tiga tahun silam. Saat semua masih berjalan sebagaimana mestinya.

********

“Rona, kamu tahu tidak,  ada dua hal yang sangat aku sukai di dunia ini?” tanya Rangga suatu saat, tatkala mereka berdua tengah asyik menikmati senja.

Rona menggeleng. “Apa itu, mas?.”

“Aku sangat menyukai senja dan kamu. Bagiku, kalian berdua sama indahnya. Aku suka pergantian warna langit, yang dihasilkan saat senja tiba. Aku suka suasana keharmonisasiannya. Aku suka, suka.. sekali. Dan kamu, sama seperti senja. Selalu membuatku tenang, kemudian hanyut di dalamnya,” ungkap Rangga tersenyum.

Rona tersipu. Ditahannya gemuruh yang tengah dirasakan. Ingin sekali rasanya Rona berlari, menerjang angin. Lalu, menghilang.

“Aku menyukaimu, Rona.. Tidakkah itu cukup?”

Rona menghela nafas panjang. “Kau bilang, kau menyukaiku? Tidak tahukah kau, apa artinya? Mengertikah kau,  kita tidak bisa melihat senja yang sama dalam jingga yang sewarna?” ucapnya sinis.

“Ya, aku tahu. Tetapi bisakah kita sedikit mencoba? Beri aku kesempatan untuk dapat bersamamu. Aku memang tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, percayalah, aku sungguh-sungguh menyukaimu.”

Rona memejamkan matanya. Ia tahu, ini salah. Ia tahu, ini tidak seharusnya dijalani oleh gadis seusianya. Tetapi, Rona tidak mampu mengelak cinta yang diam-diam dipersembahkan untuk laki-laki yang tengah menatapnya kini. Rona pasrah, hati nuraninya menyerah oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Apa benar ini cinta?

“Baiklah.. Aku akan mencobanya. Aku juga menyukaimu..” balas Rona parau, hatinya sakit.

“Benarkah itu, Rona? Benarkah itu?!” Rangga mengguncang-guncang tubuh Rona. Dipeluknya tubuh mungil itu.

“Asalkan bisa bersamamu, aku tak peduli seberapa sulitnya ini untuk dijalani..”

Dan, senja kala itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.

*******

“Adif mau main bom-bom car, Tante!” pekik Adif girang, tatkala Rona dan Rangga mengajaknya pergi ke taman hiburan.

Rona menjawil hidung bocah laki-laki berusia sembilan tahun itu. “Yuk, Adif mau Tante yang temenin atau Papa?” tanya Rona lembut.

“Tante aja, nanti biar Papa yang jagain tas kita” ucap Adif polos.

Rona terkekeh. “Oke, Jagoan. Pa, kamu jagain tas kita, ya..” ucap Rona sedikit meledek Rangga.

“Siap, Aunty!” cibir Rangga.

Kemudian ketiganya memasuki arena bermain. Rangga memandangi sosok Rona dan Adif bergantian. Tiba-tiba, perasaan bersalah itu muncul. Sebenarnya ia tak tega membiarkan Rona terjebak pada situasi seperti ini. Tetapi apa daya.. Lagi-lagi, cinta mengalahkan segalanya.

*******

12 Mei 2010

Aku menikmati hari-hariku kini.

Sebab ada dia, yang selalu ada tanpa harus ku minta. Aku takkan bertanya, kenapa baru sekarang. Aku takkan bertanya, kenapa harus dia. Kenapa harus dia, yang memelukku dan menggenggam tanganku erat.

Aku tak peduli, betapa sakit yang harus kutanggung. Tak peduli, berapa banyak air mata yang jatuh. Karena hanya dengan dia, aku terbangun dari mati suri yang ku nina-bobokan sendiri. Karena hanya dengan dia, segala sesuatunya ada, dan segalanya terasa benar.

*******

“Jadi, seberapa dekat kau mengenal suamiku?” tanya Bunga datar. Dipandanginya gadis belia awal 20 tahunan itu. Ia masih tidak percaya, gadis inilah penyebab kekacauan rumah tangga yang selama ini dijalaninya.

“Entahlah. Terkadang aku merasa sangat mengenalnya, tetapi aku tahu sebenarnya ia jauh”

Rona memejamkan matanya. Ia sudah tahu, akhir yang akan menantinya kini.

“Sudah seberapa jauh hubungan kalian? Sudah sampai ranjangkah?!” Terdengar penekanan dan nada kecewa, saat Bunga mengatakan ‘ranjang.’

“Jaga ucapanmu! Meskipun aku merebut suamimu, aku masih tahu batas! Lagi pula, hubungan kami sudah berakhir setahun lalu! Untuk apa kau menanyakan hal yang telah lama berlalu?” balas Rona sarkartis. Pedih juga rasanya dituduh sampai sejauh itu.

PLAKKK!!!. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rona. Ia terdiam, dirasakannya perih menusuk relung hatinya.

“Kau membuat rumah tanggaku hancur! Kau membuat hidupku berantakan! Dan kau masih bisa berkata seperti itu, heh?! Perempuan macam apa kau ini?!” bentak Bunga tak habis pikir.

“Bukan aku yang memulainya! Suamimu saja yang tak tahu diri! Sudah beristri dan mempunyai anak, masih nekat mendekatiku! Perempuan bodoh mana mau menerima lelaki, yang sudah berstatus seperti itu? Lebih baik aku mencari lelaki yang masih bujang! Tetapi apa daya, aku terlalu bodoh karena tidak bisa mengendalikan cinta yang begitu kuat kurasakan untuk suamimu!” pekik Rona. Bathinnya menjerit pilu.

Bunga menghela nafas. Ia tahu ada kejujuran disana.

“Kau merindukannya?” kali ini Bunga lembut.

“Ya, selalu..” desis Rona.

“Kalau begitu, ikut aku sekarang. Suamiku telah menunggumu,” ucap Bunga tergesa.

“Eh?!” Rona terheran-heran.

Dengan banyak tanda tanya, diturutinya saja keinginan ibu muda itu.

*******

Sejak lima bulan lalu, aku mencari-cari keberadaanmu. Selama itu pula, aku hampir putus asa. Aku takkan bisa tenang, sampai aku tahu wanita yang disebut dalam surat almarhum suamiku.

Awalnya aku benci, sangat membencimu. Tetapi, akhirnya aku sadar. Tak ada gunanya membenci orang satu-satunya, yang mungkin paling mencintai suamiku. Terimakasih telah menjaga anak dan suamiku, di saat aku tidak bisa melakukannya. Terimakasih, Rona..

Ucapan Bunga kala itu, selalu terngiang-ngiang di telinga Rona. Rona terisak. Dibiarkannya saja foto Rangga yang telah usang, basah oleh air matanya. Air mata kerinduan. Air mata kesakitan. Lelaki itu, Rangga, meninggal akibat kanker otak yang telah lama dideritanya.

*******

7 April 2013

Wahai wanita impian, apa kabarnya disana? Pernahkah sedetik saja kau mengingatku?. Aku disini selalu merindukanmu. Meskipun kita tidak lagi bersama, kau tetap menjadi wanita spesial yang datang di saat yang tidak pernah tepat.

Maafkan aku, yang tidak bisa menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Maafkan aku, yang tidak bisa menjadikanmu bidadari dalam istana kecilku.

Aku tahu, cerita kita tak akan berwujud nyata. Aku salah, membiarkan dirimu masuk begitu mudah ke dalam celah yang ada. Egoiskah aku? Jika yang ku inginkan hanyalah dirimu, meski telah bersamanya?.

Mungkin, aku yang serakah takkan mampu pahami: apa arti kata cukup mencintaimu, tanpa harus memiliki. Suatu hari aku akan menutup mataku, dan saat itulah titik terakhir aku mencintaimu…

R&R

*******

Sekali lagi, dipandanginya sosok Rangga dengan seksama. Dikecupnya penuh kasih, foto yang erat dalam genggamannya. Kemudian, dituliskannya syair dibalik foto itu.

Aku adalah kunang-kunang dan engkau adalah senja
Maka jadilah ku terbang
Dalam gelap kita menepi, dalam gelap kita bernyanyi
Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja
Maka jadilah kau terang
Dalam lelap kita berbagi, dalam lelap kita abadi

(Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: