Skip to content

‘Budaya’ Menyontek di Indonesia

by pada 7 Januari 2014
(www.kabarindonesia.com)

(www.kabarindonesia.com)

Oleh Fachrizal Hafiz

‘Budaya’ menyontek di Indonesia, sudah tidak tabu lagi. Malah dianggap sebagai kebiasaan yang wajar, karena tidak jelas hukumannya. Malah, sepertinya sudah terbiasa menyontek dengan bermacam cara.

Hukuman menyontek cuma diterapkan oleh Guru atau Dosen yang mengajar di kelas, tidak sepenuhnya dari sekolah. Tidak seperti hukuman merokok yang berat, mampu mengantisipasi pelajar atau mahasiswa untuk tidak melakukannya di lingkungan sekolah.

Misalnya dengan cara orangtua mereka dipanggil, agar siswa merasa malu dan sadar untuk tidak merokok lagi. Seharusnya hukum menyontek juga begitu, karena Guru mempunyai peranan penting untuk mengatasinya.

Ada dua jenis Guru di sekolah. Kebanyakan hanya menerapkan kepentingan dirinya semata, meski tetap terdapat yang benar-benar mempunyai idelisme anti menyontek. Walau tak jarang, demi kepentingan menjaga reputasi sekolah,  seolah malah menutup mata terhadap berbagai kecurangan yang terjadi.

Sepertinya budaya menyontek sudah menjadi trend di kalangan masyarakat, padahal tanpa disadari hal ini menjadi salah satu cikal bakal perbuatan korupsi. Manusia yang hidupnya penuh dengan menyontek, kreatifitas dalam dirinya bakal terhambat. Apalagi dilakukan sejak dini, akan menambah rusaknya diri seeorang. Penuh dengan rasa malas, putus asa, dan tidak bertanggung jawab.

Semua yang diraihnya tidak halal, karena kecurangan dan kelicikan yang dilakukan. Yang lebih parah adalah reputasi diri menjadi buruk di mata masyarakat, sedangkan baiknya tidak ada sama sekali, malah hanya membuat kita semakin terperosok ke dalam kebodohan.

Bermacam-macam cara yang dilakukan untuk menyotek, yang menunjukkan betapa kreatifnya anak bangsa dalam hal menyontek. Di mana moral kita sebagai anak bangsa yang berpendidikan tinggi?

Penyebab menyontek adalah tidak belajar. Banyak siswa yang tidak belajar, mengaku ‘lupa’ atas materi yang diberikan. Begitulah yang paling umum dijadikan alasan, kalau soal tidak terjawab dengan baik dan mendapat nilai jelek.

Selalu menyontek kian menambah kurangnya percaya diri. Rasa tidak yakin dan ragu-ragu terus menghantui, karena seolah terikat dengan hasil orang lain. Pengawasan longgar saat mengerjakan soal, menjadi faktor pendorong untuk menyontek.

Kesadaran Guru dan sekolah harus ditingkatkan melalui pengawasan yang ketat, agar siswa takut melakukannya. Guru yang tegas akan siap memberikan sanksi, jika ada yang menyontek. Selain itu, banyak solusi yang dapat dicoba. Seperti peran orangtua, menjadi paling utama.

Kewajiban orangtua agar anaknya tidak menyontek, harus terus diterapkan dalam berbagai cara. Jikalau anak akan mengikuti UN di sekolah, selalu ingatkan agar tidak menyontek. Terpenting, biasakan anak belajar di rumah. Selalu tegur, jika anak mulai menganggap remeh pelajaran.

Guru dan sekolah harus saling bekerja sama dalam memberantas kebiasaan menyontek ini. Guru harus memperingatkan siswanya, memberi nasehat dan motivasi. Sekolah juga harus mempersiapkan  hukuman bagi siswanya yang melanggar peraturan ini.

Munculkan kesadaran, kalau budaya menyontek hanya merugikan. Dengar nasehat dari orangtua, teman, dan guru di sekolah. Selalu intropeksi diri, karena menyontek bisa menjadi kebiasaan yang berdampak pada kerugian jangka panjang. Tentunya hal ini akan sangat buruk, bagi siapa saja yang melakukannya.

Kehidupan sosial menjadi buruk, karena teman sekolah yang dulu bakal terus mengingat kelakuan kita. Terus dibawa-bawa dan diceritakan ke temannya yang lain dalam obrolan. Malu. Belum lagi akibat selalu percaya pada orang lain, boleh jadi suatu saat dia akan menyesatkan kita. Akibatnya, gampang kena tipu.

Terakhir, mereka yang menyontek akan menjadi generasi yang gagal. Bagaimana tidak, karena kelak selalu menjadi pecundang di hari tua. Tidak bisa hidup mandiri. Tidak mau berusaha mendapatkan pekerjaan dan bakalan menjadi pengangguran.

Jadi, menyontek hanyalah perilaku yang buruk dan menyesatkan. Jika tidak bisa melepas kebiasaan itu, bersiaplah menjadi pecundang sejati yang hanya mengandalkan orang lain. Ujung-ujungnya, akan menjadi budaya yang tertanam di bangsa ini.

‘Budaya’ menyontek sama saja dengan menghancurkan bangsa ini, secara perlahan tapi pasti.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di KabarIndonesia.com pada 29 Desember 2013 pukul 02.12 WIB. (http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Budaya+Menyontek+di+Indonesia&dn=20131227201117)

From → Feature

2 Komentar
  1. Nyontek adalah awal dari korupsi,,

  2. Nice artikel.
    Saya sejujurnya sewaktu sekolah juga menyontek, mungkin karena lingkungan. Pas SD murni, SMP-STM mulai tertular.

    Namun menyontek harus dihilangkan kala kuliah, karena kuliah adalah sekolahnya orang dewasa yan sudah bisa benar-benar berfikir tanggung jawab. Kalau kuliah masih saja menyontek, status MAHAsiswanya sungguh memprihatinkan.

    Siapa yang bertanggung jawab terhadap kesalahan massal menyontek ini? kita semua..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: