Skip to content

Cerpen: 48 Kilometer (1)

by pada 11 Januari 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(chillinaris.blogspot.com)

(chillinaris.blogspot.com)

Oleh Aniza Pratiwi

Sinar mentari menembus kerai butut yang berdebu. Bak ribuan cahaya menyerbu bola matanya. Kemarin malam, aku bermimpi tentang indahnya kebersamaan. Yang kini rupanya telah menusuk tulang rusukku.

Sepuluh tahun sudah lelaki itu meninggalkan diriku. Ia titipkan seonggok daging tak berdaya di dalam tubuhku, yang sekarang rasanya begitu menyakitkan. Bukan cuma menusuk hati, tapi juga menendang tulang rusukku. Ingin rasanya aku melempar seonggok daging itu keluar dari hidupku. Keluarkan daging itu dari hidupku. Aku benci!

********

Bola matanya memutar, seperti sedang mencari titik fokus. Tangannya meraba, seakan mencari pegangan yang kuat. Tubuhnya gemetar, seolah ada bahaya yang menghantui. Ah, aku tak peduli. Sangat tak peduli.

Seonggok daging itu, telah menjadikan setiap detik hidupku menderita. Setiap senyumku, berubah menjadi masam. Sepuluh tahun yang lalu, Ryan, lelaki yang tak bertanggung jawab, mengubah segala takdir indah dalam hidupku.

Ia yang menjanjikan semua berakhir indah, namun bukan keindahan yang aku dapatkan. Hanya rasa pahit, penderitaan, penghianatan, juga penghinaan yang menemani setiap langkah hidupku. Ah, semenjak saat itu aku tak pernah percaya dengan cinta, kebersamaan, dan kesetiaan. Sekarang ia hanya meninggalkan bekas luka yang teramat dalam. Bahkan, aku tak pernah tahu keberadaan dia semenjak hari itu.

Seonggok daging itu memutar leher, mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku tak pernah memandangnya lebih dari 20 detik. Rasanya aku tak tahan melihat mata, wajah, dan raungannya. Bukan karena kasihan, sama sekali tidak. Melainkan karena benci yang membara di hati. Aku tahu, ia tidak bersalah. Sedikit pun ia tidak ikut andil dengan penderitaan yang kualami, tapi dia merupakan buah yang akan menghambat kehidupanku ke depan.

Tanpa berpikir panjang, menarik seonggok daging itu (aku tak pernah menyebut namanya). Tak peduli ia menangis, mengais-ngais meminta pertolongan, bahkan meraba-raba sekitarnya untuk melarikan diri. Aku meraih tangan kecilnya, lalu membawanya menjauh dari rumah.

*******

Di sana, kali pertamanya aku melihatmu. Di persimpangan jalan. Pria bertubuh tegap dan memiliki mata setajam elang. Saat itu juga aku terpikat, oleh seribu pesona yang kamu miliki. Entah apa yang berhasil menyita pandanganku, aku tak bisa lepas memandangmu sedetik pun. Sambil memandang tubuhnya yang tegap, perlahan namun pasti langkahku menuju ke arahnya.

Sambil mengendap-endap di antara wanita lain, aku berhasil memperkecil jarak dengannya. Sampai akhirnya berada di sampingnya. Aku tahu, aku adalah wanita yang tak pantas dilirik keberadaannya. Aku kotor.

Lebih kotor dari yang orang  pikirkan. Setiap malam merajai bumi, aku keluar memberanikan diri memikat para lelaki yang haus akan hawa nafsunya. Pagi hari aku berdiam diri di rumah. Menyesali perbuatan semalam.

Namun esok, lusa, pekan selanjutnya, bahkan bulan demi bulan, kembali kuulangi lagi pekerjaan kotor itu. Demi apa? Demi sesuap nasi. Demi rasa lapar yang mengusai perut. Ah, terkadang aku tak memikirkan akibat yang ditimbulkannya.

Terkadang aku tak peduli dengan pekerjaan kotor ini. Terkadang aku senang, siapa pula yang dapat memberikan uang banyak dengan waktu singkat? Rakyat kecil seperti aku, tak pernah dipandang besar. Dipandang? Bahkan, dilirik saja tak pernah. Jadi, buat apa aku menyesali perbuatan ini?

Semakin aku dekat dengan lelaki itu, semakin rasa ingin tahu ini meledak. Siapa kamu? Apakah kamu sedang mencari wanita, macam aku? Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin lelaki yang terlihat berpendidikan dan berpenampilan rapi  serta memiliki wajah tampan, datangke sini mencari kepuasan semata.

Sedetik kemudian ia menoleh ke arahku, “Hai, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”

Aku terpana, tak dapat langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.

“Hallo.. Mbak, apakah aku boleh menanyakan satu hal padamu?” tanyanya lagi.

Kali ini ia lebih mendekatkan diri ke hadapanku.

“Iya, boleh. Mau tanya apa?” jawabku gugup.

“Aku Ryan, kamu siapa? Mau tidak, menemaniku malam ini?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya.

“Aku Marisa. Tentu saja boleh,” jawabku dengan menyinggungkan senyum tipis.

Di bawah taburan bintang dan bisingnya kota metropolitan inilah, kali pertamanya aku menaruh hati pada pelangganku.

*******

Tangan kecil itu terus menggeliat, sepertinya ingin melepaskan pegangan dari gengamanku. Aku menarik dan memegangnya tambah keras dan kencang. Sambil membawa sebuah tas di lengan tangan kananku, aku berusaha menenangkan seonggok daging itu. Bukan menenangkan dengan rasa kasih sayang, namun dengan paksa. Sesekali aku menyubit lengan kecilnya.

Tak jarang mata dan mulut para tetangga megomentari kami berdua. “Kejamnya dia, tak sabaran menghadapi anak kecil. Entah apalagi yang akan dilakukannya kepada anak sekecil itu. Kasihan.”

Aku mendengar, amat mendengar ocehan para tetangga, Namun, tak sedikit pun aku menghentikan ;langkahku.

Tekadku sudah bulat, ingin membuang seonggok daging pembawa sial ini. Cukup, sudah cukup ia menyiksaku sepuluh tahun lamanya. Aku tak tahan lagi. Di persimpangan jalan, aku memberhentikan angkutan umum yang akan membawaku ke stasiun kereta api.

*******

Semenjak malam itu, aku sering bertemu dengan Ryan. Ia bukan sebatas pelangganku. Pelanggan yang akan pergi setelah nafsunya terpenuhi. Ryan berbeda dari yang lain. Ia selalu menemuiku setiap malam, mengajakku makan malam, bersenda gurau. Bahkan kencan, layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara.

Aku paham, kalau Ryan sudah memiliki keluarga. Memiliki istri dan satu orang anak, Ryan sendiri yang menceritakannya padaku. Namun –entah apa yang terpikir– aku menaruh hati padanya. Lebih dari pelanggan lainnya. Sepertinya, aku mulai jatuh cinta pada lelaki kelahiran kota metropolitan ini.

“Berhentilah menjadi wanita malam seperti ini. Aku akan merawat dan membiayai hidupmu, Mar,” katanya sambil memandangku.

Aku kaget mendengar tawarannya. Belum ada yang pernah menjanjikan seperti itu. Biasanya para pria mendekatiku hanya untuk melampiskan nafsu dan memperoleh kepuasaan semata. Tapi dia?

Baru sebulan lamanya aku mengenalnya. Ia sudah memiliki keluarga yang utuh, bagaimana dengan keluarganya? Apa ia akan mencampakan begitu mudahnya?

Seakan dapat membaca semua pikiranku, Ryan menggengam jemariku sambil berkata, “Kalau kamu kuatir dengan keluargaku, tenang saja, Mar. Aku akan menceraikan istriku. Sebenarnya sudah lama aku tak tahan dengan perilaku istriku. Ia hanya bisa mengeluh dan mengeluh tentang keadaanku. Jadi, maukah kamu menerima tawaranku, Mar?”

Kali ini aku benar-benar terperanjat mendengar kata-katanya. Bagaimana bisa, seorang pria baik seperti ini, mencampakan keluarganya begitu saja? Namun, bagaimana bisa aku menolak tawaran emas seperti ini? Sudah belasan tahun aku menggoda pria yang haus akan nafsunya belaka. Saat ini, ya, saat ini aku harus membebaskan beban yang selama ini aku pikul. Hidup tenang, nyaman, dan tentunya Ryan selalu mendampingi di sisiku.

“Iya, Mas, aku mau berhenti dari pekerjaan ini,” jawabku dengan senyum tipis.

“Bagus, pilihan yang tepat,” katanya sambil membelai rambutku.

“Tapi, kita pindah saja dari kota ini. Hitung-hitung membuang kenangan lama kamu dengan semua pekerjaan kotor ini. Hem, kita pindah ke kota Bogor saja, bagaimana? Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari sini. Hanya 48 kilometer,” tanyanya kembali.

Aku hanya tersenyum dan mengganguk mendengar tawarannya kali ini. Akhirnya, aku akan lepas dari kehidupan kotor. Ternyata Tuhan memang ada.

*******

Laju kendaraan ini rupanya lebih cepat dari yang aku kira. Hanya setengah jam, aku sudah sampai di depan stasiun yang kutuju. Dengan sigap, aku turun dari angkutan umum. Tentunya masih sambil menggengam tangan si pembawa sial, takut-takut ia kabur.

Aku memesan dua tiket menuju Jakarta. Ya, Jakarta, kota tempat kali pertamanya aku bertemu dengan Ryan. Lelaki tak tahu malu dan penggobral janji itu.

Rupanya keadaan sedang memihakku. Belum lama aku duduk menunggu, kereta yang ingin kutumpangi datang. Segera aku naik, tak sabar rasanya ingin membuang seonggok daging ini. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: