Skip to content

Cerpen: 48 Kilometer (2)

by pada 12 Januari 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.lokal-zone.com)

(www.lokal-zone.com)

Oleh Aniza Pratiwi

Rupanya Ryan berkata dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar menepati janjinya,  membawaku jauh dari kota seribu cahaya –seribu dosa mungkin— ini. Pukul 10 pagi, kami berangkat menuju Bogor  menggunakan kereta api.

Kebahagiaanku tak dapat disembunyikan, sesekali kusunggingkan senyum tipis ke arah lelaki tampan itu. Seperti mengerti perasaanku, ia menggengam erat jemari tanganku dan menciumnya. Sungguh, bahagianya perasaanku.

Sudah 48 kilometer meninggalkan  Jakarta, sampailah kami di Bogor. Kota Hujan, begitu kebanyakan orang menyebutnya. Rencana pertama kami, menyewa kontrakan. Tak apalah kecil, yang penting bisa tetap bersama Ryan.

Masalah keluarganya Ryan? Aku tak begitu memusingkannya. Sepekan sebelum kepergian kami, Ryan sudah menceraikan istrinya. Mungkin bukan secara hukum, namun secara agama mereka sudah dapat dikatakan bercerai. Ryan sendiri yang menceritakan semuanya padaku.

Aku percaya saja, Ryan merupakan pria yang selalu jujur di mataku. Dia juga janji menikahiku dalam waktu secepatnya. Tentu pernikahan siri yang aku dapat nantinya. Namun apapun bentuk pernikahan itu, aku tidak peduli. Yang penting, aku bisa hidup bersama Ryan.

*******

Perjalanan ini bagai memutar balik memori yang pernah terjadi di masa lalu. Genggaman tangan, senyuman manis, dan kata-kata indah seolah berulang di hadapanku. Kereta, perjalanan, dan suasana yang sama. Ah, tidak sama. Dahulu aku sangat bahagia menempuh perjalanan 48 kilometer ini, sekarang? Tak ada setetes kebahagiaan pun yang terbesit di hatiku.

Sesekali seonggok daging itu menatapku. Menatap penuh tanya. Bola matanya memutar, melihat sekelilingnya. Jemari tangannya meraba lengan kananku. Beberapa detik aku melihat ke arahnya, namun sekejap kemudian aku telah melemparkan pandanganku ke luar.

Mata itu mengingatkanku pada lelaki yang telah melukai, bahkan memperburuk kehidupanku. Sentuhannya memutar lagi memori masa lalu, sentuhan yang sama juga dilakukan Ryan.

Kenangan ini, mungkin lebih tepatnya melemparkan tubuhku ke masa lalu. Kali ini aku membiarkan seonggok daging itu memegang erat lenganku. Hitung-hitung sebagai salam perpisahanku.

*******

Sudah tiga minggu lamanya aku tinggal satu atap, berdua dengan Ryan. Kebahagian, kemesraan, dan kebersamaan aku dapatkan. Namun, satu hal yang aku belum dapatkan: pernikahan.

Ya, pernikahan yang dijanjikannya. Memang pernikahan hanya simbol dari ketulusan seorang Ryan. Toh, sebelumnya, kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri yang sah menikah.

Untuk kami, pernikahan tidaklah penting. Jika mau, kami bisa melakukan hubungan suami istri kapan saja. Tetapi, aku hanya ingin Ryan menepati janjinya kepadaku. Hanya itu.

Setiap kali aku menanyakan kepada Ryan, ia hanya menjawab, “Kamu sudah tidak percaya lagi denganku? Aku akan bertanggung jawab, jika terjadi apa-apa dengan dirimu. Tanpa menikah pun, aku akan tetap setia di sampingmu.

Sehari, sepekan, bahkan sebulan, janji itu tak kunjung datang. Sampai akhirnya ku dapati diriku hamil. Usia kandunganku sudah menginjak 3 minggu rupanya.

Namun apa yang terjadi saat aku memberitahukannya pada Ryan? Ia memaki, menghardik, menampar, dan mendorongku. Sungguh ironis, sebulan lalu ia bersikap begitu baik padaku, berjanji akan menanggung ini semua.

“Aku tak mau memiliki keturunan! Kamu tahu? Sejak awal aku hanya ingin memuaskan nafsuku semata. Kamu pikir aku akan setia kepadamu? Tidak Marisa. Aku sama, seperti semua pria yang menunggumu di pinggir jalan. Pria yang haus akan nafsu belaka!” pekiknya mengagetkanku.

“Sekarang kamu sudah hamil. Tidak menyenangkan lagi, sepertinya. Mulai sekarang, urus diri kamu sendiri,” hardiknya lagi, sambil meninggalkanku sendiri di rumah kontrakan.

Aku menangis. Menangis sendirian, menyesali keadaan ini. Keadaan yang lebih buruk, daripada masa-masaku menjadi wanita malam. Sekarang apa yang harus kuperbuat? Ya, aku harus mengugugurkan kandungan ini.

Aku pergi ke apotik terdekat, membeli beberapa obat keras untuk mengugurkan kandungan. Namun, tidak berhasil. Janin ini tetap berada di rahimku, begitu jawab bidan yang kudatangi.

Sudah berbagai cara aku lakukan untuk melepaskan janin ini dari rahimku, tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan terakhir kali saat memeriksakan ke  bidan, kandunganku dalam keadaan normal. Ya Tuhan, apakah ini takdirku?

*******

Akhirnya perjalanan yang panjang itu berakhir sudah. Aku turun dari kereta dan menuju tempat kali pertama aku bertemu dengan Ryan. Seonggok daging itu tetap menuruti yang aku perintahkan. Dia hanya diam, sesekali memutarkan bola matanya.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat kali pertama bertemu dengan lelaki pembual itu. Tempat ini seakan menjadi saksi bisu, atas yang selama ini aku lakukan. Menggoda, sampai menjadi simpanan pria hidung belang.

Tiba-tiba langkahku terhenti, saat melihat sosok yang tak asing lagi bagiku. Badannya masih tegap dan wajahnya tetap tampan, walaupun terdapat beberapa kerutan dan warna rambutnya yang mulai memudar. Matanya –mata yang dimilikinya– sama persis dengan mata Ryan! Ya, itu Ryan!

*******

Sudah habis akal aku mengugurkan kandungan, tetap saja ia berkutat di dalam rahim. Terpaksa, aku pertahankan janin pembawa sial ini. Sampai akhirnya setelah 9 bulan lamanya, ia keluar melalui proses persalinan normal seperti anak-anak lain.

Namun yang membedakannya dari anak lain, ia tidak menangis saat dilahirkan. Bidan yang membantu proses persalinanku sempat bingung dibuatnya. Beberapa menit kemudian, barulah ia menangis.

“Selamat, Bu. Bayinya perempuan. Akan diberi nama apa, Bu?” tanya Bidan.

Padahal, aku sangat tidak suka dengan kehadiran bayi itu. Dengan acuh aku menjawab, “Tiara.”

Akhirnya aku mengasuhnya. Mengasuh dengan penuh rasa amarah, tak jarang aku membentak dan memukulnya. Ketika umurnya menginjak 2 tahun, cara bicaranya aneh: seperti orang bisu. Tangannya menekuk dan bola matanya tidak dapat fokus melihat sekitarnya.

Setelah aku periksakan ke dokter, ternyata Tiara mengalami kecacatan. Ia tidak sepenuhnya dapat berbicara, matanya juga tidak dapat melihat sejernih mata anak lain. Tangannya tidak terbentuk secara sempurna, Tiara mempunyai tangan yang agak membengkok. Yang lebih mengenaskan,  semua itu disebabkan obat-obatan keras yang kuminum selama kehamilan.

*******

Aku mendekati Ryan. Semakin dekat dan dekat, ternyata ia sedang merayu perempuan. Ah, rayuan lama yang dilontarkan padaku, puluhan tahun silam. Aku marah, sangat marah dengannya. Aku menarik lengan besarnya. Ia terperanjat melihatku.

“Hey! Lelaki pembual, apa kabar? Sudahkah kamu mendapatkan mangsa hari ini?” Sepertinya, ia sedikit geram dengan teriakanku.

“Siapa kamu? Berani sekali menarik dan meneriaki aku begitu? Oh, aku tahu, kamu mau aku temani hari ini?” katanya sambil tertawa.

PLAK.. Aku menamparnya.

“Aku Marisa! Perempuan yang kamu tinggalkan di kota Bogor, sepuluh tahun silam. Ingatkah kamu? Perempuan yang kamu larikan 48 kilometer dari kota ini.”

Ia terperanjat mendengar pengakuanku. “Marisa? Apa benar kamu Marisa? Dan ini siapa?” tanyanya saat melihat Tiara.

Ah, aku lupa memperkenalkannya. Ini anak kamu! Darah daging kamu. Dan sekarang, aku ingin kamu tanggung jawab atas semua ini!”

Ternyata Ryan tidak terima aku perkenalkan Tiara. Ia menamparku, kali ini lebih keras dari sepuluh tahun yang lalu.

Aku terjatuh, Tiara pun ikut tersungkur. Kali ini Ryan benar-benar berusaha membunuhku. Ia mendorong tubuhku, hingga tak berdaya. Satu kali pukulan, aku masih bisa bertahan. Dua kali hingga  tiga kali, aku merasa tubuh ini sangat lemas. Aku tak bisa bertahan lagi.

Namun saat Ryan berusaha menamparku lagi, tangan kecil itu berusaha mencegahnya. Kemudian ia menuju ke hadapanku. Akhirnya, tubuh kecil itu yang menerima pukulan demi pukulan yang dilakukan Ryan.

Tubuhnya yang ringkih, rupanya tidak kuat menahan pukulan lebih lama. Akhirnya ia jatuh tersungkur di hadapanku.

“TIARA!” jeritku histeris tanpa sadar. Oh, itu merupakan kali pertama aku memanggil namanya.

Ia tersenyum dan menjawab lemah, “IBU..”

Aku tak kuasa menahan emosi yang meluap dari hati ini. Aku mengambil bongkahan batu besar dari pinggir jalan, lalu menghantamkannya tepat di belakang kepala Ryan. Darah segar keluar dari tengkuknya. Ryan akhirnya tumbang.

 Aku segera mengambil tubuh kecil Tiara. Ia sudah tak bernafas lagi. Ia meninggal, demi mempertahankan diriku yang berdosa ini. Di tempat kali pertama aku menjajakan tubuh demi sesuap nasi, Tiara rela mengorbankan tubuhnya demi wanita yang tak pantas dipanggil Ibu.

Ya, sekarang aku benar-benar sudah membuang seonggok daging itu. Seonggok daging yang telah menyengsarakan hidupku. Seonggok daging yang telah menyelamatkan hidupku. Ya, seonggok daging itu yang meninggal tepat 48 kilometer dari tempat kelahirannya.

*******

Sekarang aku hidup sendiri lagi. Di bawah pengawasan ketat, meski di sini hidupku lebih nyaman dan teratur. Di dalam jeruji besi yang memisahkanku dengan dunia luar.

Namun, setidaknya di sini aku bisa menebus dosaku pada Tiara. Dia, seonggok daging yang telah menyelamatkanku.. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: