Skip to content

Mengubah Paradigma Politik

by pada 14 Januari 2014
(penakampusbogor.wordpress.com)

(penakampusbogor.wordpress.com)

Oleh Uswatun Nisa

Politik itu kotor. Begitulah kebanyakan orang menilai politik. Bahkan banyak ummat muslim saat ini memiliki paradigma seperti itu, menganggap politik sesuatu yang tidak diperlukan dalam agama.

Perlu kita ketahui, ternyata pemikiran ‘politik itu kotor’ adalah mitos yang sengaja digembar-gemborkan untuk menghancurkan mentalitas politik ummat Islam sehingga enggan menjamahnya. Padahal politik menjadi sarana dakwah, yang strategis untuk mewujudkan kepentingan ummat.

Kekeliruan dalam menilai politik, bisa jadi dikarenakan kurang luasnya pemahaman kita. Dulu saya pun tak mengerti, jika bertemu kata ‘politik’ yang langsung terpikirkan hanyalah partai. Dan kebanyakan orang menganggap, partai sebagai tempat untuk memperebutkan kekuasaan semata.

Namun setelah mempelajari lebih dalam, saya menyadari betapa sempit pemikiran saya tentang politik.

Jadi, apa sebenarnya politik?

Politik secara bahasa artinya kebijaksanaan, siasat, atau cara bertindak. Sadar atau tidak, dalam setiap kehidupan kita sedang berpolitik. Ketika kita lapar lalu berusaha mendapatkan makanan dengan memasak  atau saat belajar bersama untuk ujian, sesungguhnya saat itu kita sedang berpolitik.

Karena saat itu kita sedang bersiasat, bertindak, mengatur strategi untuk bisa mendapatkan yang diinginkan. Artinya, sebenarnya kita semua adalah seorang politisi.

Lebih tepatnya, politisi dalam arti luas. Karena dalam arti sempit, politisi memang dimaknai banyak orang adalah ketika seseorang mengikuti politik yang tersedia dalam institusi negara. Seperti, lewat partai politik, ormas, atau LSM.

Jadi, pada dasarnya, setiap kita adalah politisi dalam arti luas. Pilihan-pilihan salurannya bisa berbeda. Bisa di partai politik, LSM maupun ormas. Atau mungkin hanya di arisan ibu-ibu, warung makan, kelompok belajar, maupun klub olah raga.

Lalu, apa hubungannya dengan dakwah Islam? Mengapa seorang Muslim harusnya ‘melek’ politik? 

Jika di awal tadi saya menulis kalau politik sebenarnya menjadi sarana dakwah yang strategis untuk mewujudkan kepentingan ummat, beberapa alasannya sebagai berikut:

Dakwah menyeru kepada kebajikan dan mencegah keburukan. Sedang politik adalah kebijaksanaan, strategi atau cara bertindak. Dilihat dari artinya, dakwah dan politik tidak dapat dipisahkan.

Untuk mengajak orang mengerjakan kebaikan, menciptakan keadilan, menjadikan musuh takluk dan membangun kembali kepemimpinan Islam –semua ini adalah bagian dari tujuan dakwah, juga politik– membutuhkan cara dan strategi agar dapat tercapai.

Pada masa Rasulullah SAW pun terjadi perpolitikan. Setiap peperangan yang terjadi di masa itu, dilaksanakan dengan strategi dan kebijaksanaan.

Masih ingatkah kisah perang Khandaq? Pasukan musuh ketika itu berencana mengepung umat muslim di Madinah dan akan menyerang secara tiba-tiba. Namun, rencana itu terdengar oleh kaum muslimin, sehingga Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatur strategi.

Salah seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi  berkata, “Wahai Rasulullah, Dulu ketika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitarnya.”

Usulannya merupakan langkah bijaksana yang belum dikenal orang-orang Arab. Karenanya Rasulullah dan para sahabat segera melaksanakan rencana tersebut, menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Itulah salah satu bentuk kebijaksanaan dan strategi, yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat.

Masih banyak lagi peperangan dan aspek kehidupan di zaman Rasulullah yang tidak lepas dari politik. Seperti perang Mu’tah, perjanjian Hudaibiyah dan lain lain. Lebih banyak lagi didapat kisah-kisahnya dengan membaca Siroh Nabawiyah.

Bagaimana dengan politik partai atau kekuasaan, yang saat ini banyak diragukan dan enggan dijamah?

Perlu digarisbawahi, politik Islam berpihak pada kebenaran. Memang tak semua perpolitikan dilakukan dengan baik. Karena itu, banyak ditemui hal-hal buruk mengenai politik kekuasaan ini.

Nah, jika kita melihat sendiri banyak orang yang mencari kepentingan di luar Islam untuk dapat menduduki kekuasaan, apakah akan diam saja? Persoalannya, apakah kita mampu mengubah kebijakan mereka dengan status ‘rakyat biasa’?

Jika memang politik partai maupun kekuasaan adalah strategi dan cara yang harus diambil untuk mencapai kemenangan dakwah serta mewujudkan cita-cita ummat, maka hal itu manjadi wajib.

Sebagaimana menurut kaidah ushul fiqh, “Apabila suatu kewajiban tidak dapat dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya sesuatu yang lain, maka pelaksanaan sesuatu itu hukumnya juga wajib.”

Karena mewujudkan cita-cita ummat dan menciptakan kemashlahatan ummat adalah suatu kewajiban, maka cara politik partai dan kekuasaan menjadi wajib. Tanpa terjun ke pemerintahan, kita tidak bisa mengatur kebijakan dan hukum di negara ini.

Kita bisa lihat beberapa penjelasan beberapa ulama tentang hal ini. Menurut Ibnu al Qoyyim, “Politik adalah aktifitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan, walau pun belum diatur oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun belum membicarakannya.”

“Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu bertentangan dengan yang dibicarakan syariat. Justru politik yang adil bersesuaian dengan syariat, bahkan menjadi bagian elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya politik, karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Jadi, setiap cara apa pun yang dapat melahirkan keadilan, itu menjadi bagian agama dan tidak bertentangan dengannya.

Sedangkan menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna, “Sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya, kecuali jika ia politisi. Pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan ummatnya, memperhatikan, dan menginginkan kebaikan.”

Dengan kata lain, Syumuliatul Islam menuntut amal politik. Sehingga seorang muslim harus ‘melek’ politik. Jangan sampai terbawa mitos dan menjadi ragu terhadap politik, karena mitos itu bisa jadi sengaja dibuat agar ummat Islam ragu untuk berpolitik.

Mereka yang di luar Islam ingin membuat kaum muslimin tidak memikirkan masyarakat, bahkan dirinya sendiri. Mereka menjadikan kita sebagai orang-orang yang menerima saja atas kezaliman, kepemimpinan yang tidak adil, dan ketertindasan yang menimpa diri.

Seorang muslim yang baik, tidaklah memisahkan antara Islam dan politik. Ia tidak terdoktrin dengan mitos ‘politik itu kotor’. Karena sesungguhnya setiap kita adalah da’i dan setiap da’i adalah politisi. Kita dituntut terampil dalam mengatur strategi, cara dan metode yang tepat, dalam menyampaikan kebaikan pada seluruh lapisan masyarakat.

Wallahualam bisawab..

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di Dakwatuna.com pada 7 Januari 2014 pukul 22.30 WIB (http://www.dakwatuna.com/2014/01/07/44421/mengubah-paradigma-politik/#axzz2qF6k8Nzx)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: