Skip to content

Kemana kah Lagu Anak?

by pada 1 Februari 2014
(haris-info.blogspot.com)

(haris-info.blogspot.com)

Oleh Arif Ramdhani

Apa Anda masih ingat lagu “Anak Gembala” atau “Libur Telah Tiba” atau “Menanam Jagung” dan ratusan lagu anak-anak yang lainnya?

Semua pasti masih ingat lagu yang bertemakan anak-anak, seperti yang dibawakan Tasya, Joshua, Sherina, Tina Toon, maupun Chiquita Meidy. Namun, apakah anak-anak zaman sekarang ingat lagu tersebut?

Ironis, hampir sebagian anak kecil tidak tahu lagu tersebut. Di zaman sekarang, kebanyakan anak malah menghafal lagu bertemakan cinta. Berbeda pada tahun 90an, ketika lagu anak-anak sangat hits. Namun sekarang, penyanyi anak-anak tidak sebanyak saat itu.

Nyaris di setiap acara musik, penyanyi berbentuk grup semisal girl band, boy band, dan masih banyak lagi. Mereka membawakan lagu bertemakan cinta, sehingga anak-anak yang masih di bawah umur pun menghafalkannya.

Bahkan anak-anak pengamen jalanan menyanyikan lagu dari band-band ternama, yang juga bertemakan cinta. Meski terdengar juga lagu ciptaan sendiri, tapi tetap saja bukan bertemakan anak-anak.

Hal yang sangat menyedihkan, ketika saya mendengar seorang pengamen cilik menyanyikan lagu Geisha berjudul “Lumpuhkan Ingatanku.” Sungguh tidak dapat dimengerti, mengapa anak-anak menyanyikan lagu yang yang belum pantas untuk usianya?

Apakah karena lagu anak-anak tidak bisa hits, seperti lagu bertemakan cinta? Atau anak-anak memang lebih suka menyanyikannya, karena lebih sering didengar?

Mungkin karena lagu anak-anak sulit di hafal, sehingga anak-anak maupun pengamen cilik pun lebih menyukai lagu-lagu bertemakan cinta yang kerap ditayangkan televisi maupun radio. Sangat sulit agaknya, jika meminta anak membiasakan mendengar lagu yang pantas untuknya.

Di sinilah orangtua sangat berperan penting, mengajarkan mereka lagu-lagu yang bertemakan anak-anak. Tidak pernah menyetel lagu yang belum pantas diperdengarkan anak, karena mereka akan menyontoh yang dilihat dan didengarnya.

Padahal anak-anak sebenarnya mempunyai bakat sendiri, termasuk menyanyi. Maka saat mereka ingin mencoba menyanyi dan menjadi seorang penyanyi, hendaknya para produser rekaman berkenan membuat lagu yang sesuai dengan usia, jiwa dan kepribadian anak.

Marilah mulai sekarang orangtua membiasakan diri menyanyikan lagu anak di depan mereka. Atau ketika sang anak menyanyikan lagu bertema cinta, orangtua mau segera membelokkannya ke lagu yang memang untuk mereka.

From → Feature Budaya

2 Komentar
  1. Saya sangat sependapat dengan tulisan di atas. Untuk mengembangkan kembali lagu anak-anak, yang irama, nada dan liriknya benar-benar lagu untuk anak , tak ada jalan lain kecuali kementerian pendidikan dan kebudayaan yang harus dipaksa bangun dan membuat rencana yang tepat dan bisa dilaksanakan untuk membuat anak-anak Indonesia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Bukankah sekarang sudah banyak berdiri sekolah untuk calon guru taman-kanak-kanak , kalau perlu adakan lomba mengarang lagu untuk anak-anak ?. Selain itu bukankah di negeri ini banyak pemilik siaran TV ?. siapapun mereka dan juga karyawannya pasti mempunyai anak atau cucu ? KIranya tidaklah merugikan bila mereka ikut menyiarkan lagu anak-anak setiap pagi dan malam menjelang anak-anak tidur. Jadikanlah negeri ini dicintai anak-anak

  2. zaman sudah berganti, bersyukurlah kita melewati zaman itu.
    harusnya sekarang lagu anak diperbanyak.
    saya juga miris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: