Skip to content

Sastra dan Pendidikan (1)

by pada 4 Februari 2014
(foto: Nestor)

(foto: Nestor)

Oleh Nestor Rico Tambunan *

Ada yang mengatakan, kita kini jadi bangsa yang tidak berbudaya. Kehilangan banyak nilai-nilai humanisme, karena para pimpinan dan pejabatnya bukan orang yang suka membaca. Apalagi membaca sastra, yang menjadi jalan penting memahami kehidupan dan kemanusiaan.

BULAN lalu secara berturut-turut saya membaca dua novel terjemahan yang kebetulan sama-sama karya pemenang Hadiah Nobel Sastra. Buku pertama adalah SNOW (Di Balik Keheningan Salju) karya pengarang Turki, Orhan Pamuk, pemenang Nobel Sastra 2006. Novel kedua  karya Mo Yan, pengarang Cina pemenang Nobel Sastra 2012,  Big Breasts and Wide Hips (judul tidak diterjemahkan).

SNOW bercerita tentang seorang wartawan dan penyair bernama Ka yang berkunjung ke Kars, sebuah kota kecil di perbatasan Turki, yang sedang dilanda konflik agama radikal dan sekuler, tradisi, pers yang penuh rekayasa, dan militer yang otoriter.

Ka terjebak dalam intrik yang membuat dia, dan juga banyak orang lain di sana, tak berdaya dan tiba-tiba seperti tak berharga. Orhan Pamuk (karya lainnya yang terkenal My Name is Red) begitu lihai meramu kisah dan suasana hingga menjadi sebuah kisah thriller politik dan kemanusiaan yang mencekam.

Sementara Big Breasts and Wide Hips bercerita tentang perjalanan hidup seorang perempuan miskin dengan delapan anaknya dalam evolusi sejarah bangsa Cina sepanjang abad XX.  Dalam alur cerita karya Mo Yan, sejarah, perang, politik, kelaparan, agama, cinta, dan seks bercampur-aduk secara ekstrim dan brutal, sehingga kadang kemanusiaan terasa begitu tidak berharga dan lebih hina dari hewan. Magis, getir, dan menyesakkan.

Jujur, kedua novel ini membuat perasaan saya bagai teraduk-aduk. Saya seperti dibawa ke dua negeri yang berbeda, di masa yang berbeda, dengan berbagai persoalan kemanusiaan yang menyesakkan dada. Memukau sekaligus meninggalkan jejak yang menukik dalam pikiran dan batin, seolah sebuah pengalaman nyata. (Bersambung)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Warta Buku, edisi Oktober – Desember 2013

* Nestor Rico Tambunan, kini mengajar di Program Studi Jurnalistik, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: