Skip to content

Sastra dan Pendidikan (2)

by pada 6 Februari 2014
(melayuonline.com)

(melayuonline.com)

Oleh Nestor Rico Tambunan*

Saya kira, bukan hanya saya yang pernah merasakan hal seperti di atas. Cerita fiksi (sastra) sering membuat kita hanyut mengikuti alur cerita dan persoalan tokoh seolah sebuah pengalaman nyata, sehingga kadang mempengaruhi emosi. Memang itulah kelebihan cerita sastra dan para pengarang (yang baik).

Karena itu, baik kalangan kebudayaan Timur maupun Barat, sama-sama berpendapat sastra menjadi bagian penting dalam pembelajaran kebudayaan dan pendidikan.

Salah satu keunikan karya sastra, ia sering mengungkapkan sisi buruk, sesuatu yang kontradiktif dari kehidupan, untuk menyampaikan moral yang baik. Tapi justru dengan itu sastra bisa memperkuat dan menajamkan sense of humanity (humanisasi). Ujung-ujungnya, karya sastra dinilai membuat masyarakat menjadi lebih berbudaya, beradab, dan beretika.

Karena itu, sejak dulu sudah ada anggapan seseorang yang akrab dengan sastra lebih utuh kemanusiaannya. Ini antara lain disebabkan karena sastra menunjang pemahaman terhadap kemanusiaan dan dapat menjembatani pertentangan-pertentangan serta mengungkapkan yang tak terungkap dalam kisah faktual, yang disebut the ultimate reality.

Ibarat permainan bilyar, ketika memukul satu bola, tapi tidak hanya satu bola yang menjadi sasaran kita, setidaknya dua, bahkan banyak. Sebab kehidupan yang dipaparkan dalam sebuah karya sastra tidak hanya hanya satu segi  kehidupan, melainkan aneka ragam segi dan dimensi.

Seperti dikemukakan sastrawan Budi Darma dalam tulisan  “Moral dalam Sastra” di buku Budaya Sastra (Rajawali, 1984), salah satu hakekat sastra menggambarkan manusia sebagaimana adanya.

Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca melihat karya tersebut sebagai cermin dirinya sendiri, dengan jalan menimbulkan pathos, yaitu simpati dan merasa terlibat dalam peristiwa mental yang terjadi dalam karya tersebut.

Hal itu membut pembaca karya sastra lebih mudah menangkap gagasan dan maksud pengarang, sekaligus menangkap amanat atau moral karya tersebut. Dibanding karya seni lain, sastra mempunyai kemampuan yang lebih kuat untuk menggerakkan pathos pembaca, antara lain lewat karakter-karakter tokoh yang berbeda pandangan, alur dan plot, dan latar atau setting yang luas.

Intensitas satra dalam menggerakkan pathos ini, misalnya, sangat terasa dalam trilogi  Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tokoh-tokoh utama dalam trilogi  ini sesungguhnya tidak sepenuhnya baik menurut moral umum, tapi kita sangat memaklumi, bahkan berempati kepada mereka.

Bukan hanya itu. Sosiolog Niels Mulder dalam tulisan “Memahami Masyarakat Lewat Sastra” (Basis, Agustus 1982)  mengatakan, cara seorang sastrawan menafsirkan kenyataan, tidak hanya mengguncang jiwa pembaca, tapi dapat dipergunakan untuk menggali lebih dalam tentang budaya.“

Sastrawan-sastrawan  yang agung dapat membeberkan panorama tri-dimensional yang menerobos masyarakat, menelanjangi sejumlah persepsi dan motivasi yang biasanya tertutup,” tulis Niels Mulder. Karena itu, kata Mulder, karya sastra sering menjadi khazanah pengertian, hipotesa dan pengamatan alternatif.

Kita akan mudah menemukan Budi Darma dan Niels Mulder ini kalau kita mengamati karya sastra di negeri kita. Umar Kayam,  misalnya,  sangat kuat dalam menggambarkan budaya dan manusia Jawa. Karya-karya Kayam, mulai dari cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Sri Sumarah hingga novel  Para Priyai dan Jalan Menikung, memberikan gambaran bagaimana alam pikir dan perilaku manusia Jawa.

 Contoh lain, betapa menderitanya berjuta-juta keluarga orang yang terlibat atau disangka terlibat dengan PKI sejak peristiwa G30S. Sepanjang pemerintahan Orde Baru, hal itu tidak pernah, dan memang tidak boleh diungkap. Tapi masyarakat tahu kegetiran itu lewat karya-karya sastra. Salah satu karya terakhir mengenai hal ini adalah novel “Pulang” karya Leila S. Chudori. (Bersambung)

Catatan:Tulisan ini pernah dimuat di Warta Buku, edisi Oktober – Desember 2013

* Nestor Rico Tambunan, kini mengajar di Program Studi Jurnalistik, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta.

From → Feature

One Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: