Skip to content

Sastra dan Pendidikan (3)

by pada 8 Februari 2014
(whatindonews.com)

(whatindonews.com)

Oleh Nestor Rico Tambunan*

Saat ini, akal budi dan nilai mulia kebudayaan manusia Indonesia sedang menghadapi cobaan dan guncangan besar. Anak-anak muda tergila-gila pada budaya pop Korea. Budaya tawuran, kerusuhan, dan kekerasan terjadi dimana-mana. Sementara negara dilanda budaya korupsi yang nyata-nyata jumlahnya luar biasa besar. Kita menjadi manusia dangkal dan murahan, seolah tidak lagi berbudaya.

Seperti digambarkan Richard Brodie dalam bukunya yang kritis-satiris, Virus of Mind, saat ini dunia, termasuk negeri kita sedang dilanda virus akal budi modern. Kapitalisme makin berjaya, industri iklan meraksasa dan menguasai begitu besar uang, fundamentalisme berkembang subur, tayangan misteri, kriminal, dan gossip tak bermutu meraih rating tinggi, politikus korup dan tukang provokasi masih tetap terpilih bahkan berjaya, café dan restoran fast food menjamur, wartawan bodrex makin banyak berkeliaran, dan sebagainya.

Saya kira, salah satu “obat penawar” yang baik dan murah untuk menyadarkan orang, terutama generasi muda, dari geger nilai dan kekacauan moral ini adalah karya fiksi (sastra) yang baik. Karena karya sastra, seperti dikemukakan para ahli di atas, mampu menyatukan “nalar” dan “hati”.

Dunia pendidikan jelas sangat memegang peran penting dan bertanggung jawab dalam ini. Dunia pendidikan, para pendidik, lembaga pemerintah yang menangani pendidikan, mestinya jadi motor pembentukan generasi muda yang lebih berbudaya. Salah satunya, lewat pelajaran bahasa dan sastra yang menarik dan baik.

Pendidikan sastra yang baik dan menarik akan menjadi guru yang luar biasa bagi generasi muda, pembaca umumnya, karena mampu mempengaruhi dan merubah pola pikir (mindset) pembaca. Seperti juga pendidikan, karya sastra akan menjadi proses budaya, karena menjadi proses menanamkan nilai-nilai, seperti diungkapkan para ahli dan budayawan di atas.

Caranya, adalah dengan membuat pelajaran sastra menjadi menarik. Bukan sekedar menghapal judul-judul karya dan tahun-tahun penerbitan. Tapi dengan diskusi-diskusi yang menarik, lomba-lomba pembacaan sastra, kalau perlu dengan pementasan-pementasan.

Bukan hanya intra kelas dan sekolah, kalau perlu antar sekolah, antar kota, bahkan nasional. Tapi untuk itu, para pengambil kebijakan pendidikan, terutama para pendidik, perlu memahami karya sastra dengan baik, mencintai, kalau bisa masuk ke dalam the ultimate reality sastra itu, sehingga bisa memberikan dimensi budaya nilai yang lebih luas.

Tentu, tak kalah penting adalah mendorong terbitnya karya-karya fiksi (sastra) yang baik. Dalam hal ini, kalangan penerbit memegang peran sangat penting. Tapi, sungguh ideal kalau pemerintah mendukung para penerbit untuk melaksanakan peran itu.  Saya kira, the road is made by walking on it. (Selesai)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Warta Buku, edisi Oktober – Desember 2013

* Nestor Rico Tambunan, kini mengajar di Program Studi Jurnalistik, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: