Skip to content

Cerpen: Arsitek dan Barcelona

by pada 9 Februari 2014
(garypeppergirl.com)

(garypeppergirl.com)

Oleh Cindy Nikmadana

Aku bukannya tak menghargai sesuatu yang ada di hidupku, bukan pula tak bersyukur dengan yang kumiliki. Tapi, terkadang, aku perlu membenci hidup ini.

Itulah kata-kata yang pernah ditulis Rara, gadis berambut panjang sebahu, dalam diary life blognya. Hidupnya memang tergolong mulus, ia datang dari keluarga yang lebih dari cukup. Memiliki 3 abang yang sangat menyayangi dan teman-teman yang selalu ada untuknya.

Sudah sekitar hampir satu tahun ini Rara banyak diam dan menyendiri. Semua orang terdekat, tak ada yang mampu menjadi ‘tong sampah’ keluh kesahnya. Semua beranggapan masalah ini karena Risjad, lelaki yang pernah hadir di hidupnya.

Rara kini harus memilih yang lain, karena keluarganya masih mengatur ketat perjodohan. Rafi –abang ke-3 Rara– yang memang paling dekat dnegannya tak juga mampu membuka masalah yang dialami adiknya ini.

“Ayah, pekan depan aku mendapat tugas ke Barcelona. Titip Merry, ya, Yah. Hehehe..” Rajuk manja khas anak terakhir ini kepada ayahnya.

“Iya, nanti Ayah jagain. Emang tugas berapa lama di sana?” respon sang ayah menanggapi.

“Hmm, sekitar sepuluh hari mungkin, Yah,” jawabnya singkat. “Ayah, aku tidur dulu, ya. Mmmuah,” lanjut Rara dan mencium pipi ayahnya.

Keluarga Rara memang terbilang sangat harmonis dan penuh kasih sayang. Setiap malam Ayah, Ibu dan semua abangnya makan malam bersama dan menonton televisi di ruang keluarga. Walau kini 2 abang Rara telah menikah dan memiliki rumah sendiri, kebiasaan itu tidak begitu saja ditinggalkan. Hampir setiap hari tetap dilakukan, kecuali bila di antara mereka ada yang terlambat sampai di rumah.

“Dek..” panggil Rafi dari luar kamar.

“Masuk aja, Bang.”

Krekk.. bunyi handle pintu dibuka. “Lo bener ke Barcelona? Buat tugas, apa mau lupain Risjad di sana?” tanya Rafi pada adik kesayangannya.

Mata mereka beradu. Namun mata Rara seolah menyampaikan pesan, betapa perasaannya tak karuan. Terlebih karena ia tahu, bulan depan merupakan acara sakral bagi Risjad yang menikahi wanita lain.

Sigh, bukan urusan lo, Bang. Gue mau tidur, capek. Besok harus naik kereta, nih. Masuk kamar aja lo, sana,” balas Rara mengusir Rafi dari kamarnya.

*******

“Halohaaa.. Eh, cantik! Cemberut mulu, lo,” senggol Karen pada Rara.

Napa, sih, lo? Makin hari semakin kucel aja. Hahaha,” tambah Kelly membuat suasana memburuk.

“Hah? Aduh, mana kaca gue? Serius lo, ini kucel?” respon Rara panik.

Apaan, sih, lo, Ra. Hebring banget, lebay tau ga!” patah Karen pada Rara.

Abis, si Kelly bilang gue kucel. Kan gue stress dengernya,” jawab Rara sambil mengarahkan cermin kecil ke wajahnya.

Lo tuh, kenapa, sih? Aneh banget, diem mulu. Kerja kayak orang ga semangat, laporan telat. Mana kucel gitu sekarang!”

Ga usah tanya gue kenapa! Hari ini gue mau urus izin cuti sepuluh hari, gue mau ke Barcelona!” jawab Rara pada kedua temannya.

Kalo lo mau ngelupain Risjad, si arsitek yang tergila-gila banget sama kota Barcelona, ya jangan ke sana lah, nyong. Mending lo ke Arab, umrah sana, naik haji kek. Do’a biar cepat dapat jodoh juga, kayak si Risjad kebanggaan lo itu,” ujar Kelly yang merepet dengan gaya ceplas-ceplos.

“Berisik, ah, lo berdua. Pusing! Pamit duluan gue, mau pulang. Dadaaah”, balas Rara.

*******

Akhirnya sampailah hari keberangkatan. Mereka berbondong-bondong mengantarkan Rara ke bandara.

“Ra, kamu sepuluh hari di sana?” tanya ibu lembut,

“Iya, Bu. Kalau sudah selesai, aku langsung pulang, kok”, sahut Rara.

“Hati-hati, ya, nak. Selalu beri kabar, Ayah, Ibu atau Bang Rafi. Tenang aja, Ayah pasti jagain Merry, ga akan Ayah terlantarin,” ledek Ayah ke putri bungsunya.

“Dek, jaga diri. Gue paham masalah lo. Jangan pernah coba tutupin dari gue. Gue kan  abang lo. Gue paham lo kenapa!” ungkap Rafi menatap adik yang sangat disayanginya.

Rara membalas senyum dan memeluknya.

Dua teman dekat Rara pun turut mengantar sampai bandara, sebelum keberangkatan Rara ke Spanyol.

“Jaga diri lo di sana. Pinter banget, lo, bohongin nyokap bokap, lo. Inget, bae-bae,” ucap Kelly pada Rara.

“Hati-hati lo, ya, di sana. Bawain gue bule Spanyol,” ucap Karen.

“Iya, bodo amat gue sama lo berdua. Makasih tapi, ya,” sungut Rara pada Karen dan Kelly.

*******

Selama di perjalanan sampai tiba di kota Barcelona, headphone I-pod tak dilepas dari telinganya. Menyusuri jalan Ramblas, mencari apartemen terdekat dan memutuskan untuk menginap di sana.

Rara hanya menaruh tas dan segera bergegas keluar dengan membawa Canon 70D-nya. Tangannya asyik mengambil foto yang menurutnya menarik. Dan cekrek, ia pun tak terlewat mengambil gambar patung hidup yang banyak menarik perhatian para pejalan kaki.

Sampai malam hari, ia masih berada di luar apartemen. Memutuskan makan malam di Sagrada Familia dan memesan Sangria (anggur merah yang dicampur dengan buah dan rempah-rempah).

Keesokan harinya pun, Rara masih menyusuri jalanan Ramblas. Jalanan yang tak kenal tidur. Bukan hanya jalan ini, Barcelona memang terkenal sebagai kota yang tak pernah tidur, bahkan di malam hari. Masyarakatnya dikenal ramah oleh turis seantero jagad.

Pagi ini Rara memutuskan  untuk menghabiskan harinya di taman Guell, ingin menikmati indahnya karya seni arsitektur Antonio Gaudi. Selama perjalanan Rara dari apartemen menuju taman Guell, banyak pelukis jalanan yang memang mencari uang di sana. Melukis cantik atau untuk terlihat lucu dalam lukisan yang dibuat si pelukis.

Rara terkagum-kagum melihat seorang lelaki yang duduk di kursi panjang dekat dengan para pelukis yang tengah menggambar taman Guell berikut sebuah gedung dan menara pemancar di sekitarnya. Namun konsentrasinya terpecah oleh suara lelaki muda yang menanyakan namanya.

Hola, coma te llamas? Te gusta la fotografia?” tanya lelaki bernama Ramos, tentang ketertarikan Rara pada fotografi.

*******

Hari ketiga Rara di Barcelona dihabiskannya dengan Ramos, lelaki Spanyol yang ditemuinya saat berjalan menyusuri jalan Ramblas. Keakraban mereka makin terlihat dalam pembahasan mengenai berpadunya kecintaan Gaudi dengan arsitektur dan Guell yang memiliki imajinasi modern.

Malam itu Rara dan Ramos makan di sebuah kafe yang memang banyak hadir di jalan sekitar Ramblas. Chipirones (Cumi-cumi kecil yang digoreng dengan tepung), menjadi menu santapan mereka saat ini.

Selama menyantap hidangan, tak habisnya mereka membahas bentuk meliuk seperti mozaik karya Gaudi di taman Guell. Itu merupakan salah satu keindahan arsitektur yang memang sangat terkenal. Karenanya, Ramos menanyakan tujuan Rara ke sini dan mengapa ia bisa mengetahui secara mendalam tentang Barcelona dan arsitekturnya.

Sampai hari ke tujuh Rara di Barcelona, selalu ditemani Ramos. Membuatnya lupa akan semua masalah dan tak lagi memedulikan hati yang masih tak karuan rasanya. Kali ini Ramos membawa Rara berkeliling tempat di luar jalanan Ramblas. Rara tertawa lepas, seakan tak ada masalah dengan Risjad. Hanya sesekali ia memberi kabar kepada ayah, ibu dan abangnya.

Jadwal hari ini, Rara memutuskan untuk dilukis di sebuah alun-alun yang memiliki keindahan  tak kalah menariknya dengan taman Guell. Posisi Rara memegang kamera, dengan pose seolah-olah sedang membidik sebuah objek. Rara menahan pose itu, fokus melihat objek di lensanya. Tanpa ia sadari.. Risjad.

Ya, Rara melihat sosok Risjad. Bertubuh tinggi, berkaca mata, dan menggemblok tabung kertas. Jantung Rara seakan berhenti. Ia ke sini untuk mengenang Risjad, tapi mengapa sosoknya malah hadir di sini. Rara pun mempertegas, melihat dan memperhatikan lebih jelas dari lensanya.

Risjad menoleh ke arahnya. Kamera pun dijatuhkan Rara dan lensa pun pecah. Ramos tersentak dan bingung yang terjadi dengan Rara. Kenapa dia langsung pergi begitu saja dan meninggalkan kameranya. Ramos berteriak memanggil nama Rara, dan membayar lukisan Rara yang hampir jadi.

Risjad yang berada di ujung jalan, terfokus pada Rara yang telah hilang dari pandangannya. Tanpa berpikir panjang, Risjad pun menghampiri si pelukis dan mengambil lukisan diri Rara.

Dengan sedikit ragu, Risjad mendekati Rara. Ramos yang tengah berada di samping Rara, melihat Risjad membawa lukisan yang telah jadi dan akan diberikan padanya.

“Ramos, how increcible! You know Rara! You have time with her,” ucap Risjad sedikit berbisik. Kaget mengetahui mereka mengenal satu sama lain.

Approach her! I understand what does she feel on you, now. I’ll stay away for awhilem” bisik Ramos paham.

*******

Rara tak menangis, dia hanya duduk memandangi taman air dan menikmati suara gemericiknya. Hening, tak ada percakapan di antara mereka. Suasana lampu yang mengililingi kolam, membuat suasana makin mendayu bagi mereka.

Sampai akhirnya, “Ra..” sapa Risjad

“Iya, Sjad,” jawab Rara, tersenyum tanpa menatap Risjad sedikit pun.

Lo tugas di sini, atau apa?” tanya Risjad mencairkan suasana.

Ga, Sjad. Gue cuma ingin refreshing. Lo sendiri?” respon Rara.

“Seperti yang lo tau, Ra…”

“Iya, gue paham. Ini kota yang selalu menjadi impian lo. Kota yang terkenal dengan arsitektur berpadu imajinasi modern. Sekarang lo udah nikmati sendiri gimana Barcelona,” potong Rara.

Hati Risjad berdegup begitu kencang, mendengar jawaban wanita yang amat dicintainya. Namun, Risjad harus bersama wanita lain yang telah berjanji sehidup semati membina hidup baru.

“Maafin gue, Ra”, ungkap Risjad.

Rara hanya membalasnya dengan senyum.

Gue paham, Sjad. Ga usah dipikirin, gue ga apa-apa,” potong Rara. “Gue senang di sini, bisa ketemu Ramos. Gue banyak sharing tentang dunia arsitektur dan Barcelona sama dia. Dari dia, gue bisa lihat itu sebagai diri lo, Sjad”, tambah Rara sambil menutupi perasaannya.

*******

Hari ke sepuluh di Barcelona pun tiba, saat nya Rara berkemas dan kembali ke Indonesia. Ramos mengantar Rara sampai gate penerbangan internasional.

“Raraaa!”

Rara dan Ramos sontak menengok ke arah sumber suara. Risjad. Dari jauh ia melambaikan tangan, menandakan jangan pergi dulu sebelum ia menghampiri.

“Ini, Ra, buat lo,” sebuah paper bag yang di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil.

“Dibuka di pesawat aja,” saran Risjad.

Ram, thanks so much then, you’ve accompanied Rara till she’d like to return to our country. That’s totally unpredictable you met her, and as well I know you as my friend in the architecture dormitory,” ungkap Risjad, berterima kasih pada Ramos.

“Makasih, Sjad,” senyum Rara.

Ramos, if someday you’d like to visit Indonesia, call me first, I’ll pick you in airport, and I’ll invite you to my house, thanks a lot”, ucap Rara pada Ramos.

*******

Di pesawat, Rara membuka isi kotak dari Risjad. Pertemuan di Barcelona memang tak terduga. Rara memang mendatangi kota yang sangat diinginkan Risjad, namun di luar dugaan bisa berjumpa. Dan Ramos ternyata teman satu apartemennya.

Dalam kotak itu, Risjad memberi kaos putih bergambar foto Merry, kucing Persia Rara yang juga dari Risjad. Bersama secarik surat yang langsung dibacanya.

Terkadang segala sesuatu yang kita inginkan tak harus direalisasikan, bahkan cinta. Perasaan ini sangat sulit untuk dihindari, bagaimana pun kondisi ini sudah tak mungkin diubah. Walau aku mencintaimu dan aku memahami sebaliknya, tapi inilah hidup dan tentang seorang pasangan. Aku dengan jalanku, dan kau akan dengan jalanmu juga nanti. Hati-hati di jalan.

_Risjad_

Inilah akhir dari semua. Inilah yang memang harus aku benci –sesuatu yang memang ada di hidupku– tentang memilih dan dipilih. Di sini lah kita mesti bersikap bijak, dalam menghadapi hidup. Air mata sudah tak berarti, walau perih masih di sini…

From → Cerpen

One Comment
  1. well, sejujurnya saya ga terlalu suka tema cinta-cintaan.
    termasuk yg ini.
    apalagi happy ending, walau yg ini rada sedih di akhir tetap saja kurang ‘jleb’.
    Rara, diluar sana masih banyak hal yang perlu dipikirkan ketimbang jodoh yg sok rumit.
    IMO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: