Skip to content

Waspadai Pencitraan 2014

by pada 11 Februari 2014
(Ilustrasi/Liputan6.com)

(Ilustrasi/Liputan6.com)

Oleh Qurrota Ayun Chusna

Pemilu 2014 membuat tahun ini menjadi ajang menjaga citra partai politik dan para calon legislatif. Jatuh menjatuhkan citra partai, menjadi senjata paling utama. Waktu yang singkat untuk membuat citra partai lebih baik di tahun 2014, sehingga menjadi ‘waspada’ pencitraan partai dan para calon legislatif.

Menjadi hal umum saat ini, ketika berbagai kasus di pemerintahan terus terungkap. Mulai dari kasus proyek Hambalang, kasus Djoko Susilo yang juga mencalonkan sebagai anggota legislatif, kasus Susno Djuadi terkait simulator SIM, kasus suap daging impor LHI dan Fatonah.

Semakin terlihat, persaingan pencitraan antar partai begitu terasa. Pencitraan seakan terus mengawasi kesehariannya, sehingga mereka hadir bagai malaikat yang pro rakyat dan hidup seperti rakyat.

Suatu partai mengangkat suara rakyat, seakan satu hati. Partai lain  memberikan hal baru untuk menarik perhatian rakyat, yang mulai bosan dengan keadaan pemerintahan. Semua untuk pencitraan di pemilu 2014.

Membangun citra suatu partai –juga calon legislatif– tak semudah membalikkan tangan. Tetapi berbeda saat menghancurkan citra partai  lain, sangat mudah. Banyak politisi partai terkena kasus korupsi, sehingga dalam sesaat partai tersebut menjadi topik terhangat.

Citra partai –juga para politisi– sesungguhnya dikembalikan kepada masyarakat. Masyarakat yang mempunyai mata tersendiri dalam melihat setiap partai –juga politisi ataupun calon legislatif– nantinya.

Citra yang dekat dengan rakyat kecil, merasakan jerih payah aktivitas ke- sehariannya, sering terlihat oleh masyarakat,  mengetahui aspirasi rakyat kecil menjadi tujuan para partai dan politisi. Memperebutkan pencitraan masyarakat, bagai memperebutkan piala untuk pemilu 2014.

Pencitraan yang sering didengar masyarakat, termasuk kontribusi dari para artis. Artis yang sering hadir di TV, artis yang selalu terdengar ceritanya di setiap infotainment dalam kegiatan sosialnya. Citra inilah yang menjadi langkah tercepat partai, untuk mempermudah pencitraan. Terdapat 18 calon anggota legislatif yang berprofesi sebagai artis.

Kursi Bercitra Uang

Semua partai bersamaan menjaga partainya dari kasus-kasus politik. Tak dipungkiri, satu partai mengungkap kasus partai lain di medianya demi menjatuhkan citra partai lain.

Semua partai menunjukkan, partainya pro rakyat, prioritas utama adalah kesejahteraaan rakyat. Citra inilah yang membuat paradigma masyarakat penuh dengan citra partai yang hanya ucapan, nyatanya tak direalisasikan.

Tak hanya citra yang dimiliki partai terhadap masyarakat, tetapi ada pula citra sesama calon legislatif. Citra yang terbentuk di dalamnya. Citra yang hadir sebagai landasan kursi pemerintahan. Mempunyai dana besar untuk duduk di bangku legislatif, maka dialah yang mendapatkannya.

Bukan kualitas yang dipentingkan, melainkan kuantitas dana lah yang menjadi tolak ukur pemenangan kursi legislatif. Padahal, kualitas para calon legislatif yang akan menjadi penentu bangsa ini ke depan.

Bukan berkat dana yang ada di kantong mereka, yang membuat bangsa ini dapat hidup. Tetapi di tangan para anggota legislatif, rakyat bisa hidup. Bukan karena dana mereka besar, bangsa ini terbebas dari hutang. Tetapi boleh jadi, karena tangan mereka ini bangsa kita dapat lebih bertambah hutangnya.

Bukan citra semata yang perlu diwaspadai, tetapi para politisi yang juga harus terus diwaspadai untuk mendapatkan orang yang berkualitas. Bukan calon legislatif yang mempunyai citra, tetapi hanya dapat memainkan telpon genggam selama sidang berlangsung. Atau bahkan, tak tahu bagaimana melakukan voting, interupsi, dan aklamasi.

Layak baju sehari-hari

Layaknya baju, pencitraan selalu digunakan setiap harinya. Ketika melakukan kegiatan, setiap individu politisi menjaga citranya. Melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan bagusnya citra di mata masyarakat, hingga bisa sampai memanggil media untuk meliputnya.

Individu atau kelompok politisi, melakukan berbagai kegiatan sosial demi citra. Politisi mulai berkampanye ke masyarakat kecil, mencuri hati rakyat, agar memberikan suaranya di pemilu.

Layaknya baju dipakai menjadi bahan yang melapisi diri, begitu pula citra yang dipakai politisi setiap hari, setiap waktu, setiap perlakuan, dan setiap perkataan.

Bagi masyarakat menengah ke bawah, yang dibutuhkan tidak hanya kepintaran, wibawa, atau pun segala prestasinya. Tetapi bukti nyata adanya sebuah pemimpin atau wakil rakyat nantinya. Sudah terlalu lelah masyarakat mendengar semua janji, yang diutarakan bagai harapan palsu ataupun bualan.

Kembali kepada masyarakat yang memiliki kacamata tersendiri untuk melihat politisi, partai ataupun calon wakil rakyat nantinya, yang dapat memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya sebagai wakil rakyat yang memperjuangkan kepentingan individu dan kelompok, tetapi nyata untuk bangsa ke depannya..

Catatan: Tulisan ini sudah diterbitkan di Liputan6.com pada 4 Februari 2014 pukul 01:18:19 (http://news.liputan6.com/read/787412/waspada-pencitraan-2014?necit.trpl)

From → Feature

One Comment
  1. saya golput.
    aman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: