Skip to content

Terselip Lelah di Balik Jenaka

by pada 13 Februari 2014
(coexindie.wordpress.com)

(coexindie.wordpress.com)

Oleh Rani Rizki Amalia

Setiap senja menjelang –kala waktu mengharuskannya pulang ke rumah– gurat keletihan kadang tersirat pada sorot matanya yang sayu. Namun, ia selalu berhasil menyamarkan gurat itu dengan berbagai canda.

Tawanya yang berderai tiap kali mengumbar canda, selalu memenuhi ruang pendengaranku. Semua beban di pundaknya bagai hilang, ketika ia mulai membagikan candaan khas miliknya.

Ya, jenaka merupakan kata yang melekat pada dirinya, Ayah kesayanganku. Tiada hari tanpa candaan darinya. Ia selalu bisa menyembunyikan segala permasalahannya pada kami, keluarganya, dengan memakai topeng kejenakaannya.

Jika orang lain yang tak mengenal betul sosoknya, mereka pasti akan menyangka tak ada satu pun beban memberatkan pundak Ayahku. Mungkin pikir mereka, hidup selalu mudah bagi Ayah.

Memang, kejenakaannya selalu menjadi hiburan untuk kami. Ia selalu dapat meredakan segala amarah orang-orang di sekitarnya. Mencairkan segala suasana. Aku dan Ibuku lah yang paling sering merasakannya.

Pernah sekali Ibuku naik pitam karena suatu sebab, lalu Ayah mulai memberikan guyonan-guyonannya. Detik berikutnya, yang terjadi Ibuku malah tertawa dan melupakan segala permasalahannya. Pun denganku yang sering merajuk padanya.

Aku tahu, tak layak kutunjukkan sikapku itu padanya. Namun, Ayahku yang penyayang, tak pernah menunjukkan amarahnya padaku. Jika aku mulai merajuk, yang sering dilakukannya justru malah menggodaku dengan candanya.

Ayahku memang luar biasa hebat. Ia dapat memberikan atmosfer keceriaan di sekelilingnya, mengubah amarah menjadi gelak tawa. Tapi, aku tahu, hidupnya tak semudah ia mengeluarkan berbagai canda. Ada sebuah kelelahan tersimpan dalam dirinya.

Lelah, karena kondisi fisiknya yang makin menurun dan usianya yang menua. Lelah, karena permasalahan hidup yang kini seringkali singgah di hidupnya.

Sementara, sebagai kepala keluarga, ia tahu kalau dirinya harus tetap setegar batu karang yang dihempaskan ombak di tengah lautan. Aku sadar di balik kejenakaannya, justru ialah yang seharusnya paling butuh dihibur, diberikan semangat. Bukan sebaliknya.

Saat beristirahat di kala malam menjelang, baru dapat kulihat dengan jelas semua keletihannya. Topeng jenaka itu sudah tak terpasang lagi pada wajahnya. Tak sampai hati aku memandangya.

Senyumnya yang tadi mengembang, kini menyusut dalam kebisuan. Gurat-gurat keletihan itu makin terlihat jelas pada wajahnya yang damai dalam tidur. Ingin rasanya aku memeluk erat dirinya, membisikkan kata-kata yang dapat menghapuskan segala resah.

Pria paruh baya ini memang tak ingin menyulitkan siapa pun, terutama keluarga. Jikalau memang ada, biarlah hanya ia yang merasakan penderitaan itu dan tak ingin seorang pun khawatir dengannya. Ia pintar menyimpan masalahnya sendiri.

Pernah sekali waktu kuketahui ia sakit. Aku mendesaknya agar segera pergi ke dokter. Namun, ia hanya berkata, “Tak usah. Nanti juga sembuh. Lagipula, dokter itu mahal. Lebih baik uangnya digunakan untuk keperluan kamu saja.”

Sungguh, dalam hati ingin sekali aku menangis. Sebegitu berkorbannya kah Ayahku, sampai rela mengesampingkan dirinya sendiri?

Ayahku memanglah kebanggaan keluarga nomor satu. Perjuangannya untuk selalu berkorban demi anak-anak dan istrinya sangat luar biasa. Seakan tak ada kata lelah untuk membahagiakan keluarganya. Semua hal dalam dirinya, dikorbankan demi memenuhi kebutuhan kami.

Sekarang, aku menyadari betul perjuangan seorang Ayah. Nyatanya, ia tak pernah kalah hebat dari Ibu yang telah melahirkan kita. Sudah sepatutnya kita menghormati sosok Ayah.

Jangan sampai hanya keluh kesah lah yang  kita tunjukkan padanya. Jangan sampai kita menyesal, setelah semuanya telah terjadi. Sadarilah, fisiknya telah makin rapuh di makan usia. Waktu pun kian memperjelas gurat keletihannya.

Lantas, setelah kita menyadari semua ini, masihkah kita hanya berdiam diri? Memandanginya dari kejauhan, menghapus segala peluh yang membasahi tubuhnya sendirian? Atau bahkan, masihkah terbersit dalam pikiran kita untuk selalu mengeluh padanya? Padahal kita tahu, ia sendiri sekuat tenaga berusaha menutupi segala keluh kesahnya?

Kini, saatnya kita yang mencoba berdiri pada tempatnya berpijak. Walau hanya sesaat. Setidaknya kita menyadari, kehidupan seorang Ayah tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ia juga memiliki banyak beban. Sekarang waktunya kita menghibur dirinya. Menghadirkan gelak tawa, agar dapat meringankan beban –apa pun itu– yang selalu memberatkan pundaknya.

Ya, semoga. Kita masih punya banyak waktu melakukan semua itu.

Catatan: Tulisan ini sudah diterbitkan di EraMuslim.com pada 3 Februari 2014 (http://www.eramuslim.com/oase-iman/terselip-lelah-di-balik-jenaka.htm)

From → Feature

One Comment
  1. waktu.
    waktu tak bisa dibeli, saat bersama orang terkasih bahkan saat lelah pun adalah momen istimewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: