Skip to content

Cerpen: 666666 (1)

by pada 15 Februari 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Cerpen Rifka 666666Oleh Rifka Annisa Islamy

Malam itu –sembari duduk mengitari api unggun– aku bersama rombongan TALAM (Pecinta Alam) menanti pergantian sang kekasih malam dengan si raja siang.

Saat itu, aku, Reni, Darma, Han, Kak Miko, Kak Jo, dan Kak Rine tengah mendaki sebuah gunung yang berada di Bandung Selatan. Diiringi sedikit canda akibat kekocakkan Darma, Kak Miko melirik geram ke arah kami yang masih saja cekikikan melihat tingkah lucu Darma.

Sambil celingukan ke kanan dan kiri, Kak Miko memberi isyarat agar kami tak membuat keributan, meskipun kecil. Sekejap semua menjadi hening, mengikuti telunjuk Kak Miko yang diletakkan di depan bibir tipisnya.

Gue mohon banget sama kalian, jangan berisik. Daripada ganggu makhluk malam dengan cekikikan kalian, mending kita cerita-cerita aja,” ujar Kak Miko membuka suara.

Kami pun merapat untuk memulai cerita. Entah, kulihat wajah Kak Miko tak seperti biasanya. Terlihat sedikit pucat, panik, dan mencurigakan. Tak hentinya ia berjaga, sambil mewaspadai kanan kiri. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Kelihatannya, yang lain tidak berfikiran sama sepertiku.

Tak lama kemudian, kulihat Kak Miko mengeluarkan secarik kertas usang –seperti sudah berkali-kali terlipat atau tergenggam– bertuliskan sederet angka. 666666.

Gue mau cerita tentang kertas ini. Gue yakin pasti kalian bingung, kenapa gue bawa kertas jelek ini. Tapi, gue punya alasan untuk cerita dan kalian harus tau,” suara Kak Miko parau, tercekat.

Angin lembut menyentuh kami perlahan, mengantar Kak Miko melanjutkan ceritanya. Ia kembali membuka suara, mengungkapkan kisah yang didengarnya mengenai seorang laki-laki tewas tanpa diketahui pembunuhnya.

*******

Nama laki-laki itu, Heri –mahasiswa tingkat akhir di salah satu kampus swasta Jakarta– yang terkenal sangat pendiam. Konon, Heri selalu menjadi cemoohan teman-temannya di kampus lantaran fisiknya yang aneh.

Jalannya terlihat membungkuk, sehingga kadang teman-temannya berlaku iseng. Mereka meletakkan buku atau barang di atas punggung Heri, tetapi ia tak pernah berontak. Hanya berdiam pasrah, lantaran tak mampu melawan. Karenanya, teman-temannya makin sering berbuat yang melampaui sekadar iseng terhadapnya.

Suatu kali Heri melihat secarik kertas lusuh bertuliskan angka, 666666. Ia menemukannya di halte, ketika duduk di sudut menyendiri. Aneh, hanya sederet angka 6. Tepatnya 6 angka 6. Bingung menyelimuti pikirannya, apa maksudnya?

Tak lama, datang lah bus yang akan membawanya pulang. Tanpa sadar, Heri memasukkan kertas tadi ke dalam saku bajunya. Sesampainya di rumah, Heri merogoh sakunya mengambil handphone. Tersadar, kalau kertas aneh itu ikut bersamanya ke rumah.

Ditatapnya kertas itu lekat-lekat. Mungkin hanya kerjaan orang iseng, gumamnya. Tak lama ponselnya berdering, Bibi mengiriminya pesan menanyakan kabarnya. Ya, Heri memang sempat dititipkan pada Bibi, karena orangtuanya sudah tiada.

Diliriknya kertas tadi, yang masih dipegang di sela-sela jari tengah dan telunjuk kirinya. Seketika ide untuk menghubungi angka dalam kertas aneh itu muncul.

“Siapa tahu nomer seseorang,” ucapnya cepat dan segera menarikan jarinya di atas keypad ponsel. 666666. Ditekannya tombol berwarna hijau tanda menelepon. Tersambung.

“Halo,” suara parau seorang laki-laki terdengar dari seberang sana.

Jantung Heri tercekat, serasa berhenti. Entah terkejut atau takut, Heri sulit bersuara.

“Ha.. ha.. lo..” jawab Heri terbata.

“Apa yang kamu inginkan? Aku akan memenuhi apa yang kamu inginkan,” kata suara seseorang di seberang sana, kembali membuat Heri panik.

Dengan cepat ditekannya tombol berwarna merah, tanda mematikan telepon.

*******

Esoknya saat makan siang di kantin kampus, seperti biasa teman-teman Heri kembali melakukan aksi mereka. Dihampirinya Heri yang tengah meniup Soto Babat sebelum dinikmati.

Seketika dirasakannya tangan seseorang mendorong kepalanya, masuk ke dalam soto babat yang masih panas. Heri gelagapan. Tetapi malah terdengar derai tawa puas orang-orang di dekatnya.

Diangkatnya kepala yang mulai memerahm seperti kepiting matang. Namun, lagi-lagi tangan tadi mendorong kepalanya sampai tiga kali. Puas melihat Heri meringis, mereka pun pergi meninggalkan Heri.

Dengan cepat otak Heri bekerja, diambilnya ponsel dalam tasnya. Ia menghubungi nomer kemarin, 666666. Tersambung.

“Halo, apa yang kamu inginkan? Aku akan memenuhi apa yang kamu inginkan”

“Saya mau Boy mati! Mati dengan cara yang tragis!” ucap Heri tak lagi bisa membendung amarahnya.

“Permintaanmu akan terkabul.”

Seketika telepon itu terputus. Heri hanya bengong, setelah mendengar jawaban dari telepon itu atas permintaannya.

“Dasar orang sinting! Aku belum puas betul menceritakan bagaimana sosok Boy, langsung bilang akan mengabulkan permintaanku saja,”  sungut Heri seraya menatap ponsel yang sambungannya sudah terputus.

Sore sudah mulai berganti malam, Heri tengah berbaring, sembari membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus. Konsentrasinya buyar, ketika ponselnya bergetar. Ada pesan masuk.

Ditekannya tombol untuk membuka, pesan dari Igoy, salah satu teman Heri di kampus. Dibacanya pesan Igoy, yang kemudian membuat Heri terkejut bukan main. Matanya membelalak.

Turut berduka untuk teman kita, Boy Hernanto, yang ditemukan telah meninggal di kawasan kampus tadi malam. Lehernya nyaris putus, tangannya penuh luka. Diharapkan, besok kita berziarah ke rumah Boy. 

Peluh bercucuran dari kening Heri. Ia berfikir cepat, apakah karena nomer yang dihubunginya tadi? Kebingungannya seketika buyar. Ponselnya bergetar oleh panggilan masuk.

“Sial!” hardik Heri.

Nomer 666666 muncul di layar ponselnya. Diangkatnya telepon itu.

“Permintaanmu sudah terkabul,” lagi-lagi suara aneh di seberang sana membuat Heri bergidik.

Dengan cepat ditekannya tombol merah, tanda mematikan telepon. Heri panik bukan main.

*******

Tiga hari berlalu, setelah kematian tragis Boy. Masih melekat rasa bersalah di hati Heri, meski di sisi lain ia senang. Tak akan ada lagi sekarang yang mengganggunya di kampus.

Namun rasa was-was selalu membayangi, seolah-ada sepasang mata ‘Si 666666’ selalu memata-matainya. Nyaris setiap waktunya pulang, Heri meminta Igoy mengantarkan dengan alasan tak punya ongkos.

Setibanya di rumah, Heri kembali termenung memikirkan kematian Boy –kendati memang diharapkannya.

Ponselnya bergetar, membuyarkan lamunannya. Lagi, nomer 666666 muncul di layar ponselnya. Diangkatnya telepon dengan penasaran, ingin tahu siapa sebenarnya orang itu.

“Halo, Anda itu siapa, sih? Seenaknya bilang kalau permintaan saya sudah terkabul, beberapa hari lalu. Lagipula, Anda tak mungkin mengenal Boy!” selak Heri tanpa memberi kesempatan.

“Sekarang giliranmu!”

Heri tersentak dengan ucapan orang di seberang itu. Sial! Apa maksud ucapan orang gila itu, gumam Heri. Baru saja Heri ingin mengancam balik, namun sambungan telepon sudah diputus.

Diteleponnya lagi nomer tadi, dan tak dapat tersambung lagi. Diambilnya kertas lusuh yang disimpan di saku tas, lalu dibuangnya dengan wajah kesal.

Tersiar berita, malam setelah Heri menerima telepon dari nomer aneh, ia meninggal di jalan dekat kostnya. Terdapat bekas cekikan di leher dan banyak luka lebam di beberapa bagian lengan, badan, dan kakinya. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: