Skip to content

Cerpen: 666666 (2)

by pada 16 Februari 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(videoezyindonesia.blogspot.com)

(videoezyindonesia.blogspot.com)

Oleh Rifka Annisa Islamy

Hampir sebulan setelah kematian Heri, misteri kasus pembunuhan ini tak kunjung usai. Tak diketahui siapa pembunuhnya, karena sidik jari pelaku juga tak terdeteksi. Sebuah misteri yang tak kunjung menunjukkan kunci.

Korban meninggal dengan cara yang aneh kembali bermunculan, setelah kematian Heri. Bahkan sebelum kejadian naas terjadi pada Heri, sudah banyak pula korban pembunuhan tidak selesai akibat sulit mendeteksi pembunuhnya.

Lagi, kasus yang nyaris sama seperti Heri. Seorang perempuan, yang meninggal dengan badan dimutilasi. Berhari-hari dikumpulkan bagian-bagian tubuhnya oleh pihak kepolisian, namun tetap tak diketahui siapa pelakunya.

“Yang gue tau, baru dua orang doang yang meninggal karena nomer ini. Dan gue, percaya ga percaya deh, sama ceritanya,” ujar Kak Miko mengakhiri ceritanya.

Seketika aku bergidik.

“Dan gue nemuin nomer ini dua hari lalu, waktu gue parkir motor. Gue lihat nomernya unik, jadi gue ambil. Terus gue dapet cerita-ceritanya dari temen, waktu gue kasih tau tentang kertas itu. Katanya sih, jangan dihubungin. Tapi gue penasaran.”

Mataku segera melirik, curiga lantaran kalimat akhirnya tadi. Penasaran? Dia bilang penasaran? Dengan banyaknya korban yang sudah tewas tanpa kejelasan itu, masih ada rasa penasaran untuk mencari tahu? Gila! gumamku dalam hati.

Rasanya aku ingin memukuli Kak Mikom karena kata-katanya itu. Teman-temanku yang lain menatapnya geram, sama sepertiku. Raut wajah Kak Miko seperti ketakutan, namun masih saja terdengar derai tawa darinya. Meski sesaat, seperti untuk menutupi rasa takutnya saja.

*******

“Akhirnya gue telepon deh nomernya. Habis, gue iseng. Dan saat itu lagi kesel banget sama kucing gue, kucing Persia pemberian Oma. Doi gigit tangan gue, sampe berdarah banyak banget. Gue telepon aja dan ngadu ke orang yang angkat telepon 666666. Herannya, dia bilang permintaan gue akan segera terkabul. Tapi sampai sekarang, kucing gue ga apa-apa, tuh.”

Kalimatnya terhenti, ketika tak sengaja ponsel Kak Miko berdering tanda panggilan masuk.

“Halo.. Iya, Yum?” sahut Kak Miko kepada Yumi, adiknya, yang menelepon.

Aku seperti mendengar suara tangisan kecil Yumi dari seberang. Seketika wajah Kak Miko memucat.

“Bercanda aja kamu, Yum.”

Kembali kalimatnya terhenti, saat melihat sesosok bayangan di balik pohon yang berjarak sekitar 6 meter di belakang Darma. Matanya membelalak. Tanpa sadar, ponselnya terlepas dari genggaman. Ia mundur beberapa langkah, lantas dengan cepat diambilnya ancang-ancang untuk lari sekencang-kencangnya.

Aku heran menatapnya, tak sedikit pun kulihat sesuatu yang menyeramkan di hadapan Kak Miko.

“Miko! Lo mau ke mana?! Ini udah larut, Mik!” teriak Kak Rine membuyarkan ketegangan malam.

*******

Kakiku lemas, mungkin teman lain pun merasakan yang sama. Tak ingin beranjak dari tempat, kami hanya saling melempar pandangan. Kemudian serempak melihat sekeliling, tetapi tak sedikit pun kami melihat sesuatu yang aneh.

Mungkin karena ceritanya tadi, ia jadi merasa parno (paranoid –red) sendiri. Lalu muncul lah imajinasi menyeramkan, yang menyelimuti pandangannya.

“Kita jangan ke mana-mana. Miko tau jalan di gunung ini, kok. Sekarang semua istirahat. Cepat masuk ke tenda, sudah malam!” Kak Jo mengingatkan juniornya untuk mengikuti perintahnya.

Tanpa banyak cakap, kami semua segera masuk ke tenda dan berharap Kak Miko akan kembali secepatnya. Namun belum lama memejam mata, kudengar samar-samar teriakan seseorang.

“Aaaaaaaak! Aaaaaakk! Aaaaaaaaaaaakk! Jangaaaaan! Too…” seketika suara itu berhenti.

Aku yang saat itu tengah tidur setenda dengan Reni takut setengah mati, tetapi tak tega membangunkannya yang sudah terlihat pulas. Kembali kupejamkan mata sembari menutupinya dengan tas yang kubawa.

*******

Tak berapa lama, Raja Siang perlahan muncul di ufuk timur. Terlihat malu-malu menampakkan diri, seperti baru terbangun dari tidurnya. Cahaya hangatnya merasuki tubuhku, yang nyaris saja membeku di puncak gunung kecil itu.

Aku pun terjaga. Kubuka mata dan menemukan Reni sudah tak berada lagi di tempatnya. Lamat-lamat kudengar suara tangisan dan umpatan kecil di luar tenda. Aku bergegas keluar, ingin mengetahui yang terjadi.

Baru saja kusibak tenda, tubuh seseorang yang nyaris tak dapat dikenali tergeletak di depannya dikelilingi semua temanku. Aroma anyir darah segar merebak, hingga membuatku ingin muntah. Tetapi mengapa teman-temanku menangis? Siapa kah dia?

Aku mendekat, memerhatikan jasad itu. Kulihat slayer merah kotak-kotak mengalungi lehernya. Sepertinya aku mengenal slayer itu.. Astaga! Itu milik.. tidak, tidak! Ini tidak mungkin! gumamku dalam hati.

“Ci, Kak Miko, Ci..” Tangis Reni membahana di telingaku.

Tidak salah lagi, slayer itu milik Kak Miko!

“Kak Miko tadi pagi ditemuin Kak Jo di balik pohon itu, udah dalam keadaan naas kayak gini, Ci. Hiks..”

*******

Mendengar ceritanya, aku teringat suara teriakan yang samar-samar kudengar semalam. Ya Tuhan, harusnya aku cepat bangun waktu itu! umpatku dalam hati.

Penyesalan terus terucap dari bibir Kak Jo. Kak Rine hanya dapat sesunggukkan dalam pelukan Kak Jo. Darma serta Han tak kuasa menyembunyikan takutnya, atas kejadian yang menimpa Kak Miko. Mereka terus mengumpat kesal, lantaran tak dapat menolong Kak Miko semalam.

Tak terasa air mataku ikut jatuh dalam pelukan erat Reni. Namun tak sengaja kulihat sesosok bayangan –berdiri tak jauh dari tempat kami berkumpul– menyeringai senang kepada kami. Ia menatap jasad Kak Miko.

Kulihat ia mengeluarkan secarik kertas usang, yang sejurus kemudian terbang terbawa angin menuju ke arah kami. Kertas itu jatuh dan mendarat, tepat di sebelah jasad Kak Miko. Sederet angka tertera disana. 666666. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: