Skip to content

Lestarikan Budaya Menulis

by pada 20 Februari 2014
(budayamenulis.wordpress.com)

(budayamenulis.wordpress.com)

Oleh Amanda Fidienna Putri

Sebuah hal yang dapat mengubah dunia karena keberadaanya. Sebuah hal yang jika dilakukan bisa menyatukan semua perasaan. Sebuah hal yang terjadi dapat mencipta komunikasi yang baik. Hal tersebut adalah menulis.

Ya, hampir semua kegiatan membutuhkan tulisan. Untuk belajar, untuk tahu, bahkan untuk memahami sebuah sejarah, kita membutuhkan sebuah tulisan.

Bagi kebanyakan orang, menulis merupakan kegiatan yang tidak sulit, malah menjadi pekerjaan rutin dan sumber penghasilan. Mengapa tidak? Lihatlah wartawan atau jurnalis media cetak, begitu pula penulis atau pengarang buku.  Bagaimana dengan blogger atau webmaster? Bisa jadi!

Namun untuk sebagian orang lagi, menulis adalah kegiatan yang tidak mudah. Mengapa? Karena menulis belum menjadi kebiasaan atau  membudaya.

Sebenarnya, hampir semua orang  yang  pernah  mengenyam  pendidikan di lembaga sekolah, memiliki pengetahuan  tentang menulis. Namun pengetahuan saja, belumlah cukup. Menulis lebih menyangkut kebiasaan dan ketrampilan. Menulis itu, semacam seni dan keterampilan yang harus dilatih dan dibiasakan.

Jika seperti ini bisa dibilang, budaya menulis seakan cukup langka di negara ini. Sulit sekali kita jumpai orang di sekitar kita, yang mempunyai budaya menulis. Lihat saja teman-teman maupun tetangga kita, kebanyakan mereka memang jarang menulis.

Tetapi untuk yang rajin menulis, tentunya menjadi kebanggaan bagi diri, masyarakat maupun negaranya. Pernah mendengar cerita tentang Proklamator Bung Hatta?

Bapak Koperasi ini selama ditahan penjajah Belanda –dalam waktu yang relatif lama– di penjara Boven Digul, Irian (sekarang Papua), menulis sebuah buku fenomenal yang berjudul “Mendayung Antara Dua Karang.” Buku tersebut kemudian menjadi basic, untuk pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.

Atau ketika Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin Bandung –yang dalam waktu relatif lama pula– ia pun menulis sebuah buku berjudul “Di bawah Bendera Revolusi”. Buku yang juga fenomenal tersebut, menginspirasi generasi muda dengan nilai-nilai luhur perjuangan.

Mereka adalah contoh orang-orang hebat dalam negeri, yang mengangkat nama Indonesia di kancah Internasional. Lalu bagaimana dengan sosok yang ada di zaman sekarang ini? Apakah ada sosok seperti dua tokoh di atas?

Tentu ada, seperti Rhenald Kasali  menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran di masa yang akan datang. Yodhia Antariksa, seorang blogger produktif, yang banyak menulis artikel bernas seputar strategi manajemen. Atau Andrea Hirata seorang penulis buku cerita best seller.

Namun yang menjadi persoalan, kebanyakan orang Indonesia saat ini sangat kurang mencintai budaya tulis-menulis. Baik mereka yang berpendidikan maupun masyarakat umum, khususnya bagi orang dewasa.

Tak bisa dipungkiri, kebiasaan masyarakat Indonesia masih sangat kuat dalam tradisi lisan. Kita lebih senang mengobrol ngalor-ngidul, daripada membaca dan menulis. Ditambah lagi, minimnya kemauan masyarakat Indonesia dalam membaca. Dengan demikian, tidak banyak pengetahuan baru yang bisa diserap.

Sebenarnya bukan sedikit mahasiswa yang berkeinginan menjadi seorang penulis di media massa atau penulis best seller. Namun sayangnya, setelah mencoba untuk menuliskan beberapa kata saja, sudah dijamin pikiran lantas mandek. Tak ada satupun ide yang akan dituliskan. Malah akhirnya sekadar mencorat-coret kertas, atau hanya memainkan tuts keyboard laptop.

Bahkan tak jarang –karena memaksakan diri menjadi seorang penulis– mereka berlama-lama mencari ilham dengan melamun dan mengkhayal, yang ujung-ujungnya terpulas di atas ranjang. Terbuai dengan khayalan mereka.

Kejadian di atas bukan tanpa sebab, melainkan karena kurangnya interest masyarakat dalam budaya menulis akibat rendahnya minat baca di Indonesia.  Padahal, membaca adalah kunci dari segalanya.

Hanya dengan membaca selama 1 jam sehari, kita sudah dapat meraup banyak ilmu. Tidak perlu menghabiskan 15 tahun untuk mengetahui sebuah peristiwa, wilayah, atau bahkan sejarah, seperti yang selama ini penulis lakukan.

Banyak yang mengatakan, orang yang rajin membaca belum tentu lihai dalam menulis. Agaknya, memang benar. Karena untuk menulis seseorang diharuskan mempunyai keterampilan terasah, yang didapat dari latihan dan kebiasaan.

Namun, bukan berarti semua orang tidak bisa menulis. Setelah mempelajari ilmu sebagai dasar keterampilan, yang diperlukan adalah budaya menulis. Karena jika telah membudaya, minat dan tekad untuk menulis akan terbangun dengan sendirinya.

Selain untuk melestarikan segala yang terdapat dan terjadi di Indonesia, menulis juga bisa menjadi sarana dalam menyampaikan pendapat. Semakin bagus kualitas menulis sebuah bangsa, akan semakin berkualitas pula bangsa tersebut.

Sudah selayaknya sebagai masyarakat yang cerdas dan bermanfaat, budaya menulis harus segera dilestarikan. Terlebih mengingat semakin menghawatirkannya eksistensi kebudayaan yang satu ini.

Coba bayangkan. Jika budaya menulis hilang, betapa tercemarnya nama Indonesia. Ketika masyarakat di dalamnya tidak bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat dan berbobot, lama kelamaan bangsa akan makin terpuruk.

Karena itu penulis mengajak, mari mulai menulis apapun yang sedang kita alami dan rasakan. Begitu banyak manfaat yang kita dapatkan ketika menulis, terutama untuk menciptakan kreativitas. Makin berbobot tulisan yang kita buat, akan semakin intelek pula bangsa ini.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di KabarIndonesia.com pada tanggal 30 Desember 2013, pukul 19.22 (http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Menulis+Yuk!&dn=20131229121009)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: