Skip to content

Berbagai Prosesi Penghormatan Kematian

by pada 22 Februari 2014
(www.siaga.co)

(www.siaga.co)

Oleh Ian Adhiputra Nugraha

Kematian, mungkin dianggap sebagai akhir kehidupan seseorang di dunia. Sebagian orang ataupun kelompok memiliki cara untuk memberikan penghormatan terakhir kepada keluarga, kerabat, atau tokoh mereka yang telah meninggal dunia.

Terlebih lagi, kita berada di negara yang memiliki lebih kurang 1.340 suku bangsa. Tiap-tiap sukunya tentu memiliki kebiasaan dan adat-adat yang berbeda, termasuk untuk tradisi penghormatan kepada kematian.

Sebagai contoh, masyarakat Toraja memiliki kebiasaan menyemayamkan jasad seseorang di tebing tinggi atau di kuburan batu. Pasti kita langsung bertanya, bagaimana bisa jasad tersebut tetap utuh dan tidak membusuk?

Masyarakat Toraja percaya, tebing tinggi merupakan tempat magis yang bisa mengawetkan jasad leluhurnya. Walaupun belum dikonfirmasi secara scientific, akan tetapi kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Mungkin apabila ada ahli geologi atau ahli kimia mau melakukan penelitian menyeluruh di sana, misteri  pun akan sirna.

Masih di Tanah Toraja –lebih tepatnya di kecamatan Baruppu– terdapat sebuah ritual yang cukup unik, sekaligus menyeramkan. Betapa tidak? Ritual yang dinamakan Ma’nene tersebut, ‘membangkitkan’ jasad yang telah bertahun-tahun disemayamkan di ‘Patane’ (kuburan batu)dan dituntun menuju rumahnya.

Ritual Ma’nene merupakan warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini dan dilakukan tiap setahun sekali. Penduduk desa Barrupu percaya, jika ketentuan adat dilanggar, akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya saja, gagal panen atau wabah penyakit yang tak kunjung sembuh.

Lain halnya warga Terunyan (Trunyan) di Bali, juga memiliki tradisi penghormatan kematian yang unik. Di desa yang terletak sekitar 65 km dari kota Denpasar itu, setiap orang yang sudah meninggal dibungkus kain putih dengan hanya menampakkan kepala dan kaki. Seusai prosesi adat, jenazah pun dibawa ke makam.

Tetapi jenazah tidak dikubur, melainkan hanya diletakkan di atas tanah tepat di bawah pohon Menyan. Kemudian diberi pagar –dengan menggunakan bilah bambu yang disusun rapi– mengelilingi jenazah, guna menjaga agar jenazah tetap berada di lokasi.

Yang menjadikannya lebih unik, kendati jasad orang yang meninggal diterpa panas dan hujan selama berhari-hari, tetap saja tidak mengeluarkan bau busuk meski tanpa proses pembalseman. Beberapa masyarakat berpendapat, bau tersebut telah diserap dan dinetralisir pohon Menyan yang berada di atas ‘makam’ tersebut.

I Made Subandem, seorang warga mengatakan, nama desa Terunyan berasal dari dua kata: Taru (diartikan sebagai pohon) dan Menyan (wangi). Memang pohon Menyan tumbuh subur di desa tertua Bali ini, sehingga wanginya pun menyebar di seantero desa.

Beralih ke Kalimantan Tengah, tepatnya di desa Bakonsu, Lamandau. Prosesi pemakamannya boleh dibilang cukup ekstrim dan seringkali membuat wisatawan yang datang penasaran akan tradisi yang dilakukan ketika seseorang dari Suku Dayak Tomin meninggal dunia.

Bermula saat keturunan laki-laki dari orang yang meninggal akan melakukan upacara adat, pergi keluar kampung untuk mencari tumbal berupa kepala manusia. Kepala tersebut akan dipersembahkan kepada jasad orang tuanya yang meninggal. 

Karena itu, di Rumbang Bulin —rumah adat Dayak Tomun, berupa rumah panggung yang panjang dan tinggi– memiliki tangga yang dapat dilepas dan disimpan guna menghindari Kayau (orang yang melakukan ritual). Di bagian depan Rumbang Bulin juga terdapat prasasti, yang di atasnya masih tersimpan tengkorak kepala manusia korban ritual (dinamakan Sandung).

Tradisi yang disebut sebagai ‘Ngayau’ tersebut, tentu saja sangat mengerikan. Namun seiring modernisasi, tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi. Lagipula, ritual tersebut dinilai tidak sesuai dengan peraturan pemerintah.

Tetapi justru sangat berbeda dalam upacara adat Papua, seseorang yang meninggal akan diperlakukan secara khusus. Tak hanya jenazahnya saja, juga keluarga mendiang. Mungkin tidak kita temukan di daerah lain, bahkan ritual ini dianggap aneh dan tidak lazim bagi orang yang tinggal di luar provinsi paling timur Indonesia ini.

Di Papua –tepatnya di masyarakat suku Dani– merupakan salah satu suku yang masih melakukan upacara adat kematian yang tidak biasa. Ketika salah satu warganya meninggal, mereka menyiapkan ritual yang akan dihelat di lapangan luas yang menjadi pusat perkampungan. Orang yang meninggal dirias dengan hiasan  khas suku Dani, kemudian disandingkan di singgasana khusus yang disebut ‘Bea’.

Selanjutnya para wanita akan melumuri tubuh mereka dengan lumpur putih. Seusainya, seluruh keluarga orang yang meninggal –termasuk semua orang yang datang melayat– akan mengungkapkan kesedihan mereka dengan cara duduk mengelilingi jenazah sambil menangis dan meratap, sekaligus menyerukan tembang-tembang kematian.

Dan yang paling ekstrim –sebagai simbol kesedihan, karena kehilangan seseorang yang dikasihi– seorang tokoh adat akan memotong ruas jari salah satu anggota keluarga yang sedang berkabung. Pemotongan ini biasanya menggunakan kapak batu atau bambu.

Setelah dipotong, jari yang terluka akan dibalut dengan daun-daun khusus yang sudah disiapkan sebagai obatnya. Bilamana jari para anggota keluarga sudah habis, yang dipotong berikutnya adalah sebagian daun telinga.

Setelah ritual ekstrim tadi, prosesi dilanjutkan dengan pembakaran daging babi. Sebagian daging babi tersebut akan dipersembahkan kepada ruh orang yang sudah meninggal (disebut dengan istilah ‘Ame’), sedangkan sebagian daging babi lainnya akan dimasak dan disantap bersama-sama.

Sampai akhirnya dipenghujung hari, seluruh perhiasan yang ada pada jenazah akan dilepas. Lantas tubuh jenazah dilumuri minyak babi, sebelum tahap akhir prosesi: pembakaran jenazah.

Begtulah upacara adat kematian di Papua, khususnya masyarakat suku Dani. Meskipun begitu saat ini upacara tersebut mulai ditinggalkan, seiring masuknya berbagai agama ke tengah-tengah masyarakat Papua.

Memang setiap daerah mempunyai cara-cara atau pakem-pakemnya tersendiri dalam menghormati kematian seseorang. Mungkin banyak cara-cara yang di luar nalar kita, malah beberapa di luar batas kewajaran.

Akan tetapi, apabila dilihat dari pandangan orang yang melakukannya, hal tersebut justru merupakan penghormatan luar biasa terhadap orang yang sudah meninggal.***

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: