Skip to content

Cerpen: Lisa

by pada 23 Februari 2014
(www.tribunnews.com)

(www.tribunnews.com)

Oleh Linda

Sang surya telah kembali ke tempat peristirahatannya, namun Lisa masih duduk di bawah kanopi. Kursi di sepanjang peron masih dipadati oleh orang-orang yang hendak pergi, entah ke mana. Angin bertiup membawa awan mendung dari arah selatan. Tak lama air langit berjatuhan, membasahi area stasiun.Bau tanah pun mulai menyeruak ke udara.

“Perhatian, untuk berhati-hati di jalur delapan. Akan segera masuk Commuter Line tujuan Jakarta Kota,” terdengar instruksi petugas stasiun dari pengeras suara.

“Bagi para penumpang yang akan meninggalkan stasiun, harap memeriksa barang bawaannya kembali agar tidak ada yang tertinggal,” instruksi kembali terlontar mengingatkan para penumpang.

Beberapa saat kemudian, kereta tujuan Jakarta Kota tiba di stasiun Bogor. Begitu pintu gerbong mulai terbuka, para penumpang yang keluar segera berhamburan mencari tempat berteduh. Sementara penumpang yang akan pergi, juga bergegas memasuki dan berebut tempat duduk di dalam kereta.

 “Maaf, membuatmu lama menunggu,” ujar seseorang yang ia tunggu, setelah keluar dari pintu masinis.

“Iya, tak apa,” sahut Lisa.

Lisa selalu menunggu Hanif, kekasihnya, setelah ia pulang bertugas. Kala kekasihnya menjadi petugas di DAOP I, tak punya banyak waktu luang untuk mereka. Dengan profesi serta kewajiban laki-laki yang telah melumpuhkan hatinya itu, Lisa tak banyak menuntut dapat bersama.

“Kamu pasti lapar, kita makan dulu, yuk,” ajak Hanif yang masih mengenakan seragam kerjanya.

Tanpa kata yang terlontar, Lisa segera mengikuti langkah kaki kekasihnya menuju warung Pak Udin. Tempat makan langganan Hanif ketika istirahat tiba, dan di sana pula lah mereka  dipertemukan untuk kali pertama. Tak sangka, benih-benih asmara tumbuh di antara keduanya.

Kebersamaan yang jarang mereka nikmati, digunakan optimal untuk bercerita satu sama lain selama tak jumpa. Waktu libur yang tak menentu, membuat keduanya jarang bertemu. Begitu pula dengan kesibukan Lisa, sebagai petugas kesehatan masyarakat, yang harus selalu siap kapan pun  dibutuhkan.

“Bagaimana hasil rancangan program baru yang kamu buat, sebagai selingan bertugas?” tanya laki-laki bertubuh tegap serta gagah di sela-sela cerita.

“Oh, sukses,”  sahut Lisa senang. “Aku mendapat dukungan, juga tambahan modal dari ayah,” lanjutnya menambahkan.

“Hmm, pasti ayah sudah kamu kelabui dengan ribuan rengekan,” ledek Hanif yang lantas membuat bibir Lisa manyun.

“Wahaha, kamu jelek sekali,” ledek Hanif lagi, tetapi tangannya mengelus lembut kepala gadis berkulit putih yang duduk di sampingnya.

“Aku pasti mendukung apa pun yang  kamu inginkan,” janji lembut dari bibir tipisnya, di akhir cerita.

Hujan yang mengguyur Kota Hujan telah berlalu. Namun dinginnya angin malam yang tersisa, tak urung menembus jaket biru tua Lisa. Roda sepeda motor Hanif perlahan melaju, menerobos jalan raya yang basah.

Ia tak pernah lelah mengantarkan gadis pujaan hatinya hingga depan rumah, meski arah rumah keduanya berlawanan. Bahkan memakan waktu sampai satu jam untuk tiba di rumah Lisa.

“Selamat malam gadis mungilku,” kecupan hangat melesat, tepat di bibir merah muda Lisa.

Malam itu mungkin memang mendung, tak ada satu bintang pun yang sekadar singgah. Namun sekujur tubuh Lisa justru menghangat, melawan angin malam yang kian ganas. Pipinya kini telah berubah merah redup, dengan rasa campur-aduk ia pun melangkah salah tingkah. Melihat Lisa berlalu di balik pintu, Hanif segera melajukan motornya. Pulang.

Tadi aku terlalu asyik saat bersamamu, hingga lupa menyampaikan. Mulai esok hingga pekan depan, aku bertugas di Puskesmas di Gunung Gunder. Aku pergi bersama rekan kerjaku, Sisca. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan. Kamu juga tak boleh melupakan air minum saat bertugas, ya! Aku akan menunggumu lagi di stasiun pekan depan. Aku sayang padamu.    

Hanif tersenyum saat melihat pesan BBM (BlackBerry Messenger) dari kekasihnya. Rasa lelah yang merajang di sekujur tubuhnya, membuatnya tak sempat membalas. Ia terlelap.

*******

Mentari pagi menyemburat di ufuk timur, menerobos gorden coklat tua kamar Lisa. Sejak subuh ia menyiapkan segala keperluannya selama seminggu. Wajahnya selalu tampak ceria kala pagi datang, meski hari mendung.

Kamu juga harus jaga kesehatan ya, jangan lupakan kebutuhan tubuhmu. Aku pun akan menunggu kedatanganmu di sana. Selamat bertugas, Lisaku sayang.

Beberapa menit sebelum keberangkatan Lisa, Hanif membalas BBM yang tak sempat dilakukannya tadi malam. Pagi ini, keduanya kembali pada kesibukan masing-masing.

Roda mobil Honda Jazz merah milik Lisa perlahan melaju, menelusuri jalan berkelok-kelok pegunungan. Tak sedikit tebing-tebing curam yang harus mereka lalui. Kurang lebih satu setengah jam Lisa akhirnya tiba di depan Puskesmas, yang sekaligus akan menjadi tempat tinggalnya selama sepekan mendatang bersama Sisca.

Setibanya di sana Lisa dan Sisca bertugas seperti biasa, melayani masyarakat setempat. Akibat terlalu ramai masyarakat yang datang, membuat Lisa terlupa kebutuhan dirinya sendiri.

“Biar aku saja yang membeli obat,” ujar Lisa pada Sisca yang masih sibuk.

Selain kekurangan pegawai, Puskesmas ini juga kekurangan persediaan obat.

“Hati-hati, ya, Lis. Jalanan licin,” Sisca memperingatkan.

“Baik, ibu Sisca,” sahut Lisa meledek dan segera melajukan mobil merahnya menuju apotek terdekat.

Sudah hampir tiga jam Lisa membeli obat, namun belum terlihat mobil merah yang dikemudikannya. Sisca sudah berkali-kali mengirim pesan agar Lisa cepat kembali, tapi tak satu pun berbalas. Ia kewalahan melayani pasien.

“Tut.. tut.. tut.. Angkat dong, Lis, telponnya.”

Rasa khawatir seketika menyergap perasaan Sisca. Setelah berkali-kali menelpon, namun tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya Sisca menyusul, dengan menggunakan  jasa ojek setempat.

Di persimpangan jalan dekat tebing curam, terlihat banyak penduduk berkerumun. Sisca segera berhenti dan berusaha menyelinap untuk melihat yang terjadi. Bagai beribu benda tajam yang menghujam tubuhnya,

Sisca terkulai lemas, melihat yang baru saja tertangkap kedua bola matanya. Mobil Lisa tergelincir ke jurang sedalam dua puluh meter. Para warga begitu ramai membantu evakuasi mobil maupun Lisa yang terperangkap di dalamnya. Kurang lebih satu jam, mobil serta Lisa baru bisa dievakuasi.

“Teh, ini hape temannya. Kayak-nya ada yang nelpon,” ujar seorang warga seraya memberikan ponsel Lisa kepada Sisca.

Banyak pesan yang tertera di layar ponsel dan tak sedikit pula panggilan tak terjawab. Saat Sisca berusaha menenangkan pikirannya, ponsel Lisa kembali berdering. Tertera nama Hanif, Sisca segera mengangkat telpon dari kekasih Lisa.

“Halo, Lis. Kamu ga lupa minum obat, kan? Hari ini aku hanya bekerja setengah hari, ga bisa konsentrasi. Jadi aku dianjurkan pulang untuk istirahat.. Halo Lis? Lisa? Kamu masih dengar aku, kan?”

Rentetan tanya dan penjelasan yang diajukan Hanif, membuat Sisca kelimpungan. Ia tak tahu harus berkata apa pada Hanif, juga keluarga Lisa.

“Halo, ini aku Sisca. Lisa..”

Setelah beberapa lama Sisca terdiam kebingungan, akhirnya ia coba menjelaskan semua yang menimpa Lisa. Tak terdengar satu kata pun yang keluar dari balik telepon.

“Tut.. tut.. tut..”  Telepon terputus.

Ini salahku. Harusnya, aku tak mengizinkan Lisa mengemudi sendirian. Harusnya, aku yang membeli obat. Ini salahku! Caci Sisca dalam hati. Sejurus kemudian, ia pun pingsan.

*******

Hujan kembali datang, suasana RS. Halin terlihat begitu sepi. Bau obat menyeruak di setiap sudut. Wangi kematian pun seakan dekat di ujung hidung.

Di ruang ICU, Lisa terbaring tak berdaya dengan banyak peralatan medis menempel di tubuhnya. Koma. Ia mengalami patah tulang, penyakit liver yang ia derita bertambah parah. Kesibukannya mengurus kesehatan orang lain, membuat ia lupa dengan liver stadium akhir yang menggerogoti tubuhnya.

“Han, Han..”

Tangan Lisa perlahan bergerak, suaranya terdengar lirih membangunkan Hanif yang terlelap di sampingnya.

“Lisa,” bulir-bulir air mata seketika menetes di kasur. Ia segera memeluk Lisa yang masih terbaring lemah.

“Kamu cengeng, payah!” caci Lisa dengan nada rendah, pada lelaki bertubuh kekar yang memeluknya.

“Aku pasti akan selalu menunggu di stasiun, setelah kamu selesai bertugas,” sambung Lisa.

Masih dalam pelukan Hanif, ia kembali terlelap. Tidur yang berkepanjangan, untuk selamanya. Lisa telah berpulang, tanpa memberi kesempatan terakhir pada kekasihnya  untuk mengucapkan selamat jalan.***

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: