Skip to content

Cerpen: Bunda, Aku Sendiri! (2)

by pada 2 Maret 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(foto.okezone.com)

(foto.okezone.com)

Oleh Mega Agniya

Di rumah sakit, Bunda langsung ditangani oleh seorang dokter. Aku sebenarnya ingin menemani Bunda di dalam ruangan, tapi dilarang suster.

“Maaf De, Ade tunggu di sini saja, percayakan pada kami.” Sesaat kemudian pintu tertutup.

Aku yang menunggu di luar, tetap menangis dan tidak tenang. Berfikir kemungkinan terburuk, yang dapat terjadi pada Bunda.

“Sheila, tenang. Bunda orang yang kuat.” Ayah berusaha menenangkanku

Tapi, tetap saja aku tidak bisa tenang, Sampai akhirnya dokter yang memeriksa Bunda keluar, aku langsung berlari menghampirinya.

“Keluarga Ibu Nina?”

“Iya, saya suaminya.”

“Saya anaknya.”

“Begini, Ibu Nina dalam keadaan kritis. Sekarang akan dibawa ke ICU. “

Aku kaget mendengar pernyataan dokter tadi.

“Bunda saya sakit apa, Dok?”

“Ibu Anda terkena serangan jantung.”

Sontak aku kaget dan menangis sejadi-jadinya. Ayah berusaha menenangkanku lagi. Selama ini, aku melihat sosok Bunda yang begitu kuat dan tak pernah mengeluh sakit. Vonis ini sangat mengejutkanku, makin terbayang fikiran-fikiran negatif yang dapat terjadi pada Bunda. Makin memikirkan itu, semakin aku menangis sejadi-jadinya.

“Sheila, tenang. Bunda akan sedih melihat kamu seperti ini.”

“Tapi, Ayah..”

“Cukup, sekarang kamu hapus air matamu. Kita temui Bunda.”

Ayah dan aku berjalan beriringan menuju ruang ICU di lantai 2. Ruangan ber-AC, alas kaki dibuka dan memakai baju ruangan. Sesaat kemudian aku dapat melihat, sosok Super Mom-ku telah berubah menjadi wanita ringkih. Kabel menempel di dadanya untuk tersambung pada alat-alat aneh, sedangkan mulutnya tertutup masker oksigen.

Aku tidak bisa menahan tangisku lagi, tapi aku berusaha tampil kuat di depan Bunda. Aku mencium kening Bunda dan mengelus rambutnya. Aku menatapnya dalam-dalam, mukanya cantik bagai bidadari.

“Bunda, Bunda harus sembuh! Kita jalan-jalan, ya. Bunda, bangun dong. Aku sendirian di sini.”

Aku berusaha membangunkan Bunda yang masih tak sadar diri. Aku mulai menangis lagi, tapi saat ini tidak bisa aku tahan. Aku terus menangis, sambil memegang tangan Bunda yang diinfus.

Ketika mendengar suara mesin yang tersambung ke badan Bunda mulai tidak stabil, aku panik dan terus memegangnya. Ayah pun begitu, yang langsung teriak memanggil suster maupun dokter.

Setelah dokter datang, Ayah menarik tubuhku dari Bunda. Merangkulku dan membawaku keluar ruangan. Aku meronta, tapi kekuatanku tidak sebanding dengan Ayah.

“Sheila, biarkan dokter memeriksa Bunda.” Nada bicara Ayah sedikit meninggi.

Aku melihat Bunda yang sedang diperiksa dokter dari jauh. Suara backsound alat-alat itu, semakin membuat aku ketakutan. Aku tidak tega melihat Bunda, yang terus ditempelkan alat pemacu jantung. Sampai akhirnya backsound itu berhenti berbunyi, dan dokter menghampiriku maupun Ayah.

“Maaf, Pak. Ibu Nina sudah tidak ada.”

Aku dan Ayah tersentak mendengarnya.

“Bundaaaaa..”

Aku teriak dan menghambur lari ke ruang ICU, ingin memastikan kalau omongan dokter salah.

“Bunda, Bunda, Bunda banguuuun. Bunda jangan pergi. Aku sendiri di sini. Kalau Bunda gak ada, aku tinggal sama siapa?” Aku terus menangis, sambil memeluk Bunda.

*******

Kepergian Bunda, membuatku kehilangan separuh jiwa. Aku tak tahu arah, limbung. Entah harus bersandar pada siapa, setelah Bunda tidak ada. Hari kelulusanku pun, terlupa begitu saja. Kuanggap tidak penting, termasuk urusan rencana kuliah. Padahal, aku sudah terdaftar di salah satu Universitas Negeri di Yogya.

Aku sibuk berfikir akan jadi apa nanti, setelah Bunda tidak ada. Aku sadar, tidak mungkin terus membebani Om Tri. Dia bukan ayah kandungku, meski Om Tri  baik. Om Tri loyal, karena kemarin ada Bunda. Tetapi, sekarang Bunda sudah tidak ada.

Sementara aku tidak mungkin mengemis pada ‘mantan’ ayahku, laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Aku sama sekali tidak mau bertemu dengan dirinya, apalagi meminta padanya. Aku mulai berfikir untuk mencari pekerjaan, melupakan impian menjadi psikolog.

“Sheila,” panggil Ayah, ketika aku ingin mengambil minum di dapur.

“Ya, Ayah.” Aku menghampiri Om Tri yang duduk di ruang tengah. Setelah Bunda tidak ada, Om Tri masih tetap tinggal di rumah.

“Ayah ingin bicara denganmu.”

Aku kaget mendengar cara bicara Om Tri yang terkesan serius, membuatku berfikir yang tidak enak. Aku takut Om Tri sama seperti laki-laki yang tidak pantas dipanggil ayah itu, atau akan berbuat yang tidak-tidak padaku.

“Sheila, kok, melamun?” Pertanyaan Om Tri mengejutkan dan membuatku tersadar dari lamunan.

“Begini, Ayah mau bicara tentang kuliah kamu.”

Aku terperangah, menduga Om Tri akan bilang tidak bisa membiayai kuliahku dan menyuruhku bekerja.

“Oh, kebetulan. Aku juga ingin mendiskusikannya dengan Ayah.”

Aku mulai menceritakan keinginan untuk bekerja dan melepas kuliahku di Yogya.

“Tidak, Ayah tidak setuju. Kamu harus tetap kuliah.”

“Tapi, Ayah.. Siapa yang akan membiayai kuliahku? Aku sendiri di sini, Bunda sudah tidak ada.”

“Apa kau bilang? Sendiri? Lantas, aku kau anggap apa?”

“Maaf Ayah, bukan begitu maksudku. Tapi..”

“Tapi apa? Karena aku bukan Ayah kandungmu?”

Om Tri terlihat marah sekali mendengar perkataanku tadi. Dia mulai menceritakan keinginan Bunda, sebelum meninggal. Beliau ingin aku menjadi sarjana, lulus dengan nilai cumlaud dan memakai toga. Bunda ingin anak perempuan satu-satunya ini menjadi orang dan sukses, ia tidak mau aku menjadi seperti dirinya.

Mendengar jawaban Om Tri aku menangis, tak menyangka ketulusannya. Juga kembali sangat merindukan pelukan dan ciuman Bunda. Aku rindu bermanja-manja sepulang sekolah, sambil menceritakan keseharian di sekolah. Dan mulai membayangkan keinginan Bunda, agar aku menjadi seorang sarjana dan sukses.

“Karena itu, Ayah ada di sini. Akan terus di sini untuk mewujudkan mimpi Bunda. Ayah akan menemani sampai kamu sukses dan menimang cucu dari kamu, Sheila!”

“Tapi, Ayah?”

“Apa lagi? Kamu mau mengecewakan Bunda di sana?“

*******

Akhirnnya aku luluh juga. Bertekad meneruskan proses pendaftaran kuliahku di Yogya. Bahkan Ayah ikut menemani, hingga segala urusan kelulusan sekolah dan penerimaan kuliahku selesai.

Sehari sebelum keberangkatan ke Yogya, aku menyempatkan kunjungi makam Bunda dan berpamitan. Sedih rasanya harus meninggalkan Bunda di sini.

Bunda memang sudah tidak ada, tapi akan selalu tetap di hatiku. Di depan nisan Bunda aku berjanji, akan selalu menjadi yang terbaik untuk Bunda dan Ayah.. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: