Skip to content

Bukan Penyakit, Tapi Gangguan Pembelajaran

by pada 6 Maret 2014
(www.terapicalistung.com)

(www.terapicalistung.com)

Oleh Winda Sri Hastuti

Tentu kita tahu tokoh kartun Mickey Mouse hasil ciptaan Walt Disney. Namun tahukah Anda, kalau Walt Disney, –juga Albert Einstein bahkan Tom Cruise– merupakan penderita dyslexia?

Kata dyslexia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, dys (kesulitan) dan lexis (kata-kata). Singkatnya, disleksia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata. Penderita disleksia melihat seolah huruf bergerak-gerak dan beberapa huruf lebih besar dari huruf lainnya. Ada pula yang melihat huruf layaknya di cermin (terbalik), sehingga sulit membedakan s dengan z, b dengan d, p dengan q, serta m dengan w.

Penderita disleksia yang kebanyakan anak-anak ini, tidak hanya mengalami kesulitan membaca, Tetapi mereka juga mengalami hambatan dalam hal mengeja, menulis, dan beberapa aspek bahasa lain. Namun nyatanya anak-anak disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal, bahkan di atas rata-rata. Dengan penanganan khusus, hambatan yang mereka alami bisa diminimalkan.

Jika seseorang menyatakan disleksia sebagai penyakit malah kurang tepat, karena pada dasarnya adalah gangguan pembelajaran yang biasanya dialami anak-anak. Disleksia ini merupakan gangguan yang dibawa sejak lahir dan disebabkan faktor keturunan. Meski begitu, 30% penderita disebabkan faktor lain –selain faktor keturunan– yang hingga kini belum pasti penyebabnya.

Disleksia merupakan gangguan yang menyerang syaraf penderita. Menurut para ahli, disleksia adalah suatu kondisi pemrosesan input atau informasi yang berbeda (dari anak normal). Seringkali ditandai dengan kesulitan membaca, yang dapat memengaruhi daya ingat dan kecepatan pemrosesan input. Juga kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi, dan pengendalian gerak.

Meski setiap penderita memiliki tingkat berbeda –mulai ringan hingga berat– namun umumnya mereka mengalami 5 (lima) macam gangguan. Pertama, gangguan fonologi yaitu hubungan sistematik antara huruf dan bunyi.

Misal, mereka mengalami kesulitan membedakan ‘paku’ dengan ‘palu.’ Atau mereka keliru memahami kata-kata yang mempunyai bunyi hampir sama, seperti ‘lima puluh’ dengan ‘lima belas’. Kesulitan ini bukan disebabkan masalah pendengaran, namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.

Gangguan kedua masalah mengingat perkataan, meski sebenarnya anak disleksia mempunyai intelegensi normal, bahkan di atas normal. Mereka sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah ‘temanku di sekolah’ atau ‘temanku yang laki-laki itu.’ Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.

Ketiga, masalah penyusunan sistematis. Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan, misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka.

Mereka sering lupa susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, seperti lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya, bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya.

Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan waktu. Kadangkala bingung dengan perhitungan uang sederhana, contohnya tidak yakin cukupkah uangnya untuk membeli sepotong kue atau tidak.

Keempat, masalah ingatan jangka pendek. Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam waktu pendek. Andai Ibu menyuruh anaknya, “Simpan tas di kamarmu, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk mengerjakan tugas, tapi jangan lupa bawa serta buku PR, ya.” Kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna, karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.

Gangguan terakhir, masalah pemahaman sintaksis Anak disleksia sering mengalami kebingungan memahami tata bahasa. Terutama jika dalam waktu bersamaan, mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa berbeda.

Anak disleksia juga mengalami masalah dengan bahasa keduanya, apabila pengaturan tata bahasanya berbeda dengan bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan diterangkan–menerangkan (DM), contohnya kucing hitam. Namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan menerangkan-diterangkan (MD), yaitu black cat.

Sejatinya, disleksia merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Hingga kini belum ada cara memperbaiki kerusakan otak, yang mendasari serta menyebabkan disleksia. Namun disleksia dapat diminimalisir melalui melalui perbaikan pendidikan dan penanganan cepat. Selain itu, tes psikologi akan sangat membantu orangtua penderita dan guru guna mengembangkan program pengajaran perbaikan yang sesuai untuk penderita.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: