Skip to content

Cerpen: Kisah di Balik Mie Instan (1)

by pada 8 Maret 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(narimocandiasri.blogspot.com)

(narimocandiasri.blogspot.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Sahabat, pasti semua insan mengenal kata itu. Seorang sahabat diposisikan lebih dari sekadar teman biasa, yang selalu hadir dalam setiap musim di hati. Marah, sedih, gembira, dan gelisah. Dia selalu hadir melengkapi hidup, selain bersama keluarga.

“Ta, lo kenapa lagi, sih? Bentar diam, bentar ceria. Ada apa, sih? Ayo dong, cerita sama gue!” tanya Anin bingung.

“Hm.. ga apa-apa, Nin. Biasa aja, deh. Kayak baru kenal aja lo sama gue,” jawabku.

“Jangan bohong, deh! Justru karena gue kenal dekat sama lo, ga mungkin seorang Vita murung tanpa sebab. Pasti ada masalah, di balik diamnya lo sekarang,” kata Anin tegas.

“Ya, gitu, deh, Nin,” jawabku singkat.

“Ya gitu? Apa sih, maksudnya? Please deh, Ta. Jelek banget wajah lo kayak gitu. Sama, tuh, kayak kertas yang diremas-remas. Ayo dong, cerita! Mungkin gue bisa bantu,” kata Anin memaksa.

“Begini, tadi gue dipanggil sama Kepsek (Kepala Sekolah). Gue dituduh ambil kertas soal ulangan fisika di ruang Guru, padahal gue ga berbuat hal konyol kayak gitu. Pusing gue, jadinya,” jelasku.

“Oh, gitu.. Ya, ampun, Ta. Tega banget, sih, sampai lo dituduh kayak gitu? Harus disikilidi nih, harus pokoknya!”

“Haha.. Sikilidi? Selidiki maksud lo, Nin? Kebiasaan, deh, kalau ngomong pakai emosi selalu jadi aneh kata-katanya. Lucu jadinya. Haha..” jawabku seraya menertawakan Anin.

“Hahaha.. Alhamdulilah, deh, kalau sekarang lo udah bisa ketawa lagi, Ta. Hihi.. Bakat, nih, gue jadi pelawak termuda. Wahaha..” balas Anin dengan candanya.

”Iya juga, sih. Gue jadi senang dan sampai tertawa gini. Smart banget, deh, sahabat gue yang satu ini,” kataku memuji Anin.

“Hehe.. iya dong, ga tega gue liat lo murung kayak tadi. Tapi benar, kok, gue akan bantu lo untuk cari tau siapa yang tega memfitnah lo,” ucap Anin meyakinkanku.

“Hm.. iya, deh. Makasih banget, ya, Nin. Lo sahabat gue yang paling the best, deh, pokoknya,” seruku usai menyantap kwetiau kesukaanku.

Kami memutuskan perbincangan dan pergi dari kantin sekolah, sebab bel sekolah telah berbunyi sekitar 2 menit yang lalu. Kami segera masuk kelas dan meneruskan belajar hingga pulang sekolah.

Aku yang anti mata pelajaran yang berhubungan dengan hitung-menghitung, terkadang selalu minta diajarkan Anin yang menyukai mata pelajaran seperti itu. Maklum saja, aku lebih nyaman diajarkan sahabatku, jika dibanding oleh guru.

Anin tak pernah menolak mengajarkanku, berkiprah di dunia hitung-menghitung. Matematika, fisika, kimia dan yang berhubungan dengan itu, aku memang tidak menyukainya. Aku lebih menyukai dunia imajinasi dan tulis-menulis. Tak jarang, segala kisah yang kualami selalu tercatat dalam sebuah buku. Ya, sebuah buku yang biasa dikenal dengan Diary Book.

*******

Hari ini –seusai pulang sekolah– aku kembali membujuk Anin agar dapat mengajarkanku PR Kimia. Awalnya, Anin kurang berminat, karena sebenarnya hari ini ada jadwal basket. Tetapi dengan bujukan hatinya luluh juga, meski harus menunggu hingga ia menyelesaikan basketnya.

Mentari tampaknya perlahan sembunyi di balik langit yang mulai menghitam, namun tak menyurutkan semangatku belajar kimia dengan Anin. Sepanjang jalan menuju rumahnya, aku tak henti meminta maaf karena akan mengganggu waktu istirahatnya.

“Nin, please banget, ya, maafin gue. Duh, ga enak, nih, gue jadi ganggu istirahat lo,” kataku.

“Maaf untuk apa, sih, Ta? Ga apa-apa, kok. Gue juga belum ngerjain PR kimianya. Nanti di rumah gue, sekalian aja ngerjain bersama. Ok? Hehehe..” jawab Anin sambil tertawa

“Ok, deh, Nin. Sahabat gue banget, sih, lo. Hehehe..” pujiku

“Huh.. kebanyakan memuji l. Nanti pipi gue memerah, gimana? Haha..” canda Anin kembali

Udah ah, Nin. Jangan memancing gue ketawa. Malu tau! Ga enak sama penumpang lainnya. Hehe..” bisikku pada Anin

Perbincangan kami berakhir, seiring berhentinya angkutan umum. Kami segera turun dan berjalan menyusuri gang rumah Anin yang terbilang cukup besar.

*******

Sesampai di depan rumah Anin, aku disambut dengan beberapa pasang hamster yang asyik memanjakan diri dengan roda putarnya. Di rumah Anin memang hanya tinggal bersama ibu dan adiknya yang memiliki hamster. Walaupun tinggal bertiga, mereka tetap memberikan kehangatan sebagai keluarga kedua bagiku.

Ya, aku memang bersahabat cukup lama dengan Anin, juga telah mengenal dekat ibunya. Ajaran dan prinsip di keluarganya, sama seperti keluargaku. Karenanya aku seperti mempunyai keluarga kedua, jika berkunjung ke rumah Anin.

“Bu, ini ada Vita,”seru Anin kepada ibunya sambil memasuki rumah

“Oh, Vita. Sini masuk, Nak! Bagaimana kabarmu? Kabar keluargamu juga, bagaimana?” kata ibunya Anin seraya tersenyum

 “Alhamdulillah, baik, Bu. Kabar keluarga Vita juga baik. Ibu sendiri, apa kabar?” jawabku sambil mengulurkan tangan dan mencium tangan Ibunya Anin.

“Syukurlah, Nak, kalau baik-baik saja. Alhamdulillah, kabar ibu juga baik-baik saja,” kata Ibunya Anin.

Kami segera duduk di sofa ruang tamu. Membuka lembar demi lembar halaman buku kimia, yang dipenuhi rumus. Tampaknya Anin biasa-biasa saja, sedangkan aku nyaris sakit kepala melihat rumus-rumus itu. Dengan serius dan terkadang diselingi canda, Anin mengajarkan satu-persatu cara untuk menyelesaikan soal kimia tersebut.

Di tengah keseriusan kami menyelesaikan PR kimia, tiba-tiba Anin teringat permasalahanku 2 hari lalu. Dia memintaku untuk memberikan kertas soal ulangan fisika, yang 2 hari lalu tiba-tiba ada di dalam tasku. Aku bingung, mengapa Anin meminta dan ingin melihat kertas itu.

“Ta, coba, deh, lo lihat dengan jeli! Ini kertas soalnya, kok, udah diisi ya? Liat, deh, udah dijawab semua. Lengkap dengan rumus-rumusnya,” ungkap Anin sambil mengerutkan dahi.

Lha, iya, ya. Kok ga terpikir, sih, sama gue kalau ada yang udah ngisi jawabannya? Tapi, itu benar bukan tulisan tangan gue, Nin. Lo tau, kan, tulisan gue ga kayak gitu. Tulisan tangan gue, tuh, cenderung miring ke kanan. Ga kayak gitu. Ya, kan?” kataku heran.

“Hm.. iya juga, ya. Ini tulisan bentuknya ga jelas, keriting-keriting gitu. Iya, ini sih bukan tulisan lo. Dari awal juga gue percaya, kok, memang bukan lo, Ta, yang berbuat kayak gitu. Walau lo ga suka mata pelajaran fisika, tapi se-enggak-nya lo masih berusaha belajar sama gue kan. Daripada ambil soal ulangan di ruang Guru,” ujar Anin menbela.

“Sabar ya, Ta. Gue tahu, kok, lo bersikap jujur. Tapi cobaan dan orang yang ga suka sama sikap lo, mungkin aja ada. Nanti deh, gue pikirin jalan keluarnya. Kira-kira siapa yang coba-coba memfitnah l,” jelas Anin menenangkanku

“Iya, Nin. Kok ada orang yang sampai begitu sama gue. Udah sabar banget gue dari kemarin-kemarin. Makasih lagi ya, untuk kesekian kalinya lo mau bantu g,” kataku. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: