Skip to content

Cerpen: Kisah di Balik Mie Instan (2)

by pada 9 Maret 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(satap.blogdetik.com(

(satap.blogdetik.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Kami kembali menyelesaikan tiap soal kimia, yang sangat rumit bagiku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 Wib. Ibunya Anin menyuruhku menginap, begitu juga Bapak dan Ibuku melalui pesan singkat di handphone. Alhamdulillah, ku jadi leluasa mengerjakannya.

“Oh, iya, Ta. Omong-omong, kok, gue jadi laper ya? Hehe.. pastinya lo juga laper, donk. Udah malam gini, enaknya makan apa ya?” tanya Anin memecah keseriusan.

“Hmm.. iya juga, Nin. Gue juga udah terasa laper, nih. Tapi, bingung mau makan apa? Lo tau gue kan, mau makan aja ikutin mood. Paling yang praktis dan cepat, ya, cuma makan mie instan,” jawabku.

“Mie instan lagi, mie instan lagi. Ga bosan apa lo, Ta. Setiap main ke rumah gue, selalu makan mie instan. Ga enak, kan, gue jadinya.. Mosok, nyuguhin mie instan terus buat lo. Yang lain aja deh, ya! Ok?” kata Anin menentang permintaanku

“Ya udah, ga apa-apa, kok, Nin. Kan ga setiap hari juga, gue ke sini. Jadi, jarang-jarang gue makan mie instannya,” jelasku menyakini Anin

“Oh, ya, udah, deh. Berarti ga apa-apa nih, ya, makan mie instan lagi? Gue juga sama deh, kayak lo. Tunggu sebentar ya, gue masak mienya dulu,” ucap Anin, sambil mengambil mie instan.

Wangi mie instan kuah rasa ayam bawang kesukaanku, tercium hingga ke ruang tamu. Perutku tak dapat diajak kompromi lagi, Anin segera meletakkan 2 mangkuk di meja tempat kami belajar. Ibunya Anin yang baik hati, tiba-tiba membawakan setoples kerupuk sebagai  pendamping makanan. Beliah juga menyediakan cemilan untuk menemani, setelah kami menuntaskan mie instan.

*******

“Ta, kok, lo suka banget, sih, makan yang bentuknya keriting ga jelas gini? Hahaha..” kata Anin bercanda

“Ah, bisa aja lo, Nin. Ya, biar cepat aja dan ikutin mood gue yang ga suka ribet. Hehehe..” balasku

“Eh, tunggu dulu, deh. Ya ampun, Ta. Gue, kok baru sadar, ya.. Coba deh, lo perhatiin bentuk mie instannya! Keriting-keriting dan ga jelas. Serupa kayak tulisan jawaban di kertas soal ulangan fisika, yang ada di tas lo. Ya kan?”ungkap penasaran Anin

“Oh, iya, ya. Tapi, apa hubungannya?” tanyaku bingung

“Gue pernah liat teman di kelas kita, yang tulisannya lagi dikomentarin Guru: Ini tulisan kamu, kenapa keriting gini, sih, seperti mie saja? Saya kurang jelas untukj menilai tugasmu. Lain kali, tolong perbaiki tulisanmu, ya. Agar dapat dibaca orang lain! Kayak gitu komentarnya, Ta. Jangan-jangan dia, ya, orang yang memfitnah lo?” kata Anin berpikir agak negatif

“Benar juga yang lo bilang, Nin. Tapi, kan, ga bisa asal menuduh gitu aja, kalau ga ada bukti. Ya, kan? Mending besok anterin gue, yuk, ke ruang kontrol CCTV sekolah. Mungkin aja terekam di situ. Kejadiannya, kan, baru 2 hari lalu, pastinya masih terekam dong?” jelasku memberi saran

“Iya, benar banget lo, Ta. Gue setuju sama lo. Besok, pasti gue anterin lo, kok. Penasaran jadinya gue,” dukung Anin sambil melahap habis mie instan-nya.

*******

Keesokan hari di sekolah, aku dan Anin segera menuju ruang kontrol CCTV. Kami menemui pak Diman, meminta tolong diputarkan rekaman CCTV 3 hari lalu. Aku dan Anin terkejut saat melihat kejanggalan rekaman, saat makan siang di ruang Guru terlihat kosong.

Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang –yang menggunakan seragam sekolah– perlahan masuk ke ruangan dan mencari sesuatu di loker Guru. Tak berapa lama kemudian, ia mengambil selembar kertas. Kertas itu adalah soal ulangan fisika. Aku dan Anin segera melaporkannya pada Kepala Sekolah.

Tampaknya wanita yang statusnya sebagai siswi di sekolah kami, sangat mirip wajah dan bentuk tubuhnya dengan yang dituduhkan Anin semalam. Benarkah dia yang melakukannya? Salah apa aku sama dia? Mengapa dia setega itu padaku? Ah, suara ini selalu berbisik dalam hatiku, usai melihat rekaman CCTV.

Kepala Sekolah segera memanggil teman sekelasku, yang gerak-geriknya terekam di CCTV. Dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan, dia meminta maaf sebelum diintrogasi. Dia mengakui melakukannya, karena tidak suka pada sikap jujur yang kulakoni.

*******

Aku bersyukur, kasus ini terungkap. Tuhan masih sayang dan tak membiarkan diriku larut dalam kesedihan atas kesalahan yang tidak kulakukan. Aku juga merasa sangat beruntung, Anin sahabatku selalu membantu menuntaskan segala permasalahan di hidupku.

Mie instan –makanan yang bentuknya keriting itu– ikut menjadi perantara terselesaikannya masalahku. Melalui mie instan, tercetuslah pemikiran Anin tentang pelaku yang memfitnahku.

Kejujuran memang mahal harganya, begitulah kata sebagian orang. Kejujuran yang selama ini kulakoni, harus kubayar mahal dengan ketidaksukaan orang yang tidak mempercayai kejujuran itu sendiri. Walaupun begitu, aku percaya kebesaran Tuhan. Peristiwa yang memusingkan itu kuanggap sebagai cobaan bagi diriku, untuk bersabar dan memperbaiki diri.

Bukankah hidup memang begitu? Ada pro dan kontra. Yang lebih penting, masih banyak orang-orang yang mempercayaiku, dibanding memikirkan orang-orang yang tidak menyukai sikapku.

Terima kasih Tuhan, karena telah mengirimkan sahabat seperti Anin yang selalu membantuku dalam kesulitan. Jadikanlah aku, juga sebagai seorang sahabat terbaik untuk Anin.. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: