Skip to content

Tari Gandrang Bulo, Tak Lekang oleh Waktu

by pada 15 Maret 2014
(www.pilarsulut.com)

(www.pilarsulut.com)

Oleh M Aswien Fadhillah M

Budaya merupakan hasil karya yang tercipta dari moral, kepercayaan, keseniaan, dan adat istiadat yang di turunkan dari generasi ke generasi.

Karena kata “Budaya” (kebudayaan) –berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah, sebagai bentuk jamak buddhi (budi atau akal)– bermakna untuk segala hal terkait budi dan akal manusia.

Salah satu contohnya, Tari “Gandrang Bulo” yang diiringi tabuhan gendang dan biasanya disertai tabuhan bambu. Kata Gandrang Bulo berasal dari dua kata, gandrang (tabuhan atau pukulan) dan bulo (bambu).

Tarian ini dimainkan sekelompok orang dengan suasana yang ceria dan ramai, biasanya diselipkan juga dialog humor ataupun keadan yang menarik di sekitar kita. Gandrang Bulo, ketika itu, lantas menjadi kesenian rakyat yang amat populer.

Baru sekitar akhir 1960-an, tarian tersebut mengalami kreasi ulang yang dikomandani Dg Nyangka, seniman asal Bontonompo – Gowa. Sejak itulah tari yang penuh semangat ini dikenal dalam pentas acara-acara seremonial di seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara lain.

Pada awalnya, Gandrang Bulo sebenarnya sekadar tarian diiringi musik terdiri dari potongan bambu yang diadu secara serentak, gendang, suling dan alat gesek tradisional Makassar, yang hanya dikenal di kalangan para raja di Gowa Sulawesi Selatan.

Lazim disebut Gandrang Bulo Ilolo Gading, yang dinisbatkan pada salah satu perlengkapan musiknya yang terbuat dari bambu lolo gading atau dalam bahasa daerah Makassar dikenal sebagai bulo batti (jenis bambu tertentu).

Alat Perjuangan

Sebagai buah kebudayaan yang diciptakan para seniman di Makassar sekitar tahun 1942, Gandrang Bulo pun disulap bukan sekadar tari. Melainkan menjadi alat pembangkit semangat perjuangan, dengan mengejek dan menertawakan penjajah dan antek-anteknya.

Munculnya kreasi ini sebagai salah satu cara bagi para seniman melawan penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Mereka tidak hanya melakukan perlawanan fisik dan kontak senjata, juga lewat ekpresi kesenian di atas panggung.

Menurut seorang anggota senior Sanggar Remaja Paropo Dg Naba, sejak zaman Jepang Gandrang Bulo mulai disisipi dialog-dialog spontan yang disertai gerak gestur (bahasa tubuh) yang kocak .

Pada waktu istirahat kerja paksa, tarian ini dimainkan para pekerja sebagai hiburan. Beberapa seniman tampil diiringi musik Gandrang Bulo, lalu mereka meniru dan mencemooh gerak gerik dan perilaku tentara Jepang. Lama kelamaan ini dikenal sebagai Gandrang Bulo 1942.

Tetapi berbeda dengan seni tradisi yang lainnya, Gandrang Bulo mampu mengikuti perkembangan zaman. Kesenian rakyat ini menggabungkan unsur musik, tarian dan dialog kritis yang kocak, yang kemudian diramu dengan dinamis.

Improvisasi Bebas

Di Makassar para penari Gandrang Bulo sudah turun temurun dan dapat ditemukan di Paropo. Diakui masyarakat setempat, sejarahnya tak dapat dipisahkan dengan sejarah Paropo, sebab hanya di daerah ini ditemukan bambu bulo batti yang dijadikan gendang. Namun seiring pertumbuhan dan pemukiman penduduk, bambu tersebut kini sudah punah.

Bagi para senimannya, panggung menjadi tempat berkisah mengenai masalah hidup mereka sehari-hari yang diangkat sebagai tema. Mereka memang berasal dari masyarakat pinggiran, yang menghadapi kesulitan-kesulitan saat berhadapan dengan  oknum-oknum pemerintah atau siapa pun yang tak menghiraukan mereka.

“Mereka merasa tak berdaya, tapi tak menyikapi langsung dalam kehidupan nyata. Akhirnya dengan cerdas menampilkannya di atas panggung. Gandrang Bulo menjadi tempat mengeluarkan unek-unek mereka, merespon kondisi sosial di sekitarnya,” tandas Djumakkara, seorang pimpinan Sanggar

Penari membawakan karakter lucu, seperti orang idiot atau orang kampung yang lugu berhadapan dengan pemeran pejabat atau orang berkuasa yang angkuh. Orang idiot dan orang kampung itu selalu berhasil mencibir si pejabat. Begitu lucu gerak-gerik pemain, sehingga yang dikritik pun ikut tertawa. Terkadang kritikan seniman begitu keras, namun tetap dikemas dalam banyolan segar yang mengundang gelak tawa.

Yang lebih menarik lagi, formasi tariannya seolah tidak beraturan, bergerak ke sana kemari. Namun dengan komando irama lagu, mereka menunjukkan kekompakan (berhenti sejenak ketika musik berhenti, lalu bergerak lagi secara serentak ketika musik dilanjutkan).

Meski para penari Gandrang Bulo mengenakan pakaian tradisional, tetapi membuka ruang improvisasi, yang cukup bebas bagi para penarinya. Makin banyak penarinya akan semakin seru, karena itu umumnya tarian ini dimainkan 14 orang. “Dalam setiap kelompok biasanya memiliki 18 orang pemain, termasuk cadangan,”  jelas Usman.

Keliling Dunia

Sebagai seni tradisional masyarakat Sulawesi Selatan ini, tari Gandrang Bulo ternyata mampu mengocok perut penonton. Tak heran, jika sampai sekarang, penampilannya selalu mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat, baik lokal maupun internasional.

“Kita sudah keliling dunia mengadakan pertunjukkan, tapi sayangnya perhatian pemerintah masih sangat kurang dalam pengembangan seni budaya,” begitu ditegaskan Mustafa, generasi ke-5 Gandrang Bulo di Makassar.

Pihaknya sudah keliling dunia mulai dari Malaysia, Korea selatan, Afrika Selatan hingga Gedung Putih Amerika Serikat. “Di Malaysia kita mendapat gaji bulanan, beda dengan di negara kita, Indonesia. Padahal, jika seni tradisi seperti ini dikembangkan seperti di Bali dan daerah lain, bisa meningkatkan pendapatan daerah,” paparnya di akhir pertemuan kami.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: