Skip to content

Kugadaikan Waktu Bermainku demi Masa Depanku

by pada 18 Maret 2014
Ilustrasi (berkatdanyakin.blogspot.com)

Ilustrasi (berkatdanyakin.blogspot.com)

Oleh Agus Sujianto*

Siang itu, sang surya di langit Muntigunung tepat berada di atas bangunan tiap rumah, di hamparan desa yang lebih pantas disebut hutan belantara.

Betapa tidak, sebagian besar wilayah desa di kampung halamanku tersebut belum terjamah manusia, terlebih pembangunan dan masih berupa hutan.

Terik matahari, tak hentinya menyengat setiap kulit manusia yang bergelut dengan dunia luar, terlebih dengan kehidupan Budhiarti, gadis kecil yang makan dan sekolah dari tumpukan sampah sisa masyarakat.

Budhiarti adalah gadis yang harus bisa menghidupi dirinya sendiri, saat usianya baru beranjak sebelas tahun. Memang di saat tanggungjawab itu datang, mau atau tidak mau kehidupan harus dijalankan.

Memulung bukanlah pekerjaan hina bagi dirinya dan teman-temannya, melainkan adalah pilihan untuk bertahan hidup di kerasnya zaman tanpa menggantungkan hidup pada orang lain, terlebih pemerintah.

Kembali pada kisah pilu gadis pemulung, yang hidup dari tumpukan sampah di desa Muntigunung- Karangasem. Raut wajah pasi, tatapan mata kosong –namun berambisi– dan rambut yang selalu ia ikat ke belakang, menjadi ciri khas gadis ini saat melakukan aktivitasnya sepulang sekolah.

Penghasilannya tak seberapa, namun sangat berarti baginya. Per hari tangan mungilnya dapat mengumpulkan satu hingga tiga karung barang bekas yang ia peroleh dari TPSA Muntigunung- Karangasem, plastik bekas, kardus, botol-botol bekas, besi dalam segala bentuk dan ukuran itulah sasaran mata pencahariannya. Sebesar Rp 2500; hingga Rp 7500; adalah bayaran bagi kerja kerasnya mengumpulkan benda-benda daur ulang.

Baginya uang sebesar itu adalah berkah dari Tuhan, Budhiarti pun tak serta merta menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tak berguna atau untuk menyenangkan dirinya sendiri layaknya anak seumuran gadis ini, uang tersebut ia tabung untuk keperluan mendesak seperti untuk membayar SPP dan sebagian lagi dipergunakan untuk uang saku sekolahnya.

Jangankan memberikan uang saku kepada Budhiarti, untuk makan sehari-hari saja Men Ratih (ibunda Budhiarti) tak mampu dan harus ngutang kepada tetangganya, sedangkan bapaknya sudah berpulang saat dirinya berusia tiga tahun.

Budhiarti tak pernah mengeluh atau bahkan menyesali kerasnya jalan hidup ini. Di dalam kamus kehidupannya, tak ada lagi atau bahkan ia sudah lupa dengan kata bermain, yang ada hanya memulung, memulung, dan sekolah.

Saat anak seumurannya pulang sekolah dan bermain, saat itulah dirinya yang harus menghabiskan waktu bermainnya di atas gundukan sampah untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah.

Dalam keterpurukannya untuk menggapai biaya pendidikan kian hari dirasakan makin ‘menggencet’ tubuh kecilnya, hanya sampah – sampah dan pengait kesayangannyalah yang selalu ada untuk menolongnya.

Memulung adalah satu-satu jalan bagi Budhiarti untuk mengais rupiah demi hidup dan pendidikannya, tak layak memang jika kita lihat anak seumurannya harus merasakan langsung kerasnya mencari uang, terlebih seorang anak perempuan.

Namun, inilah hidup, siapa yang bisa bertahan dan beradaptasi, dialah pemenangnya karena di zaman sekarang menggantungkan hidup pada seseorang sama saja menyerahkan takdir hidupnya di tangan orang tersebut.

Pemerintah yang selayaknya adalah ‘malaikat’ bagi kaum-kaum sekelas Budhiarti, kini tak lagi ada suaranya saat Budhiarti dan masyarakat kecil lainnya di Muntigung ‘mendongakkan kepala’ dan ‘menengadahkan tangan’ kepada mereka.

Entah apa yang sedang mereka rencanakan di gedung sejuk dan berkusi empuk di sana, yang terpenting rakyat kecil seperti Budhiarti sejatinya sangat membutuhkan uluran tangan ‘kaum berdasi’ ini. Bahkan mereka sempat membuat janji tertulis yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 27, 31, 33 dan 34 mengenai nasib pendidikan Budhiarti, keluarganya dan Budhiarti – budhiarti yang lain.

Entah mereka lupa atau sengaja tidak merealisasikan pasal-pasal di atas. Namun, janji adalah janji yang akan tetap menjadi misteri. Budhiarti mungkin terlalu bodoh dan lemah untuk mempertanyakan pasal-pasal yang menjamin nasib pendidikan dan hidupnya.

Budhiarti adalah Potret rakyat kecil yang lelah menunggu untuk diperhatikan pemerintah di kampung alasku ini. Kampung halaman yang dulu sempat ramai diperbincangan saat akan ada pemilihan umum.

Seberapa pun pilunya kehidupan Budhiarti dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan pendidikannya, satu hal yang dapat saya petik dari sosok gadis kecil ini, yakni tidak pernah menyerah dan pantang menggantungkan hidup pada orang lain.

Saat senja mulai melukiskan garis senyum di ufuk barat, saat itu pulalah Budhiarti harus mengepak hasil jerih payahnya untuk disetorkan ke tengkulak rongsokan dan menerima beberapa receh rupiah yang akan dipergunakan menyambung hidup dan pendidikannya.

Senyum simpul dan sesekali loncatan girang ia tunjukan saat menapaki jalan-jalan kecil penuh semak yang mengantarkan ke gubuk bambunya. Di dalam sanalah Budhiarti melepaskan beban dalam pelukan Men Ratih, wanita renta yang telah melahirkannya ke dunia fana ini.

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara I Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: