Skip to content

Inilah Desaku, Kampung Halaman yang Selalu Memberikan Kerinduan

by pada 20 Maret 2014
(riaskuntik.wordpress.com)

(riaskuntik.wordpress.com)

Oleh Muhammad Aziz Ali Mutia*

Alam, budaya, religi, semua tersedia di kampung halamanku Desa Gerduren. Desa Gerduren terletak di Kecamatan Purwojati dan berada 40 km arah barat Purwokerto.

Desa Gerduren memiliki jumlah penduduk 4860 orang, dengan 2752 penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Tingkat pendidikan penduduk desa Gerduren tergolong rendah, dengan presentase terbesar hanya tamat SD yaitu 36,19%.

Apabila kita berbicara desa, maka alam merupakan aspek yang perlu dieksplor, begitu pula dengan alam di desa Gerduren. Desa Gerduren memiliki topografi wilayah berbukit bukit. Bahkan ketika kita menuju tengah desa, kita dapat melihat hamparan sawah luas dengan bukit nan indah.

Selain itu ketika cuaca mendukung, juga akan terlihat gunung tertinggi di Jawa Tengah yaitu Gunung Slamet (3428 mdpl). Desa Gerduren terbagi menjadi tiga wilayah utama, yaitu Grumbul Glempang, Kalipandan dan Grumbul Gerduren. Kedua grumbul ini dipisahkan oleh bukit (atau warga setempat sering menyebutnya kontrak) dan juga dipisahkan oleh hamparan sawah di tengah desa.

Dari atas bukit ini, kita dapat melihat hamparan sawah yang luas dengan keindahan yang luar biasa. Ketika padi sedang tumbuh subur, hamparan sawah ini akan terlihat rapi dengan warna hijau memanjakan mata kita.

Selain hamparan padi, kita juga dapat melihat deretan pohon cemara yang terletak di bukit. Di bukit bagian pojok terdapat kuburan tua yang konon merupakan kuburan mistis. Kuburan tua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari luar desa. Mereka biasanya datang ke kuburan ini meminta ‘sesuatu’. Misalnya, ketika mereka akan bergulat di dunia politik hingga pertandingan sepak bola.

Selain bukit, Desa Gerduren juga menyediakan keindahan alam berupa Sungai Tajum. Sungai Tajum merupakan anak dari Sungai Serayu, yang merupakan sungai terlebar di pulau Jawa. Sungai Tajum merupakan sumber air utama masyarakat pinggiran Desa Gerduren, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika air sungai sedang surut, sungai Tajum menawarkan keindahan alam yang luar biasa, karena watu wadas yang kelihatan di tengah sungai. Sempadan sungai yang landai, juga sering digunakan anak-anak untuk bermain bola.

Sayangnya ketika musim hujan, seluruh aktivitas di Sungai Tajum akan berhenti, karena debit air sangat deras dan menggenang sempadan sungai, yang biasanya digunakan sebagai pusat aktivitas bermain.

Selain sebagai aktivitas warga Desa Gerduren, sungai Tajum juga sebagai daya tarik bagi pengunjung yang memiliki kegemaran memancing. Ketika malam hari datang, jembatan yang dibangun di atas sungai Tajum ini akan ramai didatangi pemancing yang berasal dari luar desa.

Selain itu, sungai Tajum juga sering digunakan sebagai tempat olahraga ekstrim seperti panjat tebing. Penggemar olahraga ini akan bergelantungan di pinggir jembatan, dengan menggunakan tali dengan standar yang telah ditentukan..

Selain alam di Desa Gerduren juga terdapat jembatan peninggalan Belanda, yaitu jembatan Mancangan. Jembatan Mancangan merupakan jalur utama masyarakat Desa Gerduren menuju pusat kota, sebelum terdapat jembatan baru. Jembatan Mancangan hanya memiliki lebar 1 m, sehingga hanya dapat dilalui motor satu arah.

Di bawah jembatan Mancangan terdapat aliran irigasi untuk mengairi sawah di Desa Gerduren dan sekitarnya. Karena keadaan jembatan yang sangat ekstrim, menyebabkan banyak orang yang tidak berani untuk melalui jembatan ini.

Ketika angin besar atau banyak dilalui motor, jembatan ini akan berayun secara lambat. Karena sejarah dan keunikannya, menjadikan Mancangan sebagai daya tarik bagi penduduk desa lain untuk berkunjung ke Desa Gerduren.

Sebagai desa yang terletak jauh dari pusat kota, menyebabkan kehidupan masyarakatnya masih relatif sederhana. Kesederhanaan itu terlihat dari kebiasaan masyarakat, yang masih banyak mempertahankan kebiasaan nenek moyang. Berbagai kebiasaan yang masih sering dilakukan seperti “Sedekah Bumi”, “Mitoni”, “Sambatan”, hingga “Rewang”.

Sedekah Bumi merupakan kegiatan adat masyarakat desa Gerduren, yang dilaksanakan setiap tahun sebagai pertanda syukur kepada Yang Maha Kuasa. Sedekah Bumi dilaksanakan setiap keluarga membawa makanan pokok menggunakan tremol dan membawanya ke jalan.

Setelah berdoa –yang dipimpin oleh Pemangku Adat setempat– dilanjutkan makan bersama di tengah jalan, dengan satu tremol dimakan oleh satu keluarga.

Selain Sedekah Bumi juga terdapat upacara adat Mitoni. Upacara Mitoni ini merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan. Acara Mitoni memiliki tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung, senantiasa memperoleh keselamatan.

Serangkaian acara mitoni terdiri dari siraman, upacara memasukan telor ke dalam kain, upacara Brojoran, upacara ganti busana, upacara memutus lilitan janur, upacara memecahkan gayung yang terbuat dari tempurung, upacara meminum jamu serta upacara nyolong endhog. Rangkaian acara Mitoni diakhiri dengan makan bersama anak di Desa Gerduren.

Namun sebelum acara makan, dilakukan acara doa bersama agar anak yang lahir dapat lahir sehat seperti yang diinginkan. Sebelum makan bersama juga dilakukan acara mandi uang, yaitu menyebar uang receh di dalam baskom. Uang yang disebar, direndam di dalam baskom dengan air yang sudah didoakan. Ketika uang disebar anak-anak memperebutkan uang, sambil mandi air yang digunakan untuk merendam recehan tadi.

Sementara itu Sambatan merupakan acara gotong royong yang dilakukan di Desa Gerduren. Sambatan dilakukan ketika sebuah keluarga membutuhkan bantuan para tetangga untuk melakukan sesuatu, misalnya membangun tratag untuk hajatan.

Dalam sambatan tidak terdapat imbalan berupa uang, tetapi hanya ucapan terimakasih dengan makan bersama dan sepaket makanan untuk keluarga di rumah.

Sementara Rewang merupakan acara gotong royong yang lebih condong ke hajatan. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga akan melaksanakan hajatan, maka mereka akan mengundang beberapa keluarga untuk membantu mempersiapkan dan pelaksanaan acara hajatan. Bantuan yang dilakukan misalnya menerima tamu, memasak hingga menyiapkan berbagai keperluan tamu undangan.

Selain beberapa kebiasaan yang masih lestari, di desa Gerduren juga terdapat berbagai kebudayaan Jawa asli. Seperti kenthongan, lengger, kuda kepang, serta berbagai permainan tradisional seperti andher-andher. Hal ini membuat Pemerintah Kabupaten Banyumas menetapkan Desa Gerduren sebagai satu dari lima desa adat di Kabupaten Banyumas.

Kenthongan merupakan musik tradisional yang dimainkan oleh sekelompok orang, tidak hanya dapat mengiringi lagu jawa saja tetapi juga dapat mengiringi lagu nasional, pop, serta dangdut. Alat musik dalam kenthongan terdiri dari calung, bedug, dengan alat musik utama kenthong.

Pementasan Kenthongan bukan hanya permainan alat musik saja, tetapi juga terdapat penari Kenthongan.  Paguyuban Kenthongan di Desa Gerduren biasanya diundang untuk tampil di tempat hajatan baik di dalam desa maupun di luar desa. Selain itu paguyuban Kenthongan Desa Gerduren juga sering mengikuti berbagai festival dan perlombaan.

Lengger merupakan sebuah kesenian tradisional yang berkembang pesat di desa Gerduren. Desa Gerduren dikenal sebagai penghasil kesenian Lengger, setelah dimuat dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” oleh Ahmad Tohari yang sudah diterjemahkan dalam empat bahasa.

Tarian Lengger dimainkan beberapa penari menggunakan pakaian tradisional Jawa diiringi dengan alat musik, seperti gambang, saron, kendhang dan gong. Lengger dimainkan selama 10 menit dalam satu babak, yang memberikan pesan kepada kita untuk tetap membela kebenaran dan menyingkirkan kejahatan.

Desa Gerduren terkenal sebagai pusat Lengger karena banyak penari yang berasal dari Desa Gerduren. Kebanyakan dari mereka adalah turun menurun dari anggota keluarga untuk menjadi penari. Karena banyaknya penari yang berasal dari Desa Gerduren menjadikan Gerduren sebagai daya tarik bagi penduduk luar desa untuk belajar Lengger.

Selain Kenthongan dan Lengger di Desa Gerduren juga terdapat kesenian yang sangat berkembang yaitu Kuda Kepang. Kuda kepang atau masyarakat sekitar menyebutnya ebeg merupakan kesenian yang dimainkan oleh sekelompok orang yang terdiri dari penari, pemain alat musik serta sinden (yang menyanyi).

Kesenian Kuda Kepang biasa ditampilkan saat hari besar atau acara besar, seperti hajatan atau tujuh belasan. Acara ini biasanya berlangsung dari pagi hingga sore, dimana ketika pagi para penari menarikan tariannya diiringi musik tradisional Jawa. Ketika sore penari akan berada di luar kesadaran, karena anggapanya sudah dimasuki roh.

Kejadian aneh seperti memakan beling serta berjalan di atas beling, biasa dilakukan oleh penari sebelum pertunjukan ebeg selesai. Kejadian-kajadian ini, selalu menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu masyarakat Desa Gerduren.

Di Desa Gerduren juga masih melestarikan permainan tradiosional seperti ander-ander, yang merupakan permainan ekstrim yang dimainkan oleh sbeberapa kelompok orang. Mereka bekerja sama untuk memperebutkan hadiah yang dipasang di atas bambu.

Bambu yang dipasang memiliki tinggi 15 hingga 20 m. Bambu yang akan dipanjat tidak semudah untuk dipanjat. Hal ini karena bambu yang akan dipanjat diolesi oli terlebih dahulu. Permainan ini biasanya diadakan ketika acara tujuh belasan dan sangat menarik perhatian masyarakat Desa Gerduren.

Itulah ulasan sedikit mengenai kampung halaman penulis, yang selalu dibanggakan. Kampung halamanku ini kampung halaman yang penuh dengan keindahan alam, kaya akan budaya, serta penuh dengan sejarah.

Keterikatan batin penduduk asli Desa Gerduren dengan kampung halamannya pasti akan ada, walaupun telah merantau hingga puluhan tahun. Begitu pula yang penulis rasakan.

Walau tinggal dengan kelengkapan fasilitas kota, kemegahan bangunan kota, kecanggihan alat elektronik, tetapi rasa ini tidak mungkin bisa untuk melepas akan kerinduan terhadap kampung halamanku, Gerduren.

*) Penulis adalah mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara II Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: