Skip to content

IMLEK dan CAP GO MEH di Singkawang, Hongkong Van Borneo

by pada 22 Maret 2014
(penaone.com)

(penaone.com)

Oleh Nurul Ridho Al Amin*

Kampung halaman. Merupakan tempat dimana kita menghabiskan masa kecil. Tempat kita lahir dan besar di sana. Tempat menghabiskan masa-masa pendidikan dasar di sana. Berbicara kampung halaman, let me tell you something. Kampung halamanku adalah Kota Singkawang, tepatnya Kotamadya Daerah Tingkat II, Kota Singkawang.

Siapa pun yang berasal dari Kalimantan Barat, pasti tahu dengan Kota Singkawang. Kota yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang ada di Kalimantan Barat ini, berjarak sekitar 145 km dari Pusat Ibukota Povinsi, Kota Pontianak, dan dapat ditempuh melalui perjalanan darat selama 3 jam menggunakan mobil.

Dikenal sebagai Chinatown-nya Indonesia, menjadikan Singkawang ramai dikunjungi wisatawan –baik domestik maupun mancanegara– terutama pada saat menjelang Tahun Baru “Imlek.”

Singkawang juga memiliki beberapa julukan terkenal lainnya seperti “Kota Seribu Kelenteng” (Kelenteng: tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya) dan juga “Kota Amoi” (Amoi: sebutan untuk gadis berparas cantik keturunan Chinese).

Atau yang nama nge-trend untuk Singkawang adalah Hongkong Van Borneo (Hongkong dari Kalimantan). Disebut demikian karena pada pusat kota, pada bagian pasar, sebagian besar bangunannya tua dan berarsitektur China.

Selain itu, di pasar ini terdapat kawasan wisata malam, yang menyajikan beragam kuliner lezat, yang kawasan tersebut dikenal dengan nama Pasar Hongkong.

Sudah setengah tahun tidak pulang kesana, menjadikan rasa rinduku akan kampung halaman begitu besar. Bersyukur, tiga minggu lalu aku bisa pulang dan mengunjungi tanah kelahiranku. Tepatnya Sabtu, 25 Januari 2014 aku pulang dan menghabiskan waktu liburanku selama dua minggu di sana.

Dan yang membuatku lebih bersyukur lagi, karena aku pulang ke kampung halaman pada saat menjelang Imlek, tepatnya Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 31 Januari 2014.

Suasana Kota Singkawang pada saat menjelang Imlek berubah drastis. Banyak warga keturunan Tionghoa sudah mulai menghiasi rumah mereka. Tak terlewat juga kelenteng dan bahkan jalanan di pusat kota penuh dengan lampion, menambah indah suasana kota.

Saat malam tiba, penerangan kota didominasi oleh lampion yang berwarna merah, terutama pada bagian pasar. Hal tersebut dikarenakan pada pusat pasar terdapat sebuah Kelenteng tertua (yang diperkirakan telah berusia 200 tahun) yang menjadi icon Kota Singkawang. Kelenteng tersebut dikenal dengan Tri Dharma Bumi Raya.

Malam pun semakin meriah, dengan hadirnya kembang api dan petasan yang dinyalakan warga Tionghoa di masing-masing rumah mereka. Semakin dekat menuju hari Imlek, maka intensitas petasan dan kembang api yang dinyalakan akan semakin meningkat. Menyalakan kembang api dan petasan yang sudah menjadi tradisi Imlek ini, dipercaya oleh masyarakat Tionghoa dapat mengusir roh jahat di sekitar rumah mereka.

Jika pada saat Idul Fitri, ada acara lebaran (berkunjung ke rumah keluarga, makan kue, dan menghabiskan waktu bersama), maka untuk perayaan Imlek di Kota Singkawang juga melakukan hal yang demikian.

Mulai dari malam perayaan Tahun Baru Imlek hingga lima belas hari ke depan, masyarakat Tionghoa akan membuka rumah mereka, menerima tamu, baik itu teman maupun sanak saudara dari semua kalangan, untuk datang berkunjung. Tamu yang datang akan disuguhkan dengan berbagai macam kue oleh tuan rumahnya, dan salah satunya yang pasti selalu ada adalah kue keranjang.

Kue keranjang ini –atau yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Ti Kwe (甜棵)– adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue ini merupakan salah satu kue khas atau yang wajib ada saat perayaan Tahun Baru Imlek. Disebut kue keranjang, karena kue yang satu ini dicetak menggunakan wadah cetaknya yang berbentuk keranjang.

Untuk urusan kue keranjang, pada Imlek tahun 2010, kue keranjang raksasa dibuat di Kota Singkawang untuk memecahkan Rekor MURI. Tingginya satu meter dan berdiameter 2,88 meter. Total beratnya mencapai 8,735 ton.

Puncak dari perayaan Imlek sendiri di Kota Singkawang berada pada hari ke lima belas yang dikenal sebagai Festival “Cap Go Meh.” Cap Go Meh sendiri sebenarnya melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia.

Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harfiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Untuk di Singkawang, di kampung halamanku ini, perayaan atau festival dari Cap Go Meh ini sangat terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang terbilang menarik dan berbeda dari kota-kota lain di Indonesia karena pada festival ini terdapat atraksi “Tatung” (Tatung: manusia dirasuki oleh dewa-dewa).

Tatung sendiri merupakan peleburan kebudayaan Tionghoa dengan Dayak, sehingga para Tatung dari Dayak pun mengikuti Perayaan Cap Go Meh.

Ritual Tatung ini dilakukan bertujuan untuk mengusir kemalangan sepanjang sisa tahun sebelumnya. Tatung merupakan media yang digunakan dalam ritual Perayaan Cap Go Meh untuk menolak roh-roh jahat.

Selama menjadi Tatung, peserta dirasuki oleh dewa-dewa kemudian akan mengalami ketidaksadaran, sehingga mereka dapat melakukan tindakan yang berbahaya, seperti duduk di atas ratusan paku, menginjak pedang, menusuk kawat baja ke pipi mereka atau malah menyayat tangan mereka dengan pedang dan ajaibnya para Tatung ini tidak terluka sama sekali.

Ada ratusan Tatung yang biasanya mengikuti ritual Cap Go Meh, dan dari tahun ke tahun jumlah Tatung yang mengikuti ritual ini bertambah banyak.

Tidak hanya lelaki dewasa saja yang menjadi Tatung, wanita dan bahkan anak-anak juga turut memeriahkan ritual ini. Ratusan Tatung yang mengikuti ritual ini berasal dari seluruh penjuru Kalimantan.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang ditandai dengan arak-arakan naga, barongsai dan para Tatung yang kemudian berkeliling kota. Untuk tahun ini, rute dari Parade Tantung akan dimulai dari Stadion Kridasana kemudian menuju Jalan GS Lalang, berbalik ke Jalan P. Diponegoro, kemudian ke Jalan Sejahtera menuju Toapekong atau Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya. Dari kelenteng ini, prosesi kemudian akan dilanjutkan menuju Jalan Budi Utomo, Jalan Setia Budi dan kemudian berakhir di Jalan Niaga.

Jika kalian juga ingin berkunjung ke kampung halamanku, Kota Singkawang, apalagi ingin menyaksikan kemeriahan malam Imlek dan Perayaan Cap Go Meh-nya, disarankan untuk memesan kamar hotel jauh-jauh hari sebelumnya.

Kamar hotel di Singkawang ketika menjelang Imlek dan Perayaan Cap Go Meh akan habis, penuh dan telah ter-booking semua. Bahkan sejak Januari kemarin, dikabarkan hotel-hotel disana sudah penuh semua.

Namun, untuk mengunjungi kampung halamanku tidak perlu menunggu waktu Imlek atau Perayaan Cap Go Meh. Pemandangan di Singkawang sudah sangat indah.

Kota yang memiliki gunung, lembah dan pantai ini menjadi destinasi wisata yang pas untuk yang senang travelling. Keindahan gunung, hutan dan pantainya, juga salah satu pendorong wisatawan untuk mengunjung Singkawang, selain dari Imlek dan Perayaan Cap Go Meh-nya.

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Internasional Batam

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara III Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: