Skip to content

Cerpen: Kota Mungil Lautan Debu (I)

by pada 24 Maret 2014
(arrwidjayanto.blogspot.com)

(arrwidjayanto.blogspot.com)

Oleh Ratna Dewi*

Kotaku, kota mungil. Kota ini berada di pulau Jawa. Meskipun, mungkin, di pulau lain ada kota mungil seperti kotaku. Namun, kota mungilku ini berbeda dari yang lain. Di sini, tumbuh sebuah pabrik industri raksasa terbesar di Asia Tenggara penghasil baja. Karenanya, kotaku dijuluki sebagai kota baja.

Sejak aku kecil, pabrik itu sudah mempunyai banyak anak. Kini –ketika aku menjadi remaja tanggung berusia 19 tahun– pabrik rakasasa itu sedang hamil muda. Konon, empat tahun lagi ia akan melahirkan anaknya di lingkunganku.

Kehamilan pabrik raksasa itu disambut dengan suka cita oleh para penganggur, yang menyesakkan kota dan membuat pusing kepala. Namun, ada pula yang sinis menatapnya, karena kehadirannya hanya akan menambah sumbangan polusi di kotaku.

Tidak perlu terkejut, jika melihat ada segelintir orang Korea yang mengunjungi kotaku. Mereka bukan boy band asal negeri Ginseng, yang ingin mengadakan show di sini. Tapi, mereka adalah orangtua tiri dari anak pabrik raksasa itu. Mereka bekerjasama dengan Indonesia untuk membuat embrio, sebagai cikal-bakal dari kelahiran anak pabriknya. Letaknya hanya 100 meter dari rumahku.

*******

Sebelum ia lahir, debu-debu pembangunan yang terhembus angin sering mampir ke rumah warga, termasuk rumahku. Aku memohon pada ibu agar pindah rumah, karena para debu itu selalu menghias lantai teras rumah. Alhasil, sehari lebih dari tiga kali aku harus menyapunya.

Permohonanku ternyata sia-sia, ibu menolaknya. Katanya, banyak kenangan bersama ayah yang sudah tertumpuk di rumah kami, mustahil membawanya ke rumah yang baru. Mungkin, ibu lupa satu hal tentangku. Sejak kecil aku dikenal sebagai perempuan yang rentan terserang penyakit, meskipun itu hanya berupa debu.

Tidak hanya aku, para debu itu juga telah mengganggu kawanan burung gereja yang dulu senang bertengger di reranting pohon jambu di depan rumahku. Mereka memutuskan untuk tidak memunculkan kepak sayapnya lagi. Begitu pula halnya dengan bangsa capung. Mereka sudah tidak sudi untuk hinggap di pucuk-pucuk bunga, ataupun terbang berseliweran di atap rumah.

*******

Waktu telah menuakan kotaku dan mematangkan usia kandungan pabrik raksasa itu. Satu bulan terakhir ini napasku terasa agak sesak dan batuk-batuk. Hampir tiga tahun aku berusaha berdamai dengan para debu, mengakrabinya agar mereka mau menjadi teman paru-paruku. Tapi, tetap saja mereka menyerangku.

Akibatnya, seminggu yang lalu ibu memeriksakanku ke dokter. Ia khawatir batukku kronis. Sesampainya di sana, dokter menyarankan agar dadaku di rontgen. Biayanya cukup mahal, karena aku diperiksa di sebuah rumah sakit ternama di kotaku. Tapi, rupanya ibu telah mempersiapkan hal itu.

Ibu dan warga yang tinggal di sekitar lokasi kelahiran anak pabrik, dilanda banjir rupiah. Rupiah itu berasal dari para pekerja yang mengenakan helm merah, kuning dan hijau di kepalanya sebagai safety project. Mereka menyewa rumah kontrakan warga, ada pula yang menyewa rumah warga dalam jangka panjang sebagai tempat tinggal.

Makanan berupa nasi uduk, nasi goreng dan makanan lainnya, selalu ludes diburu oleh para pekerja. Ibu akhirnya memilih untuk membuka warung makan, menyediakan persediaan logistik bagi para pekerja yang kelaparan. Jika malam tiba, warung makan itu serupa lampu yang dipenuhi oleh kawanan laron. Ramai sekali.

Saat waktu telah menunjukkan pukul 06.30 pagi, para pekerja itu diangkut oleh truk-truk menuju lokasi. Aku tahu, karena kuamati mereka dari sini, dari jendela mungil kamarku. Posisi kamarku yang menghadap ke jalan raya, membuatku dapat leluwasa melihat semua aktivitas lalu-lalang manusia dari balik jendela.

Pagi ini rasa kantuk belum juga datang menjemputku. Hingga kini mataku belum mampu terpejam, setelah semalaman menghitung bintang-bintang. Mentari mampu membuat bulan mengantuk. Tapi, aku? Kurasa aku pun mampu melakukannya, jika tidak ada hal yang mengganggu pikiranku.

Kuputuskan untuk menunggu cahaya mentari merambat ke atas langit, seraya menaruh harap agar sorotnya mampu memberiku rasa kantuk. Posisi tidur senantiasa kuganti, tapi lagi-lagi itu tak berarti. (Bersambung)

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara I Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: