Skip to content

Cerpen: Kota Mungil Lautan Debu (2)

by pada 25 Maret 2014
(www.bodyandsoul.com.au)

(www.bodyandsoul.com.au)

Oleh Ratna Dewi*

Ketika jarum panjang tepat berhenti di angka sembilan, samar-samar kudengar sebuah suara ketukan sandal yang sudah tak asing lagi. Suara itu kian terdengar jelas, saat daun pintu kamarku terbuka. Lalu, menyembul lah kepala seorang wanita berusia separuh abad yang amat kusayangi.

Bajunya rapi seperti orang yang hendak bepergian. Warna bibirnya senada dengan rona pipi, yang bersemu merah berkat blush-on miliknya. Sebuah senyum manis mengembang di bibirnya. Ketika ia mendekat ke arahku, tercium lah sebuah aroma parfum yang menusuk kedua lubang hidung. Spontan kedua tanganku langsung menutup hidung.

Kenapa? Parfumnya wangi, kali.. Hehehe..” ucapnya padaku, yang terlihat terganggu dengan aroma minyak wanginya.

Gak usah ditutupin begitu.. Ini bukan minyak nyong-nyong,” belanya.

Perlahan kusingkirkan kedua tanganku. Sebisa mungkin kuakrabi aroma parfum itu, agar lubang hidungku mampu menyerapnya. Ia menyuruhku berbaring. Lalu memeriksa dahiku, layaknya seorang dokter sungguhan.

“Badanmu panas,” ujarnya serius. Rasa cemas jelas terpampang di wajahnya.

“Kamu masih batuk-batuk?” tanyanya.

“Sedikit..” jawabku agak malas. Dan jika bernapas terasa agak sesak, sambungku dalam hati.

Matanya meneliti mataku. “Matamu terlihat merah, seperti orang kurang tidur”

Bukan kurang tidur, Bu.. Tapi memang semalaman engga bisa tidur! sambarku dalam hati.

Jiwaku tergolak, di satu sisi aku ingin mengatakan ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sebagai penyebab dari mata merah. Namun, di sisi lain aku bingung, bagaimana caraku meluluhkan keteguhannya?

 “Ayo kita pergi ke dokter, ngambil hasil rontgen,” ajaknya, seraya meraih lenganku.

Tapi, segera kutepis ajakannya dengan lembut. “Bu, kemarin aku udah ke dokter.”

Kenapa kamu pergi sendirian?”

Enggak sendirian, tapi dianter sama teman” ucapku bohong. Padahal, aku memang pergi sendiri menemui dokter.

Dianter sama temanmu yang mana? Temanmu banyak.. Ibu enggak inget semua nama temanmu. Hasil rontgen-nya gimana? Terus, dokter bilang apa?” cecarnya, seolah aku buronan kelas kakap.

Dianter sama Nita yang berambut ikal itu…” kataku terpaksa bohong —lagi. Sejurus kemudian, ia mengerutkan keningnya. Menuntut jawaban yang lebih dari pada itu.

Aku terdiam untuk berpikir sejenak. Jika aku mengatakannya, kemungkinan besar keteguhannya tidak akan berubah untuk meninggalkan setumpuk kenangan di rumah ini. Tapi, aku harus keluar dari lautan debu ini!

Aku bisa saja membangkang, tapi, bagaimana nanti jika penyakit jantungnya kumat? Lalu sekarat, masuk rumah sakit, dan riwayat hidupnya tamat. Kiranya aku akan jadi anak yang lebih durhaka daripada malin kundang, dan penyesalan itu tak akan terobati sekalipun Tuhan mengutukku menjadi patung.

Berkali-kali kutelan air liur. Sulit rasanya meyakinkan Ibu, karena prinsipnya sudah mengerak. Ibu mencoba mancari jawaban melalui kedua mataku. Didapatinya gerakan dua buah bola mataku yang menunduk ke bawah.

Gimana hasil rontgen-nya?” tanyanya ulang.

“Hasil rontgen itu mengatakan aku bronchitis.

Air muka Ibu perlahan berubah menjadi keruh.

“Kata dokter, beberapa penyebab bronchitis di antaranya karena menghirup asap rokok atau sering menghirup debu, dan aku adalah manusia penghirup debu” tambahku menggebu.

Aku agak sedikit terkejut, karena tak lama kemudian sudah berada dalam rengkuhannya.

“Tenang saja, bronchitis bukan penyakit serius.. Itu dapat disembuhkan,” katanya berusaha menenangkan sembari mengelus rambutku. “Langkah pertama, kita harus pindah dari rumah ini.”

Seketika kukeluarkan diriku dari dalam rengkuhannya. Tak kusangka, keteguhannya luruh seketika.

“Bagaimana dengan setumpuk kenangan di rumah ini, Bu?”

Mataku yang berkaca-kaca, tak mampu kusembunyikan darinya. Tapi, ia tak segera menjawab. Bibirnya membisu. Lama kutatap kebisuannya, hingga terbitlah sebuah lengkung senyum yang terukir jelas di wajahnya.

“Maaf… seharusnya dari awal Ibu dapat berpikir bahwa kenangan itu akan selalu tersimpan di dalam hati, kemana pun kita pergi…”

Mataku yang semula berkaca-kaca, kini pecah. Ibu menatapku masih dalam lengkung senyumnya. Sedetik kemudian, kulihat ada sesuatu yang meleleh di pelupuk matanya. (Selesai)

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara I Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: