Skip to content

Cerpen: Kenari Bermahkota (1)

by pada 26 Maret 2014
(felixsdp.blogspot.com)

(felixsdp.blogspot.com)

Oleh Nadhirul Magfiroh*

Ana sangat bahagia untuk berita yang akan ia liput hari ini, bukan karena berita eksklusif yang akan ia dapatkan. Melainkan berita terakhir yang akan dia tulis, sebelum dia mengambil cuti musim panas dan pulang ke negara tercintanya, Indonesia.

Segala persiapan untuk pulang telah gadis itu siapkan, mulai dari oleh-oleh hingga sebuah kaktus yang 5 tahun lalu dia bawa dari Indonesia menuju Washington DC. Dia ingin membawa kaktus itu berlibur di tanah kelahirannya juga.

Pikiran yang penuh akan keinginan berjumpa dengan kampung halaman, membuat semangat Ana berkobar. Lima buah berita yang biasanya ia dapatkan mulai dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 03.00 sore, kini ia dapatkan hingga pukul 12.00 siang saja. Ia mengirim kelima berita itu kepada redaksi, dan mulai membereskan peralatannya di ‘kubu’ nya. Kubu, begitulah Ana menyebut kavling kecil tempat ia bekerja.

Selesai berkemas, beberapa teman Ana menghampirinya. Mereka terlihat baru saja menyelesaikan beritanya, sama seperti Ana. Mereka memeluk Ana dan saling menuntut oleh-oleh saat Ana kembali. Ana tersenyum melihat teman-temannya, dan seperti biasa dia mengiyakan apa yang diinginkan temannya.

*******

Bukan Ana namanya, jika tak tergesa-gesa. Setelah mengunci apartemennya dan bersiap untuk masuk lift, Ana teringat bahwa tiket pesawatnya tertinggal di meja ruang tamu. Dia kembali dengan tergesa untuk mengambilnya.

“Oh Tuhan, bagaimana bisa aku melupakan tiketku?! Oh,” gerutunya.

 Ana memasuki taksi yang telah ia pesan sebelumnya. Dia begitu tidak sabar, untuk menghirup kembali udara segar desa Kenari. Juga halaman masjid, yang ia ingat sebagai tempat bermain kasti bersama teman-temannya saat Ramadhan tiba.

Banyak hal lain yang kini berputar di pikirannya, yang membuatnya melupakan jetlag yang akan ia hadapi. Dan yang paling tak ia inginkan –ketika mengingat Indonesia– adalah bertemu mantan kekasihnya. Seseorang yang, menurut Ana, sangat sangat sangat ‘boyband.’

*******

Tidur lelap Ana segera terusik, ketika pengumuman bahwa pesawat mereka akan segera mendarat di bandara Internasional Juanda, Surabaya. Hati Ana membuncah bahagia, kini ia sudah berada di negara tercintanya Indonesia. Sebentar lagi, ia akan berjumpa dengan kampung tempat ia dilahirkan.

Ana memilih naik bus untuk menuju Klompen, kota kecil tempat kampungnya berada. Karena ia yakin betul, masih mengingat jalan menuju kampung tercintanya itu. Selain itu, dia merindukan bus Indonesia yang penuh sesak, seperti yang selalu ia jumpai ketika masih kuliah dulu. Sesampai di Klompen, ia berjalan menuju terminal angkutan umum yang akan melewati kampungnya.

“Pak, lewat kampung Kenari?” tanya Ana, dengan senyumnya kepada supir angkot.

“Kampung Kenari yang mana, ya mbak?” tanya supir angkot itu.

“Kampung Kenari yang di belakangnya kantor Kecamatan Klompen, pak?”

“Oo, Kenari Residence, tho. Iya mbak, lewat situ. Mari mbak, sebentar lagi angkot berangkat,” ucap supir angkot bersemangat.

“Kenari Residence? Kurang ajar sekali anak-anak, mengganti nama kampungku tanpa persetujuanku. Hahaha,” batin Ana.

Masih jelas di benak Ana saat itu teman-temannya mulai belajar bahasa Inggris dan memiliki mimpi memberdayakan kampung Kenari mereka. Begitu sudah berjaya, mereka berjanji akan mengenalkannya kepada seluruh dunia dengan nama Kenari Residence. Ana sungguh bersyukur –meski dia tak diundang– teman-temannya mampu mewujudkan mimpi mereka.

“Sudah sampai mbak, Kenari Residence. Mbak tinggal lurus saja, angkot gak bisa masuk,” ucap supir angkot.

“Oke pak, terima kasih.” Ana menyodorkan uang untuk membayar angkot tersebut.

Batin Ana mengatakan tentu saja angkot tak bisa masuk, mungkin jalan berbatu yang lima tahun lalu ia lalui, masih belum dibenahi. Masih teringat jelas, tak pernah ada angkot yang mau mengantarnya hingga depan rumah karena jalan berbatu itu. Namun Ana dikejutkan dengan jalan berbatu yang telah berganti dengan aspal halus, yang kini ia laluinya.

“Wow, hebat. Jalan berbatu itu sudah hilang, tapi kenapa angkot masih tak mau melewatinya?” batin Ana.

*******

Tak hanya dikejutkan oleh jalan beraspal, Ana juga dikejutkan oleh jajaran rumah-rumah elit yang bergaya konglomerat ketika ia memasuki kampungnya. Ana mengerutkan keningnya dengan heran. Dia tak lagi berpikir bahwa apa yang didepannya adalah apa yang lima tahun lalu dilihatnya. Dia menuju pos satpam yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

“Permisi, pak. Ini, kok, banyak rumah besar? Apakah semua ini milik kampung Kenari?” Ana mulai curiga.

“Mbak nyari kampung Kenari, ya? Waaah, ini dulu memang kampung Kenari, Mbak. Tapi, sekarang sudah jadi Kenari Residence. Kampung Kenari sudah dibeli sama yang punya Kenari Residence ini, Mbak.”

Seakan ada halilintar yang menyambar kepala Ana, saat ia mendengar kampung Kenari telah dijual. Dia kaget, tak ingin percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Dibeli pak? Jadi, ini bukan rumah warga kampung Kenari, pak?” Ana masih tak percaya.

“Bukan, Mbak. Kebanyakan rumah di sini punya orang kantoran. Kata Satpam sebelum saya, warga Kenari banyak yang ikut transmigrasi keluar pulau, Mbak.”

Ana benar-benar shock dengan segala hal yang baru saja didengarnya. Dia tak tahu dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hingga kampung kelahirannya itu dijual.

Dia mulai mengendalikan dirinya dan bertanya kepada Satpam itu, untuk alamat warga Kenari yang masih tinggal di sekitar daerah itu. Ana mendapatkan alamat salah satu warga Kenari bernama Pak Slamet, yang Ana kenal sebagai seorang penjual tahu kala itu dan kini berprofesi sebagai hansip di lingkungan perumahan itu.

Ana berjalan menuju Pos Hansip, sebelum menuju alamat yang diberikan Satpam perumahan itu untuk mencari pak Slamet. Dan benar saja, pak Slamet sedang berbincang dengan teman sesama hansipnya yang tak Ana kenal.

“Permisi, pak. Bapak Slamet?” Ana memastikan bapak yang didepannya adalah orang yang dicarinya.

“Iya, Mbak. Saya Slamet. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” jawab pak Slamet tersenyum, sepertinya lelaki beruban itu tak mengingat Ana.

“Saya Ana, Pak. Bapak masih ingat saya? Ana Safitri.” Ana mencoba mengingatkan lelaki tua itu.

Pak Slamet terlihat berpikir dan mencoba mengingat-ingat, “Ana? Ana, putrinya Pak Junaidi?”  ia tersenyum cerah.

“Iya, Pak. Saya putrinya pak Junaidi.” Ana tersenyum.

Hansip yang sudah lanjut usia itu menyalami Ana dengan bahagia. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang dulu suka mengejarnya jahil, demi diizinkannya untuk melihat proses produksi tahu itu setelah bertahun-tahun tak bertemu.

Kemudian dia memperkenalkannya dengan temannya sesama Hansip. Dan segera pak Slamet izin kepada temannya itu untuk pulang, agar Ana bisa beristirahat di rumahnya. (Bersambung)

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara II Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: