Skip to content

Cerpen: Kenari Bermahkota (2)

by pada 27 Maret 2014
(www.ouche.org)

(www.ouche.org)

Oleh Nadhirul Magfiroh*

Sesampai di rumah Pak Slamet, dengan penuh semangat Pak Slamet memberitahu istrinya, bu Parni, bahwa Ana datang. Bu Parni langsung memeluk gadis itu, mempersilahkan Ana untuk makan dan tinggal di rumahnya.

Ana awalnya berpikir untuk menolak dengan halus ajakan mereka, Ana tak ingin merepotkan pasangan suami istri itu. Namun layaknya orang tua, mereka memaksa Ana untuk tinggal, dan seperti biasanya Ana mengiyakannya.

Malam itu Ana mencoba memejamkan matanya, lelah yang menghinggapi tubuhnya dan menggodanya untuk tidur tak digubrisnya. Dia begitu penasaran, marah, marah kepada dirinya sendiri karena tak mengetahui hal ini terjadi pada tanah kelahirannya yang ia cintai.

Detik terus merayunya untuk memejamkan mata, tetapi baru setelah lewat tengah malam Ana mampu memejamkan matanya. Itupun harus terbangun satu jam kemudian dengan mimpi buruk. Setelah mimpi buruk itu, Ana tak bisa memejamkan matanya kembali. Dia beranjak mengambil air wudlu dan memilih untuk bersujud kepada sang Kuasa.

*******

Masih dengan mukena-nya, ketika Ana membuka jendelanya untuk menyambut sinar sang mentari yang hangat memeluknya. Dia benar-benar merindukan sinar matahari di sini, meski semua tak lagi sama. Dia masih bisa merasakan sinar matahari yang sama, seperti saat ia masih kecil dulu, melalui memorinya.

Ana membantu bu Parni berbelanja, menuju pasar sayur yang letaknya kurang lebih 5 km dari rumah bu Parni. Pasar ini adalah pasar baru, karena pasar umum dekat kampung Kenari yang dulu ada juga dihancurkan dan lokasinya diganti dengan supermarket besar.

Tak ada lagi pasar tempatku merengek pada ibu untuk dibelikan jajan wetenge pitik (jajanan pasar perut ayam) seperti dulu. Tempat berjajar jajanan tradisional itu, kini diganti oleh jajaran rapi barang-barang serta kue-kue impor yang tak ada dalam memoriku, bisik hati Ana.

Mereka lebih memilih berjalan menuju pasar, karena angkot pada pukul 05.00 pagi belum terlalu banyak, dan masih sulit. Pasar sayur yang mereka kunjungi pun, tak sebesar pasar umum yang dulu pernah ada untuk kampung Kenari. Mereka berbelanja sayur dan lauk secukupnya untuk memasak hari ini.

*******

Sesampai di rumah, Ana membantu ibu Parni menyiapkan sarapan. Bu Parni begitu senang dengan kehadiran Ana, karena dia begitu lama tak menjumpai warga sesama kampung Kenari selama kurang lebih 3 tahun.

“Ibu seneng banget, An, ketemu kamu. Sudah lama sekali gak ketemu kamu, dan ketemu warga Kenari yang lainnya, kurang lebih sudah tiga tahunan lah. Hmm..” ucap Ibu Parni lesu.

“Tiga tahun, Bu? Jadi perumahan itu dibangun sudah 3 tahun lalu, Bu? Kok bisa jadi kayak gini, gimana ceritanya, Bu?”

“Iya. sudah tiga tahun. Ceritanya panjang sekali, An. Tapi ibu masih mengingat betul, saat banyak sekali tetangga yang mengajak Ibu dan pak Slamet untuk ikut transmigrasi ke Kalimantan. Itu awal mula ibu sadar, kalau ketegangan yang selama ini terjadi menghancurkan Kenari,” Ibu Parni mengingat-ingat.

“Ketegangan apa bu? Seingat saya, 5 tahun lalu, saat saya pergi Kenari baik-baik saja. Ramah dan tak ada yang aneh.”

“Iya An. Saat itu, memang kampung masih baik-baik saja. Bahkan Ibu gak ada bayangan, kalau beberapa tahun kemudian akan jadi seperti ini. Semua itu bermula saat –entah kenapa— warga mulai sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pencapaian ekonomi warga Kenari meningkat. Dari situ mulai terlihat, selalu saja ada yang ingin dilihat sebagai nomor satu karena pencapaian ekonomi mereka,” tutur Ibu Parni memulai kisahnya.

“Mereka mulai tak menghargai aparat desa, merasa berkuasa dengan uang yang mereka miliki, mulai tak peduli dengan tetangga-tetangga mereka yang kurang beruntung. Mereka yang mampu sibuk menumpuk kekayaan tanpa peduli yang tak mampu, sibuk mempertahankan hidup dengan bergantung pada rentenir,” lanjutnya lagi.

Keadaan kampung jadi tak seimbang, sambung bu Parni dengan sedih. Banyak sekali yang pada akhirnya tak memiliki rumah karena disita rentenir. Juga iming-iming rumah dan lahan dari Pemerintah di tanah migrasi membuat orang-orang yang dililit kemiskinan memilih untuk bertransmigrasi. Banyak tetangga yang mengajak kami untuk ikut bertransmigrasi, tapi kami tak ingin meninggalkan Kenari dengan harapan bisa mengambil Kenari kembali.

“Tapi dengan sisa hanya 4 kepala keluarga dengan keadaan yang sangat sederhana pula dan hampir seluruh tanah kampung dimiliki oleh orang lain, kami terpaksa harus menerima tawaran pembelian untuk rumah kami. Dua kepala keluarga memilih pindah ke lingkungan rumah mertua mereka, dan dua kepala keluarga yang lain termasuk saya dan pak Slamet harus mencari tanah yang lain,” bu Parni menatap Ana sedih.

Ana memeluk bu Parni yang hendak meneteskan air mata. Ana mencoba menenangkan bu Parni, karena dalam hatinya Ana juga marah kepada dirinya sendiri. Dia begitu lupa dengan tanah kelahirannya, hanya sibuk dengan pekerjaannya di negeri orang. Bahkan dia tak sempat tahu konflik yang terjadi. Gadis itu begitu menyesal.

*******

Seusai sarapan, Ana meminta izin kepada bu Parni dan pak Slamet untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Ana sudah menjadi yatim piatu sejak ia menjadi mahasiswa, kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.

Ana memilih berjalan untuk ke makam, karena letaknya tak jauh dari rumah pak Slamet. Ana berjalan melewati perumahan elit itu. Beberapa meter setelah dari pintu gerbang, dia mengingat di situlah kebun tempat dia bermain petak umpet dengan teman-temannya.

Mereka menyukai kebun untuk bermain petak umpet, karena dulu banyak sekali semak yang sangat strategis untuk sembunyi. Namun yang dilihatnya kini bukanlah semak yang bisa digunakan untuk bersembunyi, tapi hanyalah bangunan besar dengan tulisan besar “GYM.”

Siapapun yang melewati Kenari Residence pasti berekspektasi bahwa siapapun yang memiliki rumah di sini adalah kalangan atas yang lebih banyak memiliki sifat individualis. Tanpa tahu bahwa dulu sebelum menjadi Kenari Residence, tanah itu pernah menjadi tanah yang penuh kasih sayang, gotong royong, keramahan, dan kepercayaan  antar warga yang menyebut diri mereka sebagai warga kampung Kenari.

Kolam renang yang begitu besar, mewah, dan ada beberapa mainan anak-anak terletak beberapa meter di depan tempat Ana berjalan. Banyak sekali anak-anak dan orang dewasa yang kini berenang di kolam itu.

“Mereka mungkin tak pernah tahu, bahwa tempat bercengkerama mereka kini dulu pernah menjadi kolam pemancingan ikan warga kampung Kenari. Kolam pemancingan yang setiap minggunya digunakan untuk agenda memancing bersama, dan memupuk kebersamaan kami. Sederhana dan bermakna, semoga yang mereka lakukan juga sederhana dan bermakna,” kenang Ana.

Lagi, Ana menemukan sebuah pohon lampu (pohon yang terbuat dari plastik dan ketika malam hari menyala). Seharusnya di situlah rumah pohon tempat Ana mengolah berita-berita pertamanya dan tempat Ana mengajak temannya mengolah misi rahasia. Bahkan tempat Ana bersembunyi, ketika dia masih mengantuk dan tak ingin pergi mengaji. Bukan tempat pohon mati, yang membuat teduh pun tak bisa.

Ana sangat terkejut ketika melihat sebuah bangunan bercat baru hijau putih namun bentuk sama, hanya halamannya saja yang menyempit: masjid tempat Ana mengaji. Halamannya yang selalu ia gunakan bersama teman-temannya untuk bermain, sepertinya tak dirawat semulia GYM, KOLAM RENANG, dan POHON LAMPU mereka.

Masjid itu berukuran dan berbentuk sama dengan yang ada saat Ana masih anak-anak, hanya catnya yang baru. Masjid tersebut tampak seperti orang tua yang rapuh dan sudah lelah. Malah saat Ana melewatinya, tak ada satupun yang ada di dalam masjid.

*******

Sesampai di makam, Ana duduk di samping makam kedua orang tuanya. Dia memanjatkan doa untuk orang yang dikasihinya itu, agar tenang dan bahagia di sisi-Nya. Ana juga meminta maaf, untuk segala yang telah terjadi.

“Bapak, Ibu, Ana pulang sehari yang lalu. Ana kaget, saat tahu kampung Kenari gak ada lagi. Ana marah sama diri Ana sendiri, bagaimana bisa Ana tak tahu berita ini ketika Ana bekerja untuk banyak berita,” tutur Ana terbata-bata.

“Pak, Bu, maafin Ana,” lanjutnya mulai menangis. “Karena gak bisa menjaga kampung kelahiran Ana dan keluarga kita. Ana semakin menyesal, ketika Ana gak bisa lagi melihat kebun petak umpet Ana, rumah pohon Ana, juga masjid Ana. Masjid Ana tak ada lagi yang mempedulikannya, Pak.”

Kalimatnya sudah terputus-putus, diringi tangisnya yang makin keras. “Sekarang Ana mengerti, kenapa bapak dulu selalu menegur Ana untuk pergi ke masjid untuk mengaji ataupun sholat. Masjid Ana terlihat seperti orang yang sudah sangat tua dan rapuh pak, bu. Dia terlihat begitu bersedih, tak ada yang merawatnya, tak ada yang mengunjunginya. Mungkin yang bapak dan ibu katakan dulu benar, Ana tak seharusnya memiliki cita-cita pergi ke negeri orang. Seharusnya, Ana lebih peduli dengan negeri Ana. Maafkan Ana, Pak, Bu.”

*******

Ana terus menangis tersedu, di samping makam kedua orang tuanya itu. Dia menyesali segala yang terjadi. Andai dia mampu, dia ingin mengulang waktu ketika dia masih memiliki rumah pohon, kebun petak umpet, memancing di hari minggu, serta masjid dan halamannya yang luas dan menjaganya bukan meninggalkannya.

Dia merindukan Kenari sederhana, yang begitu hijau dan hangat. Bukan Kenari bermahkota, yang begitu dingin tak dikenalnya. (Selesai)

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara II Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: