Skip to content

Cerpen: Kacang Juga Akan Rindu Kulitnya (1)

by pada 28 Maret 2014
(kolomkita.detik.com)

(kolomkita.detik.com)

Oleh Faiz Deja Ramadhan*

Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Namaku Dewo, aku lahir dari sebuah keluarga sederhana yang hidup di sebuah desa di salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten tempat aku lahir dan dibesarkan –dari kecil hingga aku bersekolah pada tingkat sekolah menengah atas– adalah sebuah tempat yang sangat indah, bahkan ada yang menyebutnya tanah para Dewa.

Aku lahir di dataran tinggi Dieng daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tempat yang indah dan menjadi banyak tujuan wisatawan –baik mancanegara maupun dalam negeri– inilah, aku hidup dan dibesarkan.

Udara yang sejuk atau bisa dibilang dingin, gunung, juga sawah yang hijau, merupakan kehidupan sehari-hariku dari aku kecil hingga aku remaja.

Namun sayang sejak menjadi mahasiswa hingga bekerja, aku berpindah dari satu kota ke kota lainnya sehingga aku jarang berada dalam waktu lama di kampung halamanku itu.

*******

Ya, inilah lamunanku ketika pulang kerja setiap sore, selama hampir beberapa hari terakhir ini. Lamunan yang terus berlanjut di dalam mobil sedan –yang menjadi saksi bisu– hingga setiap nyala warna lampu hijau membuyarkan lamunan itu.

Sampai di sebuah apartemen yang lumayan besar, aku selalu mengistirahatkan badanku sepulang bekerja. Biasanya aku selalu disambut senyum istriku, Dini namanya.

“Papi udah pulang! Mau Mami buatkan air hangat untuk take shower, Pi?”

“Boleh, deh, Mi. Papi agak pusing juga, soalnya.”

Lho, Papi kenapa, sih, Pi? Pasti urusan kantor bikin Papi stres lagi, ya? Inget kolesterol, Pi!”

“Iya, Mi. Papi gak apa-apa, kok, Mi. Tenang aja, lagi.”

Setidaknya, sahutan istriku saat aku pulang dari pekerjaanku di kantor, sedikit membuatku tersenyum bahwa dia masih tetap peduli dan menanyakan selalu keadaaanku.

*******

Hari demi hari berlalu, suasana di kantor pada pertengahan bulan semakin sibuk. Kadang aku masih terlihat tersenyum lebar, tertawa terbahak-bahak ketika berbincang dengan teman-teman kantorku.

Taipei memang dihuni oleh banyak orang-orang unik, kreatf, bahkan pandai. Aku pun tak salah, dulu menginginkan kerja di negara Taiwan ini.

Dulu aku yang sangat bersikeras mengajak istri dan anakku untuk tinggal di Taipei, setelah selesai kuliah di Jogja dan mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan teknologi informasi.

Dulu aku pula yang ingin cepat-cepat pindah dari Indonesia ke Taiwan, karena gaji yang akan aku dapat di negeri tempat aku bekerja ini sangat cukup dan besar, untuk seorang anak desa yang bisa sukses sarjana seperti ku.

Sekarang saja kita lihat, banyak sekali sarjana yang menjadi pengangguran. Belum tentu anak-anak desa bisa lulus sarjana, atau bahkan kuliah, karena keterbatasan biaya yang dimiliki orang tua mereka dan kemampuan ekonomi keluarga.

Maka dari itu, aku sangat bersyukur atas kehidupanku yang sekarang sudah cukup baik dan mampu membahagiakan keluarga. Juga orang tua dan adik-adikku yang ada di Indonesia.

Namun, setiap manusia terkadang memiliki rasa jenuh yang memuncak. Di saat banyak proyek, tender dan kerjasama yang harus aku perjuangkan untuk perusahaan, kadang lamunan itu tiba-tiba muncul lagi.

Lamunan tentang kampung halaman yang indah dan sejuk, lamunan tentang masa kecilku yang bahagia bermain di sawah, mandi di sungai, bahkan alam hidupku ketika remaja ialah mendaki Gunung Sindoro di daerah Dieng, kampung halamanku tempat para dewa bersemayam.

Walaupun demikian, aktivitas kantorku tetap berjalan dengan baik. Hampir sebagian tender, kerjasama dan proyek berjalan lancar, juga sukses. Karena lamunan itu, hanya mengganggu saat diam.

Kadang aku menjadi aneh tersendiri atas lamunanku. Hal yang selalu membuatku bertanya-tanya: sebenarnya apa artinya lamunanku yang hampir dua minggu ini, mengingatkan aku pada kampung halamanku dan juga masa kecilku, apa ini artinya aku merindukan itu semua?

Di tengah-tengah lamunan itu, juga sedikit terbisik kata-kata hati yang mengingatkanku atas keputusanku dahulu. Atas keputusan masa depan yang ingin aku tempuh, untuk hidup sendiri berusaha mandiri bersama keluarga kecil, yang waktu itu hanya aku berdua dengan istriku.

Kadang hati berbisik untuk bertanya sekarang, mengapa dulu kau terburu-terburu pergi ke negeri orang. Padahal orang tuamu juga masih merindukanmu, yang baru selesai kuliah di luar kota selama empat tahun?

Karena saat aku lulus kuliah, waktu yang aku berikan kepada keluargaku sebelum pergi bekerja ke negeri orang hanya sekitar dua bulan. Sangat sebentar, padahal aku baru saja kuliah empat tahun di Jogja. (Bersambung)

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Gajah Mada. Jogjakarta

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara III Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: