Skip to content

Cerpen: Kacang Juga Akan Rindu Kulitnya (2)

by pada 29 Maret 2014
(cumangasihtau.blogspot.com)

(cumangasihtau.blogspot.com)

Oleh Faiz Deja Ramadhan*

Awalnya saat menginjakkan kaki di Taipei ini, aku merasa terlalu cepat untuk pergi meninggalkan kampung halaman dan Tanah Air, sehingga rasa rindu itu kadang muncul.

Namun setelah aku menjalankan perkejaan dan kesibukan selama hampir sepuluh tahun ini, aku belum pernah merasakan rindu kampung halamanku seberat sekarang.

Ya, memang setiap minggunya aku masih menelepon bapak dan ibuku untuk bercerita banyak hal, Kesehatan dan kebugaran di saat umur lansia mereka, juga yang selalu membuatku kuat tetap menjalani hidup mandiri di negeri orang.

Selain itu istriku, Dini, dan putri semata wayang kami, Tania, adalah pelengkap keluarga kecil yang bahagia. Mereka berdua adalah kehidupanku, yang membuat aku tetap bertahan akan segala ujian hidup terutama pada soal pekerjaan. Senyum kedua wanita tercantik yang aku miliki itu, seakan menjadi naluri penyemangat di dalam jiwa yang selalu menghiasi suasana hidupku.

Namun rindu terhadap kampung halaman, sudah sangat tak bisa aku bendung lagi. Rindu untuk sekadar menengok dan singgah sebentar di Indonesia dan kampung halamanku di Dieng, ingin sekali segera dihapuskan.

Cara menghapus rindu itu adalah bertemu dan mengusahakan apa yang kita rindukan menjadi tercapai, yaitu dengan pergi ke Indonesia sebentar mungkin dengan mengambil cuti. Karena selama hampir sepuluh tahun ini aku sudah lama tak melihat Indonesia, apalagi menginjakan kaki di kampung halamanku.

*******

Sampai suara ketukan itu mengganggu lamunanku, yang entah sudah ke berapa aku mengingat kampung halamanku dalam lamunan-lamunan itu.

“Tuh, kan, Papi ngelamun lagi?” tanya istriku di balik pintu kamar, setelah membuka pintunya sedikit.

Gak, Mi. Mami aja yang selalu berpikiran seperti itu.”

“Ada apa, sih, Pi? Kantor? Proyek? Udah sepuluh hari lho, Papi ngelamun dan murung begitu terus,” tanyanya lagi untuk kedua kali, seperti benar-benar menginterogasi.

“Bukan, Mi. Masalah lain. Papi lagi kepikiran Indonesia aja.”

“Indonesia, emang kenapa sama Indonesia, Pi?  Mami tadi lihat, gak ada berita bencana apa-apa di Indonesia.”

“Bukan soal bencana juga, Papi sepertinya rindu ke Dieng Mi. Rindu Bapak, Ibu, keluarga.”

 “Ya ampun, Pi. Mami kirain Papi kenapa, soal itu toh. Mami juga sebenarnya ingin sekali, sih, Pi. Kita liburan sebentar ke Indonesia, toh, Tania belum pernah liburan ke sana. Dia kan umurnya sudah sepuluh tahun, sudah besar lah untuk kita ajak berpergian.”

“Dulu saat Tania umur tujuh tahun, Mami sebenarnya juga rindu keluarga. Tapi Mami juga gak enak minta ke Papi buat kita ke Indonesia, kan Papi juga sibuk sama pekerjaan,” jelasnya, yang membuat aku sedikit kaget.

“Maafkan Papi, ya, Mi. Selalu sibuk kerja dan gak ada waktu buat keluarga, apalagi mikirin liburan yang panjang dan mengasyikan.”

Gak apa-apa, aku sama Tania juga ngerti, kok. Papi juga kerja, kan, buat Mami dan Tania.”

“Terima kasih, ya, Mi,” jawabku sangat terharu dan meneteskan  setetes air mata.

*******

Sejak percakapan itu, aku memutuskan untuk mengambil cuti sekitar dua bulan untuk melakukan liburan panjang bersama istri dan putriku ke Indonesia. Kini pesawat yang kami tumpangi menuju Semarang dan nantinya akan dilanjutkan dengan perjalanan darat ke kampung halamanku di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Akhirnya aku menginjakkan kaki di kampung halamanku. Dieng masih sejuk seperti dulu, keindahan alamnya belum terlalu banyak tersentuh modernisasi. Objek wisata andalan di kampung halamanku ini, sangat dirawat dengan baik sehingga tetap asri.

Kompleks Candi Arjuna, Telaga Warna, Puncak Sikunir, Gunung Sindoro, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, semua objek wisata alam yang indah dan beraneka ragam di kampungku ini seakan menjadi primadona Indonesia. Memang Dieng adalah tanah para Dewa, menurutku.

Aku merindukan Dieng, sebagai kampung halamanku, setelah sepuluh tahun aku tinggalkan. Kalau dulu aku putuskan untuk pergi dari kampung halamanku itu ke negeri orang, agar bisa hidup mandiri. Bak seorang yang seperti kacang yang lupa kulitnya, dan menetap di Taiwan selama sepuluh tahun.

Tetapi kini aku sadar, tidak semua kacang akan lupa pada kulitnya. Sebagian besar  kacang juga pasti akan merindukan kulitnya, seperti kampung halaman asalnya. Dan memang bukannya harus begitu bahwa janganlah kita menjadi kacang yang lupa pada kulitnya.

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Gajah Mada. Jogjakarta

Catatan: Tulisan ini merupakan Juara III Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: