Skip to content

Harapan Rindu

by pada 30 Maret 2014

Oleh Rabiah Adawwiyah

(inspirably.com)

(inspirably.com)


Sang Surya

Aku terpuruk, tersungkur, kuyup, sendiri.
Kapan hujan deras berhenti membasahi?
Di mana engkau wahai Surya yang kurindukan?

Tak sudikah kau menghangatkan diriku yang lemah ini?
Ku ingin sapamu, juga senyum indahmu..
Aku ingin ceriamu,
sama di saat dulu kau menyinari ruang kamar tidur dan hatiku.

(www.aussievault.com.au)

(www.aussievault.com.au)

Harapan Kosong

Mungkin musim semi takkan tiba sebelum waktunya, daun-daun yang berguguran telah menjadi pupuk. Sseseorang telah mengambilnya dariku untuk kesuburan pohon lainnya. Kini aku mengering, sendiri tanpa daun dan bunga. Hanya bisa menunggu hari, hari di mana diriku mendapatkan ketenangan, hari di mana aku tak dapat lagi berharap akan adanya musim semi.


(sypura.wordpress.com)

(sypura.wordpress.com)

Sederet Rindu

Aku menantimu pulang,
kau berlalu ketika datang.
Aku mendapat beasiswa,
kau diam tak berkata.
Aku semangat rencana liburan,
enteng saja kau batalkan.

Ayah… Di mana kau?
Saat sekelompok teman mengucilkanku.
Saat anak laki-laki menggangguku.
Saat aku menangis tersedu karna jatuh.
Saat aku benar-benar ingin memelukmu.

Ayah…
Kau ada, namun tiada.
Kau nyata, namun buta.
Kau jeli, namun tuli.
Kau sayhdu, namun bisu.

Kau sibuk dalam pekerjaan, aku tahu.
Kau nyaman di singgasana, aku juga tahu.
Kau terbuai pesonamu, aku bahkan tahu itu.
Ayah, tidakkah kau tahu?
Sungguh, aku rindu.

From → Puisi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: