Skip to content

Sang Lentera Kehidupan

by pada 3 April 2014
(ea-bio.blogspot.com)

(ea-bio.blogspot.com)

Oleh Yunanda Ferlisa

Seketika aku termenung, ketika melihat wajah Ayah dan Ibuku yang tengah tidur nyenyak. Mata mereka tidak lagi cerah seperti dulu, terdapat kantung mata yang menyiratkan kelelahan. Kulit mereka tidak lagi segar, mulai tumbuh keriput-keriput halus di wajahnya. Ya, kelelahannya karena berjuang untukku: anak semata wayangnya.

Semua orang pasti mempunyai keluarga, termasuk aku. Terlahir sebagai orang biasa, namun aku merasa luar biasa karena mempunyai keluarga yang menyayangi aku. Keluarga kecilku terdiri dari Ayah –seorang karyawan di suatu universitas negeri di Jakarta– dan Ibu –seorang Ibu rumah tangga.

*******

Ayahku rela membanting tulang, sejak matahari terbit di timur hingga tergelincir di barat. Semuanya dilakukan untuk menghidupi keluarga kecilnya, memperjuangkan agar anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya dan menjadi orang yang berguna kelak.

Darah Batak-Jawa yang mengalir di tubuhnya, membuat ia terlihat seperti orang yang kasar. Namun bagiku, dia adalah orang yang lembut. Selain tugasnya menjadi tulang punggung keluarga, dia tetap tidak melupakan tugasnya menjadi orang yang disiplin dan menjaga anaknya.

Ibu adalah sosok malaikat, yang bisa dilihat dengan kasat mata. Dia selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Terkadang aku melihat air muka yang sedih, namun ketika kutanyakan Ibu selalu menutupinya dengan senyuman manis seolah tidak terjadi apa-apa.

*******

Aku juga belum menjadi sosok yang dewasa, padahal umurku sudah menginjak 19 tahun. Ibu selalu menyiapkan segala kebutuhanku, meski aku bisa menyiapkannya sendiri. Apapun yang aku minta, juga selalu mereka penuhi. Sikap inilah yang terkadang membuatku menjadi sosok yang manja.

Di saat mereka menyuruhku mengerjakan suatu hal, terkadang aku tunda sejenak. Jika mereka marah, selalu ada kata “Ah” yang tidak sengaja lahir dalam kalimatku. Ayah selalu marah, jika aku belum pulang ke rumah ketika jam sudah menunjukan pukul 21.00. Sedang Ibu selalu khawatir, jika aku sudah tidak dibukakan pintu rumah oleh Ayahku.

*******

Sekarang aku harus tinggal berjauhan dari mereka. Mencoba hidup mandiri dengan menyewa kamar kost dekat kampusku, karena jarak rumah dan kampus yang jauh. Awalnya aku kira hidup berjauhan dari mereka membuatku senang, namun ternyata sebaliknya.

Aku merasa kesepian, karena tidak ada lagi senyum Ibu dan omelan Ayah. Aku sempat berpikir, bagaimana kalau aku benar-benar kehilangan mereka. Aku tak sanggup membayangkan kelak hidupku menjadi gelap, seakan tidak ada cahaya setitik pun.

Di saat aku gagal, Ibu adalah motivator terhebat dalam hidupku. Dia mampu menenangkan dan menyemangati untuk menjadikan kegagalan sebagai motivasi. Meski Ayah dan Ibu menginginkan aku menjadi seperti yang dia minta, namun mereka selalu membebaskan keputusannya padaku.

Mereka selalu berkata, “Ini hidupmu, jadi semua pilihan ada di tanganmu, Ayah dan Ibu hanya menuntunmu, agar tidak melenceng ke arah yang salah.” Aku selalu percaya, setiap doa mereka selalu untukku. Kesuksesan selalu berawal dari doa orangtua.

Meskipun banyak sifat dan sikapku yang salah, aku sangat sayang sama mereka. Mereka menjadi alasanku, untuk segera mencapai segala cita-cita. Mereka adalah sumber kebahagiaanku, selalu ada kenyamanan berada di antara mereka.

*******

Aku bertekad untuk membahagiakan mereka, sampai akhir hayat nanti. Mendoakan mereka saat jauh dan kelak membelikan rumah baru untuk mereka. Impian terbesarku adalah melihat mereka nantinya dapat menginjakkan kaki ke Tanah Suci, beribadah haji dari hasil keringatku sendiri. Meminta doa dan restu, saat nantinya duduk di pelaminan dengan jodohku kelak.

Ayah adalah sosok imam yang aku banggakan dan kelak aku ingin mempunyai suami seperti Ayah. Jika sudah berumahtangga nanti, aku ingin seperti mereka. Dalam situasi apapun, selalu berbagi. Senang dan susah mereka alami bersama, meskipun ada kerikil-kerikil masalah tapi mereka tetap bersama.

Sampai kapanpun, kebaikan Ayah dan Ibu tidak akan pernah bisa diukur oleh apapun. Walau aku dapat memberikan bulan dan berjuta harta, namun belum cukup untuk membalas cinta kasih mereka.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: