Skip to content

Sang Veteran dari Kota Depok

by pada 5 April 2014
(Mugenih bersama istrinya-foto dan piagam. Foto: BQ)

Mugenih bersama istri dan piagam (Foto: BQ)

Oleh Berliana Qori’ah

Tahukah Anda, ada pahlawan yang tak tersorot oleh publik di Kota Depok? Siapakah dia yang selalu bersemangat itu? Bagaimana pesannya untuk generasi muda?

Pahlawan, sebutan ini diberikan untuk mereka yang telah berjuang membela tanah air. Seorang pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raga. Tanpa lelah dan tanpa pamrih, mereka berjuang demi satu tujuan: kemerdekaan.

Indonesia telah merdeka dari penjajah sejak 68 tahun lalu. Banyak pahlawan yang gugur dalam berjuang di medan perang. Namun, tak sedikit pula yang berhasil selamat dan melanjutkan hidup hingga kini. Walau kehidupan mereka jauh dari sorotan publik, tetapi mereka tetap bersemangat menjalani hidup dalam kemerdekaan Indonesia sebagai veteran.

Dia adalah Mugenih, laki-laki berusia 89 tahun seorang pejuang veteran. Saat Indonesia belum merdeka, ia tergabung dalam Heiho pada zaman penjajahan Jepang. Ketika Indonesia telah merdeka 1945, Mugenih tergabung dalam anggota Laskar Rakyat dan BKR, hingga berganti menjadi TNI.

Pejuang veteran ini tinggal di rumah pribadi sederhana, yang terletak di Margonda Raya Depok, Jawa Barat. Ia tinggal bersama istri dan salah satu anaknya yang telah berkeluarga. Mugenih merupakan warga asli Kota Depok dan menetap di Depok hingga sekarang.

Pada tahun 90-an, Suami dari Aisyah ini mendapatkan beberapa piagam penghargaan. Antara lain: dari Dewan Harian Nasional Angkatan-45 pada 17 Agustus 1995, dari Kepala Kelurahan Pondok Cina 17 Agustus 1995, dan dari Walikota Depok 17 Agustus 1996. Kesemuanya diberikan pada Mugenih sebagai apresiasi atas perjuagannya membela Tanah Air.

Piagam-piagam dalam bingkai kayu yang terpajang rapi di dinding rumahnya, memang menjadi bukti sejarah. Di masa sekarang, penghargaan seperti itu tak diterimanya lagi. Bahkan, keberadaannya pun tak tersentuh publik.

Mencari Tambahan Uang

Kehidupannya kini di masa senja, dapat dikatakan jauh dari kemewahan. Meski semua anaknya telah berkeluarga, tetapi ia tak mau meminta apa-apa dari anak-anaknya. Malah anak ke-5 pasangan H. Adih dan Saodah ini, bertekad menghidupi diri sendiri dan istrinya. Namun jika hanya mengandalkan uang pensiun, memang tak akan mencukupi biaya hidup. Oleh sebab itu, ia bekerja sampingan sebagai tukang urut di rumahnya.

Setiap hari ada saja orang yang ingin diurut olehnya. Mereka memang menderita suatu penyakit atau sekadar pegal-pegal biasa. Biasanya, mereka memberikan uang seikhlasnya atas jasa urut Mugenih. Saat ini pun ia masih tetap menerima orang yang ingin memakai jasa urutnya, walau sebenarnya tenaga yang dimiliki Mugenih tak sekuat dahulu.

Beberapa tahun yang lalu, Mugenih telah kehilangan sebagian pendengarannya. Faktor usia membuat veteran ini harus merelakan pendengarannya berkurang. Terkadang tetangga atau orang lain yang menyapanya di jalan maupun di rumah, tak dijawabnya. Ia hanya tersenyum dan mengangkat tangan kanannya.

Begitu pun saat dirinya berolahraga. Demi kesehatan, ia melakukan lari pagi secara rutin. Mulai pukul 06.00 Wib hingga 08.00 Wib, meski hanya ke sekitar rumah dan melewati Kelurahan Pondok Cina saja. Walaupun usianya telah senja, Mugenih masih bersemangat menjalani hidup.

Ketika lari pagi, Mugenih tetap memakai pakaian loreng-loreng atau yang berwarna hijau khas tentara. Pakaian tersebut mengingatkannya pada 68 tahun lalu, saat berjuang bersama para pahlawan lainnya membela Indonesia tercinta. Kenangan itu terus terpatri dalam benak, bahkan di setiap langkah kakinya.

Pesan untuk Generasi Muda

Kegigihan dan tekadnya yang kuat ketika mengusir penjajah, memberikan keteladanan bagi generasi muda. Bagi Mugenih, mereka harus memiliki semangat tinggi menuntut ilmu agar dapat menggapai cita-cita yang diinginkan.

Layaknya pahlawan di zaman dahulu, semestinya para pemuda sekarang juga lebih bersemangat lagi dalam meraih cita-cita. Para pemuda harus mengusir penjajah yang menguasai Indonesia saat ini, berupa kemiskinan dan kebodohan. Generasi muda wajib segera bangkit, meneladani perjuangan para pahlawannya.

Mampukah kita –sebagai generasi penerus bangsa– memiliki semangat yang tinggi seperti Mugenih? Penjajah memang telah hengkang dari Tanah Air kita, tetapi bagaimana dengan jajahan berbentuk kemiskinan dan kebodohan?

Marilah bangkit dan menyadarkan diri, di tengah kita masih terdapat pahlawan yang tetap bersemangat menjalani hidup –walau sebagai veteran– dengan penuh kesederhanaan. Jika bukan generasi penerus bangsa, lalu siapa lagi yang akan membangun Indonesia tercinta?

Yuk, kita semangat menuntut ilmu. Seraya tersenyum manis, dalam berjuang menggapai cita-cita!

From → Feature

3 Komentar
  1. Kars permalink

    Dear penulis,

    Saya tertarik untuk melakukan wawancara dengan bapak Mugenih utk tugas pelatihan Saya.

    Bolehkah Saya meminta kontak bapak Mugenih?

    Mohon menghubungi saya melalui alamat email yg saya tinggalkan di komentar ini.

    • azhmyfm permalink

      Trims sangat atensinya, tapi tolong cantumkan data yang jelas. Sudah diteruskan ke penulis,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: