Skip to content

Cerpen: Gadai

by pada 6 April 2014
(m.inilah.com)

(m.inilah.com)

Oleh Niken Ari Prayitno

Fiuhh..” Aku menghela napas panjang. Mentari yang bersinar terik menghujam kepalaku, saat aku menuju rumah sehabis mengajar. Seperti biasa, tiap Sabtu aku mengajar Pramuka bersama anak-anak SD di lapangan bertanah merah dekat sekolah.

Hari ini aku mengajar materi tali-temali, yang menurutku sangat penting dikuasai anak-anak Pramuka. Senyum puas mengembang di bibirku, tatkala mereka sangat cepat menguasai yang aku ajarkan.

Aku tiba di rumahku, yang berdinding bambu dan beralaskan pluran semen. Sangat sederhana. Tapi ini adalah surga kecilku, yang selalu membuatku nyaman. Tidak seperti biasanya, Emak menungguku di luar rumah sembari berjalan mondar-mandir, seolah-olah sedang memikirkan dan menunggu sesuatu.

Assalamualaikum Mak..” kucium tangan Emak, yang langsung mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku jadi tahu, Emak gelisah karena menungguku pulang.

“Rin,.Emak punya berita bagus buat kamu,” Emak memulai ceritanya.

“Cerita apa, Mak?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

“Tadi ada Bang Satim, dia nawarin kerjaan buat kamu. Gajinya dua kali lipat gaji kamu sebagai guru SD dan guru ngaji. Lumayan, kan?” tutur Emak.

*******

Bang Satim? Pikiranku langsung melayang ke teman lamaku, Mia, yang kala itu juga mengalami hal yang sama. Bang Satim adalah penyalur tenaga kerja ke negeri tetangga. Memang di sana kami lebih sejahtera, karena gaji yang diperoleh besar dan sangat lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan hidupku.

Lihat saja Mia sekarang, rumahnya sudah bagus, punya banyak peralatan elektronik seperti yang orang-orang kota punya, bahkan Mia sudah punya motor. Memang, kampungku ini sangat terpencil, sebuah kampung di pedalaman Jawa Barat. Jadi sangat sedikit yang rumahnya bagus ataupun punya kendaraan.

Aku iri sama Mia. Ia bisa membeli apapun yang dibutuhkannya. Bahkan, ia bisa menyenangkan kedua orang tuanya. Aku juga ingin seperti itu, membahagiakan Emak, memenuhi kebutuhannya, sehingga beliau tidak perlu lagi jadi tukang cuci di rumah tetangga.

Namun, Mia sekarang sudah bukan lagi Mia yang dulu. Ia tidak bisa berlama-lama berada di rumahnya, karena paspor yang mengharuskan ia hanya boleh beberapa hari singgah di rumahnya. Ya, Mia telah menggadaikan kewarganegaraannya demi uang. Majikan Mia berjanji akan menaikkan gajinya, jika Mia mau menjadi warga negara tempatnya bekerja.

Miris aku mendengarnya. Hanya untuk beberapa rupiah saja, ia rela menanggalkan Indonesia. Tanah air yang telah membesarkannya.

“Di tempatku bekerja, suasananya lebih aman, Rin. Lebih maju, lebih modern. Bebas macet. Bebas banjir. Pokoknya, enak banget, deh, di sana. Ayo Rin kerja sama aku. Daripada jadi guru, gajinya kecil, capek-nya sangat.”

Mia selalu mengatakan hal itu bila kami bertemu. Aku hanya tersenyum dan tak menjawab apapun. Aku malas berdebat dengan sahabatku sendiri.

Omongan Mia memang ada benarnya. Negeri ini sudah banyak masalah dengan banjir dan macet yang selalu aku lihat di televisi. Tapi bagaimanapun, ini adalah rumahku, negeriku, kampung halamanku. Aku tidak mau menggadaikan kewarganegaraanku, seperti Mia, hanya untuk uang.

Lagi pula, aku sudah cukup nyaman dengan keadaanku sekarang. Walaupun hidupku kadang kekurangan, tapi aku bahagia. Aku senang mengajar. Aku punya harapan, semoga anak-anak yang kudidik dapat membawa perubahan pada negeri yang kutempati ini. Kelak mereka akan membuat perubahan, sehingga negaraku ini menjadi maju.Bahkan, lebih maju dari negeri yang diceritakan Mia.

*******

“Rin, kok malah melamun?Mau ngga ikut kerja sama Bang Satim?” suara lembut Emak membuyarkan lamunanku.

Ngga mau, Mak. Rini ngga mau kerja sama Bang Satim. Rini udah enak ngajar di sini,” jawabku.

“Ya, udah. Emak, sih, ngga maksa. Tapi, ngga apa-apa, tuh, kalo ngajar gajinya kecil?” tanya Emak.

“Ya, ngga apa-apa, atuh, Mak. Ngajar kan, bikin anak-anak pinter. Kalo bikin anak-anak pinter dapet pahala.” Aku menjawab sambil tersenyum.

Emak pun tersenyum mendengar jawabanku. Aku segera bangkit untuk mandi dan salat Ashar, meninggalkan Emak duduk di kursi depan sendiri.

Maafkan Rini, Mak. Bukannya Rini ngga mau mendapat pekerjaan yang lebih baik, tapi Rini masih cinta sama Tanah Air ini. Rini ngga mau menggadaikan Indonesia, demi uang. Ngga pantes, rasanya..

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: