Skip to content

Cerpen: Kita Sahabat (1)

by pada 12 April 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.nyunyu.com)

(www.nyunyu.com)

Oleh Mega Agniya

Hari ini, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sedang tidak ingin bertemu banyak orang, aku ingin sendiri. Tas aku lemparkan begitu saja ketika masuk ke kamar, dan langsung melemparkan badan ke kasur dan memeluk Bonny, boneka kesayangan.

Aku kembali teringat percakapanku tadi siang dengan Sheila. Memang, sudah beberapa hari ini aku dan Gina perang dingin. Kami bersahabat lama sekali dan sangat dekat. Kami satu kelas, bahkan duduk bersebelahan –yang hanya berjarak beberapa cm– tapi kami tidak saling berbicara. Aku kembali teringat pada peristiwa itu, yang membuat tidak saling berbicara dengan sahabatku.

Gina Pratiwi Sutomo, sahabat yang aku kenal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Hingga SMA pun selalu bersama dan satu kelas. Gina pintar, cantik, dan ramah. Kami selalu bersaing dalam prestasi di kelas, tapi tidak membuat persahabatan pecah. Saingan yang sehat dalam prestasi belajar, membuat kami makin dekat dan saling melengkapi.

Banyak kesamaan yang membuat kami sangat dekat. Hanya satu yang membedakan, Gina sangat terbuka dan memiliki pergaulan yang luas, berbeda denganku yang kadang tertutup dengan orang yang baru dikenal. Hal itu yang membuat Gina sering mengajakku dan mengenalkanku kepada teman-teman barunya.

*******

Karena luasnya pergaulan Gina, aku pun mendapat manfaatnya. Mengenal pacar pertamaku, Bagas. Gina adalah sahabat Bagas di salah satu ekstra kurikuler sekolah. Bagas orang yang ramah, baik, dan pintar.

Berkat Gina lah aku dekat dengan Bagas, menjadi Mak Comblang kami berdua. Sebulan dua hubungan kami berjalan lancar, saling menyemangati menghadapi Ujian Nasional. Masalah-masalah kecil yang datang, bisa kami lewati. Gina juga yang membantu komunikasi, jika kami berselisih faham.

Gina yang memberi tahu Bagas, jika aku masih backstreet –berpacaran tanpa sepengetahuan orangtua.  Tapi saat Ayah tidak sengaja membaca SMS di ponselku dan tahu aku berpacaran, beliau marah besar. Bagas mulai merasa tidak enak padaku, karena aku dimarahi Ayah.

Setelah tahu, Ayah tidak mengizinkan ke sekolah dan menyuruhku menjauhi Bagas. Berbagai alasan kuajukan agar tetap bisa ke sekolah, tapi Ayah tahu setelah Ujian Nasional tidak ada kegiatan untuk siswa kelas tiga di sekolah.

Akhirnya aku putuskan meminta tolong Gina, sahabat yang selalu senang hati mau membantu. Gina pun akhirnya menjadi perantara dan akhirnya sering berkomunikasi dengan Bagas. Menjelaskan ke Bagas tentang semua yang terjadi.

“Hallo Gin. Gue gak bisa ke sekolah hari ini. Bokap masih belum ngjinin gue ke sekolah.”

“Terus, kapan lu mau ke sekolah? Katanya lu mau ngobrol sama Bagas? Ini Bagas ada deket gue, lu mau ngomong?”

Gak usah deh, ini aja gue nyolong-nyolong telpon. Pokoknya bilangin ke Bagas, besok gue usahain ke sekolah.”

Ok!”

*******

Besoknya, dengan susah payah, aku akhirnya mendapat izin dari ayah ke sekolah. Itu pun dengan syarat, setelah selesai semua urusan harus langsung pulang. Karenanya aku buru-buru ke sekolah, agar mempunyai banyak waktu bertemu Bagas.

“Hai, Cik. Udah dateng aja lu,” sapa Gina agak kaget.

“Iya dong, secepat kilat gue sampe.”

“Ya udah, gue tinggal kalian berdua deh. Biar enak ngobrolnya, ya..” Gina langsung meninggalkan aku dan Bagas berdua.

Hari ini pertama kalinya lagi aku bertemu dengan Bagas setalah peristiwa itu. Agak canggung. Lama kami tidak saling bicara, hanya saling melempar pandangan dan tersenyum hambar.

“Apa kabar kamu?” Bagas membuka pembicaraan kami di kantin siang itu.

“Aku baik, kamu sendiri gimana?” tanyaku pada Bagas

“Seperti yang kamu lihat. Kamu terlihat pucat, sakit?”

Nggak, kok,” aku tersenyum pada Bagas.

“Hmm, kamu jadi mau daftar ke SMA mana?” Bagas mencoba mencairkan suasana.

“Sama seperti Gina, kita mau daftar di SMA 1. Kamu jadi daftar di SMA 3?”

“Iya, Ayahku sudah mendaftarkan aku di sana.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan Bagas yang singkat. Kemudian kembali diam dalam keheningan.

“Hmm, Ayah masih marah sama kamu, ya?”

Aku agak kaget, ketika Bagas bertanya seperti itu. Aku pikir Bagas tidak akan bertanya dan membahasnya lagi. Tapi apa boleh buat, aku ke sekolah memang untuk membereskan kesalahpahaman ini.

“Ya begitulah Ayah, nanti juga baik sendiri. Kamu tenang aja!” jelasku pada Bagas sambil tersenyum.

“Tapi aku jadi gak enak sama Ayah, juga kamu. Gara-gara aku, kamu dimarahi Ayah.”

Aku diam, tidak menjawabnya. Aku tidak ingin putus dari Bagas, ucapku dalam hati. Bagas cinta pertamaku, Bagas laki-laki yang baik. Aku bercakap-cakap dengan perasaan sendiri, sambil sesekali melihat laki-laki yang aku sayangi di hadapanku.

“Cika!”

Aku terkaget dengan panggilan Bagas. Suaranya berat, seperti laki-laki yang mulai beranjak pubertas. Lamunanku pun buyar.

“Ya, apa sayang?”

“Aku boleh ngomong sesuatu?”

“Hmm, ya, apa?”

Perasaanku mulai tidak enak, ketika Bagas bertanya seperti itu padaku. Aku yakin, ada hal penting yang mau Bagas katakan. Aku takut Bagas berbicara tentang hal yang tidak kuinginkan. Aku takut Bagas bicara yang memang Ayah inginkan. Aku tidak mau itu terjadi. TIDAK!

“Tapi, kamu jangan marah aku ngomong ini, ya?”

“Iya, cepat ngomong dong! Aku penasaran, sayang,” desakku antusias mendengar yang ingin Bagas sampaikan.

“Gini, tapi sebelumnya aku minta maaf dan tolong kamu jangan sedih, ya?”

Tanpa menunggu jawabanku, Bagas meneruskan pembicaraannya.

“Aku pengen kita sahabatan aja, sama kayak aku ke Gina. Aku ngerasa gak enak sama kamu, kalo terus-terusan begini. Kamu pasti tertekan, gara-gara Ayah marah sama kamu!”

Aku sontak terkaget mendengar pernyataan Bagas tadi, seperti disambar petir di siang bolong. Yang aku tidak inginkan, benar-benar terjadi. Aku marah pada Bagas, aku kecewa pada Bagas.

Tapi aku tidak mau memperlihatkannya pada Bagas. Aku tetap memperlihatkan raut muka yang senang. Kalo istilah Gita, biterhamen (bibir tersenyum hati menangis). Hari itu, mungkin, menjadi hari terakhir aku bertemu dengan Bagas.

“Ok, aku terima!”

Setelah itu, tanpa basa-basi, aku langsung berpamitan pulang. Aku tidak lagi melihat sekeliling. Yang aku lihat hanya Gina, yang setelah melihat kejadian itu berjalan mendekati Bagas. Aku sedikit kecewa, karena Gina bukanya menghampiri aku.

Tapi sudahlah, mungkin setelah itu Gina akan menyusulku ke rumah. Benar saja, tidak lama aku sampai di rumah, Gina datang. Seperti biasa, ia selalu langsung masuk ke kamar dan mendekatiku di tempat tidur.

Aku langsung menghambur ke pelukan Gina. Aku nangis sejadi-jadinya. Hari itu benar-benar membuatku sangat terpukul. Bagas, laki-laki yang sangat kucintai mengakhiri semuanya, hanya karena tidak enak padaku. Aku sempat berpikir, cemen sekali laki-laki itu. Cuma karena Ayah, dia mundur begitu saja tanpa berusaha.

*******

Dua bulan setelah peristiwa putus itu, aku tidak pernah berhubungan dengan Bagas. Aku hanya tahu kabar Bagas dari Gina, yang masih sering bertemu dengannya. Bagas kadang-kadang masih suka menelepon, tapi tidak pernah kuhiraukan. Aku sibuk dengan MOS, teman-teman baru, kelas baru, ekstra kurikuler baru, dan tentunya dengan sekolah baruku. Aku kembali sekelas dengan Gina, dan duduk bersebelahan.

Aku sudah mulai dapat melupakan cinta pertamaku, tentunya perlahan mampu mengobati patah hatiku. Gina yang selalu ada di dekatku, membuat aku semakin terhibur, meskipun Gina terkadang masih suka membahas tentang Bagas.

Terkadang, aku merasa aneh pada sahabatku ini. Gina masih saja membahas Bagas di depanku, seperti orang yang sedang jatuh cinta menceritakan kekagumannya pada laki-laki yang disukai. Sempat aku berpikir kemungkinan Gina menusukku dari belakang, karena aku pernah tidak sengaja membaca SMS dari Bagas untuknya. Aku lemas melihat isinya.

“Ok, sayang. Nanti aku kabari kamu lagi,ya? Aku mau main basket dulu. Daah, sayang.”

Kebetulan Gina memergoki aku yang masih memegang ponselnya. Setelah ia membaca SMS-nya, Gina juga kaget. dan menjadi tidak enak padaku. Aku yang menyadari kegugupannya, berusaha mencaikan suasana. Aku coba berpikir positif, karena tahu pergaulannya. Apalagi dengan Bagas, mereka telah bersahabat sejak lama. Gina pun tidak menjelaskan lebih lanjut padaku, sehingga aku mengira memang tidak ada apa-apa di antara mereka.

*******

Hari ini, Gina mengajakku ke tempat makan langganan kami. Tetapi lantaran ia mempunyai keperluan dengan Bundanya, meminta bertemu langsung di restoran tersebut. Sesampai di sana aku langsung mencari meja yang biasa kami tempati, tapi karena penuh, meja kesukaan kami telah ditempati orang.

Akhirnya aku mendapatkan tempat yang hampir senyaman tempat biasa. Aku duduk membelakangi pintu masuk, di depanku terdapat taman dan kolam kecil, yang dapat menghilangkan kejenuhan menunggu. Tidak lupa aku memberi tahu Gina tempat aku duduk, agar ia tidak susah mencari.

Hampir setengah jam aku menunggu, Gina tidak kunjung datang. Tidak biasanya Gina datang terlambat selama ini. SMSku pun tidak dibalas, telepon tidak diangkat. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Gina, mau menghubungi bundanya tapi takut beliau ikut khawatir.

Aku gelisah, terus melihat jam tanganku. Melihat ponsel, siapa tahu ada telepon darinya. Sesekali aku berbalik dan melihat ke arah pintu masuk, belum ada tanda-tanda Gina datang. Tak berapa lama aku gelisah, ada yang memegang pundakku dari belakang. Aku kaget dan langsung menoleh ke belakang.

“Gin, kok, lo lama..”

Belum sempat aku meneruskan omongan, aku terkejut melihat siapa di depan mataku. Laki-laki tinggi itu menggunakan kaos oblong putih dibalut kemeja kotak-kotak yang dibiarkan terbuka, membalut badannya yang mulai berbentuk. Bercelana jins dan sepatu All Star yang sedikit kotor. Rambutnya dibiarkan agak berantakan, mengikuti gaya anak muda jaman sekarang. Dia tersenyum padaku. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: