Skip to content

Cerpen: Kita Sahabat (2)

by pada 13 April 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh Mega Agniya

Aku mulai mengingat siapa laki-laki itu. Dia, yang beberapa bulan lalu, membuat aku menangis bombay. Dia yang dikenalkan Gina padaku. Dia yang menjadi orang pertama mengisi hatiku, sekaligus sukses juga menjadi orang pertama mematahkan hatiku.

Dia adalah Bagas. Bagas yang aku lihat saat ini, sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Bagas beberapa bulan lalu. Bagas sekarang sudah menjadi laki-laki yang mulai memperhatikan penampilan, bukan lagi Bagas yang memakai seragan putih-biru.

Aku masih sibuk dengan lamuananku. Dan Bagas mengagetkanku dengan suaranya yang berat.

“Hey, Cika! Gue boleh duduk di sini?”

Karena masih terpengaruh dengan kekagetan, aku begitu saja mempersilahkan Bagas duduk di tempatku, di depanku bahkan. Aku dapat melihat jelas mukanya, seperti beberapa bulan lalu saat peristiwa itu.

“Lagi nunggu Gina, ya?” Bagas membuka pembicaraan.

Aku mulai sadar, ketika Bagas menanyakan hal itu. Aneh, kenapa Bagas bisa thau aku sedang menunggu Gina. Meskipun heran, aku coba menjawabnya dengan wajar.

“Iya nih, Gina lama banget. Lu lagi apa di sini?” tanyaku coba mencari tahu. Mungkin juga Bagas tengah menunggu kekasih barunya.

“Mau ketemu lu, Cik!” jawab Bagas santai.

Aku kaget dengan jawaban Bagas. Entah, sudah berapa kali aku terkejut dibuat Bagas. Dan aku tidak berharap mendapat kejutan lagi nantinya.

“Oh!”

Aku berusaha tenang di depan Bagas, tapi sepertinya tidak berhasil. Aku tahu Bagas menyadari ketidaktenanganku.

“Gina gak bilang emang, kalo kita mau ketemu?

Lagi-lagi aku terkejut. Aku berpikir keras, mengingat obrolanku di telepon dengan Gina sebelum datang ke sini. Aku ingat-ingat perkataan Gina, siapa tahu ada yang menyebutkan Bagas ikut kami berkumpul. Tapi, sepertinya, Gina tidak bicara Bagas juga akan datang.

Aku mulai merasa ada yang aneh. Sampai satu jam aku di tempat makan, Gina tidak kunjung datang. Bagas yang sudah setengah jam duduk di depanku, terlihat agak resah, Seperti ada yang mau dia sampaikan padaku. Benar saja, Bagas mulai membuka pembicaraan.

“Cik, gue aja duluan yang mulai ngomong. Mungkin nanti Gina juga mau ngomong sama lu.”

Bagas mulai menjelaskan semuanya. Bagas menjelaskan dengan pemilihan kata yang bagus, tapi tetap saja membuat aku terpukul. Kenyataan ini, tidak bisa aku terima. Lagi-lagi, aku patah hati oleh orang yang sama. Pertanyaan itu –yang benar-benar menyakitkan– masih terngiang panas di telingaku.

“Cika, boleh aku jadian sama Gina?”

*******

Pertanyaan yang seharusnya Bagas tidak perlu sampaikan padaku. Pertanyaan yang seharusnya Bagas tahu, aku akan jawab apa. Sungguh menyakitkan, jauh lebih pedih dibanding keputusan Bagas mengakhiri hubungan denganku.

Aku harus jawab apa? Apakah harus berbohong pada perasaanku lagi, atau harus jujur sesuai perasaanku? Aku masih sayang sama kamu, Bagas. Tapi, lagi-lagi yang keluar dari mulut kecilku ini adalah sebuah kebohongan.

“Ya, udah, terserah lu aja. Yang penting kalian senang, gue ikut senang.”

Sakit rasanya aku mengucapkan kata-kata itu. Gina, yang sudah aku anggap saudara, tega menusuk dari belakang. Gina sahabatku dari kecil, sekarang harus menjadi pacar mantan pacar pertamaku.

Aku benar-benar menyesali perkenalan dan kedekatan dengan Bagas. Aku menyesal, kenapa harus Bagas yang menjadi pacar pertamaku dan menjadi orang yang merusak persahabatnku dengan Gina.

Kejutan demi kejutan hari ini, membuatku sesak napas, Benar-benar aku harus mempunyai persediaan oksigen yang banyak. Rasanya, saat ini, aku ingin berlari ke sebuah lapangan dan berteriak.

Tapi di saat aku akan berpamitan pada Bagas, Gina sahabatku datang. Sejenak aku bertanya dalam hati, apakah pantas cewek di hadapanku yang tengah menangis ini, aku sebut sebagai sahabat?” Gina menghambur ke pelukanku, terus menangis dan meminta maaf padaku.

“Cika, gue jahat ya.. Lu boleh marah sama gue. Lu boleh musuhin gue. Gue emang gak pantas jadi sahabat lu. Tapi, maafin gue, ya, Cik?”

Aku pun berusaha tegar dan tetap menjadi sahabat yang baik untuk Gina. Hari itulah kesabaran dan kedewasaanku diuji. Hatiku sebenarnya terluka, yang menganga sangat lebar, Namun tetap harus berusaha menahan perihnya, meskipun kucuran asamnya kenyataan membuat luka ini makin perih.

Gina coba menjelaskan semuanya padaku. Aku memang sangat mengerti, jika mereka sangat dekat. Bahkan lebih akrab dari kedekatanku dengan Bagas, ketika kami jadian dulu.

Dengan bijaksana, kubilang pada Gina kalau aku tidak marah. Malah ikut senang melihat sahabatku akhirnya jadian. Mendengar itu, raut muka Gina memperlihatkan kelegaan.

Gina pun memelukku dan lagi-lagi meminta maaf. Setelah semuanya selesai, aku berpamitan pada mereka berdua. Aku tidak ingin mengganggu mereka. Lagipula, aku mesti menenangkan diri di rumah.

Sesampai di kamar, aku langsung membaringkan badan di kasur kesayangan. Aku coba tidak menangis, tapi air mata ini jatuh dengan derasnya. Sesaat kemudian aku mengambil ponselku dan melihat ada SMS masuk dari Gina. Bermalas-malasan aku membukanya.

“Cika sayang, maafin gue. Gue ngaku salah, gak seharusnya nyakitin lu kayak gini. Tapi, gue juga gak bisa bohongin hati sendiri kalau sayang sama Bagas. Bahkan udah ada jauh sebelum kalian jadian, tapi gue pendem sendiri. Saat kalian jadian, gue senang banget. Karena gue bisa lihat lu senang, sampai gue gak mikirin perasaan sendiri. Sekali lagi, maafin! Gue harap kita masih tetap bersahabat kayak dulu. Gue sayang lu, Gin!”

Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh. Aku coba menenangkan diriku yang semakin terpukul, hingga akhirnya aku tertidur.

*******

Hari ini terasa berat untukku, melangkahkan kaki ke sekolah. Rasanya kaki ini di gelayuti bola baja besar, yang membuatku susah berjalan. Tapi Gina akan bilang apa, jika aku tidak masuk sekolah. Dia pasti akan makin merasa bersalah. Inilah aku, meskipun sakit hati, masih tetap saja memikirkan perasaan orang yang menyakitiku.

Kenyataan kemarin, benar-benar membuatku tersiksa. Sepanjang hari aku benar-benar tidak mengobrol dengan Gina, berat rasanya bibir ini berbicara dengannya. ‘Perang dingin’ ini pun berlanjut, hingga beberapa hari.

“Cik, masih belum baikan sama Gina?” tanya Sheila prihatin.

“Belum. Gimana dong, ya? Masih belum bisa terima aja gue.

“Ingat, kalian bersahabat udah lama. Masak mau hancur, karena hal kecil aja?”

“Iya, gue tahu. Tenang aja, gak bakal lama-lama gue diem-dieman sama Gina. Gue juga gak enak kayak gini terus.”

“Nah, gitu dong. Ya udah, yuk masuk kelas. Udah bel, tuh.”

Aku dan Sheila pun beranjak dari kantin, menuju kelas.

Di depan pintu aku bertemu Gina, yang juga mau masuk kelas. Terlihat kecanggungan antara kita berdua dan Sheila merasakan hal itu.

Tuh, kan, masih diem-dieman. Masak lu gak mau mulai duluan buat nyapa, sih?”

Nggak sekarang. Belum siap gue, Shel!”

*******

Tiga hari, tepatnya, kami tidak saling berkonumikasi. Aku rasa hari ini saat yang tepat untuk berbicara lagi dengan Gina. Tiga hari kemarin cukup untukku merasakan kesakitan dan ketidakterimaan terhadap kenyataan yang menyakitkan. Aku sadar, dengan begini pun tidak akan berubah. Persahabatan, harus aku selamatkan. Aku coba memanggil Gina.

“Gin, nanti pulang sekolah bareng, kan?” tanyaku santai.

Gina kaget mendengar ajakanku itu. Begitupun Sheila, yang duduk tepat di belakangnya.

“Ok,” jawab Gina singkat, dengan senyum lebarnya.

Sepulang sekolah, aku sengaja mengajak Gina makan di tempat kesukaan kami. Inilah saatnya menjalin kembali persahabatan kami. Dengan ceria, seperti sahabat lama yang baru bertemu lagi, kami mengobrol tentang hal-hal yang tiga hari ini tidak sempat diceritakan.

Gina, tentunya, tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Bagas. Aku tahu dia paling bisa menjaga perasaan orang, apalagi sahabatnya sendiri. Tapi, aku melihat keceriaan di wajah Gina. Di akhir obrolan kami hari itu, aku menutupnya dengan sebuah kalimat yang aku anggap bisa mengembalikan keceriaan persahabatan kami.

“Gin, kita sahabat sampai kapan pun!”

Kami berpelukan dan menangis bahagia, karena masih mampu merasakan indahnya persahabatan. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: