Skip to content

Nilai dan Keunikan Rambu Solo

by pada 19 April 2014
(www.kaskus.co.id)

(www.kaskus.co.id)

Oleh Ayundayani Rosadi 

Di Toraja, terkenal upacara adat yang berkenaan dengan kematian, bahkan dijadikan daya tarik pariwisata. Upacara kematian ini disebut ‘Rambu Solo’ yang dilaksanakan siang hari, saat matahari condong ke barat.

Upacara ini –merupakan adat istiadat yang diwarisi secara turun-temurun– sebagai penghormatan terakhir kepada mendiang yang telah pergi, dengan harapan agar arwahnya dapat abadi (puya).

Bagi orang awam, upacara adat ini terdengar mistis. Rentetan acara begitu panjang, sejak sebelum terlaksana –ketika mayat orang tersebut– masih dianggap sedang ‘sakit.’ Masih ditidurkan di atas tempat tidur, diberi makanan dan minuman, diajak mengobrol, dan ditemani.

Mereka percaya, arwahnya akan menjadi tomembali puang (arwah para leluhur yang telah menjelma sebagai dewa). Dalam kepercayaan Aluk Todolo, Puang Matua (unsur kekuatan yang paling tinggi sebagai pencipta segala isi bumi) mempunyai kekuasaan sepenuhnya untuk mengawasi perbuatan dan perilaku, juga memberikan perlindungan serta berkah kepada manusia turunannya.

Tahapan Upacara

Tahap pertama proses upacara adat ini dengan memindahkan jenazah, dari rumah duka ke tongkonan Tammuon (rumah adat pertama tempat dia berasal) untuk dilakukan penyembelihan kerbau.

Masyarakat Toraja beranggapan, kerbau adalah kendaraan yang ditunggangi arwah  untuk mengantarnya ke surga. Roh binatang lainnya yang dikorbankan dianggap dapat menemani arwah menuju ke alam keabadian.

Untuk keluarga bangsawan, jumlahnya berkisar antara 24 sampai 100 ekor kerbau tedong sangpala (kerbau belang), yang termasuk golongan Tana’ Bulaan. Sedangkan warga kelas menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.

Tetapi sebelum jumlah hewan korban mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Hanya disimpan di Tongkonan (rumah adat Toraja), bahkan bertahun-tahun sampai keluarganya mampu menyiapkan jumlah yang sudah ditetapkan.

Namun –bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini– jenazah dapat dikuburkan terlebih dahulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap melaksanakan upacara ini.

Penyembelihan dilakukan dengan cara khas Toraja, kerbau yang akan disembelih diikatkan pada sebuah batu yang dinamakan Simbuang Batu. Setelah dipotong, dagingnya dibagikan ke masyarakat yang hadir.

Bila upacara telah dilaksanakan, jenazah hanya sehari berada di tongkonan Tammuon ini. Keesokan harinya jenazah akan dipindahkan ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yang disebut tongkonan Barebatu.

Tahapan kedua, pengarakan jenazah dari tongkonan Barebatu menuju rante (lapangan tempat acara pesta berlangsung), yang dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Jenazah diusung menggunakan keranda khas Toraja (dikenal sebagai Duba-duba), di depannya terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang) yang selalu terletak di depan keranda jenazah.

Dalam prosesi pengarakan jenazah, terdapat pembagian tugas. Laki-laki bertugas mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Keluarga dekat arwah lainnya ikut mengusung keranda tersebut.

Tahap ketiga, saat jenazah tersebut akan disemayamkan di rante. Di lapangan itu sudah berdiri lantang (rumah sementara, terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti, karena keluarga tidak pulang ke rumah.

Setelah acara di rante selesai jenazah diiring ke lakkien, menara tempat disemayamkan jenazah selama prosesi berlangsung. Acara yang dilaksanakan adalah penerimaan tamu sanak saudara dari tanah air,  sedangkan sore harinya diadakan adu kerbau. Acara ini berlangsung berhari-hari, sampai saat penguburan.

Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing pada ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo –kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam–  semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke Nirwana.

Rambu Solo memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, di antaranya adanya gotong royong dan tolong-menolong. Meskipun terlihat sebagai pemborosan –karena banyak harta yang dihabiskan dalam upacara ini– namun unsur gotong royong yang terlihat sangatlah jelas. Semuanya berkumpul saling tolong menolong, terutama adanya pembagian daging yang menjadi ajang istimewa bagi warga tidak mampu.

Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai hal yang tak ditakuti, karena mereka percaya ada kehidupan setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga.

Dalam kesempatan ini pula, kadang memberikan kesempatan bagi kaum muda–mudi saling berkenalan. Hal ini dikarenakan upacara biasanya berlangsung selama berhari–hari, bahkan berminggu–minggu pada upacara bagi kaum bangsawan.

Tidak hanya masyarakat Toraja, banyak turis asing maupun lokal yang berdatangan untuk melihat langsung prosesi adat tersebut. Keunikan budaya Tana Toraja menjadi daya tarik tersendiri, bukan?

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: