Skip to content

Anugerah Yang Sama

by pada 22 April 2014
(harianking.blogspot.com)

(harianking.blogspot.com)

Oleh Shofiyah Qonitat

Menjadi orangtua tidaklah mudah. Sebab seorang Ayah maupun Ibu, memiliki peran penting untuk keberlangsungan hidup sang anak. Sedikit salah sikap dan cara, tentu akan mempengaruhi kelakuan anak di masa mendatang. Keduanya harus bekerjasama memperhatikan dan menjaga buah hati mereka.

Setiap hari Ayah bekerja untuk menafkahi keluarga: istri dan anak-anaknya. Seberat dan serumit apa pun, barangkali tak pernah terucap kata lelah, apalagi menyerah. Karena merupakan kewajiban untuk perekonomian istananya sehari-hari. Berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat mentari tenggelam, belum lagi permasalahan yang ditemui di tempat kerja.

Pada dasarnya anak tidak hanya ingin uang, melainkan kasih sayang merata. Kebanyakan anak yang memiliki Ayah pekerja sehari penuh, merasa tidak diperhatikan. Mungkin saja sang Kepala Rumah Tangga, juga memiliki kerinduan berkumpul bersama keluarga. Oleh sebab itu akhir pekan menjadi waktu yang dinanti, supaya dapat berkumpul atau pergi ke tempat rekreasi.

Lain halnya dengan ibu. Ada dua tipikal seorang ibu, wanita karir atau ibu rumah tangga. Sebenarnya hal ini tergantung persepsi tentang karir, karena setiap perempuan berperasaan dan memiliki cita-cita. Misalnya seorang Ibu yang tetap bekerja, boleh jadi bertujuan untuk membantu perekonomian keluarga, memiliki tabungan dan berbagai alasan lainnya.

Meskipun bekerja, statusnya sebagai Ibu tidaklah hilang. Bayangkan ketika ia harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, barulah kemudian ia memikirkan dirinya. Konsentrasinya tidak hanya untuk keluarga, ia juga harus konsisten terhadap pekerjaan. Mungkin, itulah alasan kedua orangtua yang bekerja, memilih untuk mempunyai pembantu.

Sedangkan berbicara tentang ibu rumah tangga, sebenarnya ia tak hanya berdiam diri di rumah. Karena seorang perempuan juga perlu wawasan untuk mendidik anaknya. Salah satu cara melalui sosialisasi dengan lingkungan sekitar, semisal mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK.

Lalu bagaimana ia memainkan peran di rumah? Bangun lebih pagi dari anak dan suami sudah tentu. Kemudian ia menyiapkan pakaian untuk anak-anak dan suaminya. Setelah semua berangkat, ia merapikan rumah dengan berbagai pekerjaan yang rasanya tak kenal usai.

Memasak untuk keluarganya, agar ketika mereka kembali ke rumah makanan telah siap tersaji, Mencuci, menyapu, mengepel dan mengerjakan banyak hal seharian dan berhari-hari setelah itu.

Bisa saja semua pekerjaan rumah ini diberikan kepada pembantu. Akan tetapi dengan tulus merawat yang ia miliki, tak akan ada keluhan kendati peluhnya berjatuhan tanpa disadari.

Membesarkan Buah Hati

Sewaktu bayi, anak adalah anugerah yang sangat diharapkan dan ditunggu kehadirannya. Setelah lahir dan bertumbuh menjadi balita merupakan waktu sepenuh perhatian. Para orang tua pasti bahagia, melilhat anaknya semakin bertumbuh dan berkembang.

Memasuki tahap remaja, permasalahan pun tak lagi sama. Orangtua tidak hanya mengurusi mainan dan makanan si anak, tetapi bersama sang anak harus saling bertanggungjawab.

Orangtua berkewajiban mengawasi anak mereka, karena segala yang di luar rumah tidak bisa diprediksi. Mereka tidak bisa memilihkan yang boleh dan tidak, melainkan sekadar memberitahu pada anak –secara kreatif– untuk memilah hal yang diizinkan atau dilarang.

Ketika masa remaja, anak sangat rentan terhadap hal positif maupun negatif dari luar. Bahkan sekecil apa pun konflik kepada orangtua, si anak bisa hilang kepercayaan. Kemudian ia bisa saja mencari teman di luar untuk mencurahkan keluh kesahnya.

Pergaulan dan cara anak bergaul, juga tak bisa dipastikan orangtua. Lengahnya pengawasan dari dalam, akan mengakibatkan kerusakan yang fatal. Kelakuan anak di luar rumah akan disebut sebagai hasil didikan orangtua, sehingga nama baik menjadi taruhan.

Tak hanya itu, fasilitas juga menjadi faktor pendukung keharmonisan dengan anak. Merenungi berbagai hal di atas, sepertinya tetap ada kemungkinan orangtua tetap saja bisa salah. Di sini lah para orangtua harus berhati-hati dan bersiap dengan setiap kemungkinan. Perasaan orangtua akan mudah terlukai oleh anak, yang merupakan hasil didikannya sendiri.

Andai saja setiap anak mampu mengatur posisinya dan memiliki persepsi yang sama terhadap orangtua. Dari mulai menjaga semasih dalam kandungan –selama 9 bulan Ibu merasakan berbagai kesulitan– hingga proses melahirkan yang menyakitkan. Kemudian mengurus, merawat, dan membesarkan anaknya bersama sang Ayah.

Terkadang anak hanya ingat beberapa hal kecil menyangkut orangtuanya, dan itu pun untuk kepentingan diri si anak sendiri. Berapa banyak anak yang sering atau rutin mendoakan kedua orang tuanya? Bandingkan dengan jumlah anak yang hobi sekali memaksa orangtua untuk menuruti permintaannya, membelikan gadget terbaru dan lainnya.

Buatlah Tersenyum

Untuk semua orang yang sekarang atau dahulu pernah merasakan menjadi anak, doakan orangtua kita yang masih hidup maupun yang sudah tiada.  Dengan atau tanpa diketahui mereka, akan membuat perasaan diri lega karena kita menitipkannya kepada Allah.

Melakukan berbagai perbuatan sebagai balas jasa –meski tetap tak sebanding– kepada kedua orangtua. Seperti menunjukkan prestasi sebagai wujud terima kasih atau minimal membantu mereka di rumah. Jauh dalam lubuk hati mereka, sikap-sikap tersebut akan menenteramkan dan membuat Ayah dan Ibu tersenyum diam-diam.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: