Skip to content

‘Punteun’ Tak Sekadar Kata

by pada 1 Mei 2014
(troycompany.com)

(troycompany.com)

Oleh Qurrota Ayun Chusna

Satu kata yang sederhana, tetapi sangat bermakna. Singkat tetapi sangat berpengaruh. Ketika tak terucapkan, tak hanya budaya menjadi hilang. Namun, suasana kekerabatan menjadi pudar begitu saja. 

‘Punteun’ yang berarti ‘maaf’ atau ‘permisi’ dalam bahasa Sunda mempunyai makna tersendiri. Tak hanya tersurat, tetapi juga makna yang tersirat ketika terucapkan.

Mengucapkan kata punteun saat melewati kerumunan orang, memberikan kesan hormat dan santun. Juga sikap menyapa saudara maupun tetangga di sekitar, meski tak mengenalnya. Mungkin bagi orang pendatang atau orang baru yang berada di wilayah Sunda merupakan hal aneh, tetapi mempunyai dampak luar biasa ketika selalu diucapkan.

Semua menjadi seperti keluarga, muncul rasa segan karena menghormati dan senyum balasan yang sopan. Kehangatan pun lahir ketika orang mengucapkan kata punteun, menghidupkan keakraban. Bukan sikap individualis, seperti orang-orang kota yang lupa cara bertetangga. Bukan pula sikap orang ber-ego tinggi, yang menyapa dengan satu kata saja enggan.

Zaman modern telah ‘memakan’ habis banyak budaya. Ketika generasi muda semakin asyik dengan dunia barunya, dan lupa akar budaya yang menghangatkan ini. Berani menegur dan menyapa sesama di lingkungan sekitar, melatih anak-anak bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, juga menghargai setiap orang tanpa prasangka.

Tak seperti di kawasan Metropolitan yang budayanya terus tergerus, atau lunturnya kebiasaan positif yang seharusnya masih dilakukan dan dijaga. Kehidupan modern yang seolah memberikan kesan ‘jadul’ (kuno), apabila generasi muda saat ini tak mengikuti perkembangan budaya kontemporer. Bahkan, pengagungan budaya asing sesuai kemajuan zaman.

Punteun kata yang singkat, tetapi menjadi bagian budaya yang luar biasa. Budaya asli yang seharusnya terus dilakukan, karena menghargai sesuatu dimulai dari hal terkecil. Apabila untuk kata ‘maaf’ atau ‘permisi’ saja kita tak mau ucapkan, bagaimana nasib negara ini kelak dipimpin orang-orang yang tak mampu menghargai.

“Awalnya cuma anggap remeh, kalau ga bilang punteun. Tapi akhirnya sadar, ketika banyak orang yang mengira aku sombong. Sadar, ternyata makna kata punteun luar biasa. Waktu sering ngucapin, jadinya makin deket sama orang-orang di sekitar. Malah nambah pahala terus, lantaran bagi-bagi senyum. Makin belajar menghargai orang lain,” ujar Neneng jujur.

Penggunaan kata punteun saat ini, terkesan hanya digunakan di daerah Sunda pedalaman atau terbatas di kalangan orangtua saja. Di kota yang telah berubah menjadi Metropolitan dan termakan globalisasi, ucapan ini seakan tak lagi terdengar.

Terlalu jarang generasi muda menggunakan kata punteun, ketika melewati kerumunan orang. Tak ada lagi tatakarma atau suasana kekeluargaan. Semua termakan zaman, hilang dan punah begitu saja. Akang dan teteh seakan lupa budaya tanah Sunda, lupa hakikat dan makna kata punteun.

Kata yang singkat dan sederhana, tetapi sangat sarat makna. Yang tak sekadar melestarikan budaya, melainkan mengandung nilai untuk menghargai dan menghormati sesama. Melahirkan keakraban dan kesan kekeluargaan di sekitar, karena hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan manusia lainnya.

Untuk itu, kini saatnya kita bangkitkan kembali penggunaan kata sederhana ini. Demi hakikat maknanya dan tradisi yang menjadi budaya warga Sunda.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: