Skip to content

Cerpen: Kurindukan

by pada 4 Mei 2014
(www.googleplus.com)

(www.googleplus.com)

Oleh Abdul Toyib Sadikin*

Sudah dua tahun aku tinggal di daerah ini. Aku makan dan minum dari tanahnya, tidur memandangi langitnya, serta bekerja di bawah terik mataharinya. Aku bertutur sapa dengan orang-orangnya, menggunakan bahasa mereka setiap hari.

Aku sudah merasa menjadi penduduk asli di sini. Sudah tak begitu ingat lagi dari mana aku berasal dan apa yang terjadi di masa sebelum ini. Aku sudah sangat cinta dengan tempat ini, kota ini. Aku sudah menganggap daerah ini sebagai kampung halamanku.

Aku bekerja sebagai editor surat kabar lokal. Setiap hari aku bekerja, duduk di kantor yang bising tetapi menyukainya. Bising dengan celotehan rekan-rekan kerjaku, bising pula dengan suara dengung CPU komputer, bising dengan deritan mesin percetakan. Tetapi aku bahagia karena aku selalu merasa berada di rumah. Inilah rumahku.

Kantor ini rumahku. Segala sesuatu yang ada di sini, adalah bagian dari diriku. Semua orang yang bekerja di sini, adalah keluargaku. Aku selalu berada di rumah setiap hari. Bahkan ketika libur pun, aku selalu berada di sini. Aku sungguh merindukan tempat ini. Dan aku senang, selalu bisa lembur setiap hari.

Tapi, tentu, aku tak tidur di kantorku yang tercinta ini. Aku menyewa sebuah apartemen, tak jauh dari kantorku. Ruangan yang kusewa cukup luas, apabila ada teman kantor yang butuh tempat untuk perayaan kecil-kecilan –seperti ulang tahun– ruanganku bisa dipakai. Dan menyenangkan bisa tinggal di sini. Pemiliknya seorang ibu berusia 60-an. Dia sangat baik, seperti nenekku sendiri saja.

Dan setiap artikel yang mampir di meja kerjaku, selalu membuatku tersenyum senang. Selalu saja terdapat banyak hal yang bisa kusalahkan, koreksi serta komentari. Aku senang dapat menggunakan kemampuanku menjadi penguasa, dalam menentukan tulisan yang layak terbit atau tidak. Dan aku cukup senang untuk meloloskan tulisan yang bagus dengan kesalahan minim, yang membuat ringan kerjaanku. Aku bahagia bekerja di rumahku ini.

Tak pernah sekali pun ada tulisan yang begitu menyentuhku, sampai sekarang. Tak pernah sekali pun ada tulisan, yang membuatku berpikir keras tentang masa lalu. Tentang dari mana aku berasal, kampung halamanku, rumahku, bahkan keluargaku.

Bukan yang sekarang aku miliki dan nyatakan, tetapI yang sebenarnya pernah menjadi kampung halaman, rumah dan keluargaku dulu. Aku begitu terpukul dan sedih membayangkan yang dituliskan. Ia bercerita tentang rumah panggung keluarga, orang tua, kakak dan adik, paman dan bibi, keponakan dan sepupu, gunung di sekeliling desa tempat tinggalnya, dengan sungai maupun sawahnya.

Apapun yang ia katakan dalam tulisannya, mengingatkan pada duniaku sendiri sebelumnya. Aku ingin pulang. Deskripsi kampung halaman yang ia tuliskan, membuatku menangis. Ia menulis:

Kampung halaman adalah sebuah tempat yang kamu bisa pergi ke sana dan bisa menyebutnya kembali ke rumah. Ya, kampung halaman adalah rumah tempat kembalinya kamu, setelah sekian lama berada di negeri orang.

Di sana lah kamu selalu akan merasa nyaman, aman dan damai yang menyertai hatimu. Kamu merasa mencintai dan dicintai oleh segala hal yang ada dan kamu terima apa adanya. Kamu pulang hanya ke tempat yang disebut sebagai kampung halamanmu.

Kampung halaman juga berarti segala risau, gundah serta galau di dalam pikiranmu sirna seketika, saat kakimu menginjak tanahnya. Kampung halaman adalah tempat peraduan, yang kamu bisa tidur dengan nyenyak. Makan penuh suka cita, mendapat hiburan di kala duka, menjadi kaya meski tak banyak harta yang kau miliki.

Kampung halamanmu telah memberikan segalanya untukmu. Bila sudah sangat lama jauh darinya, kamu akan merasa sedih dan gundah. Kamu ingin pulang. Berada di rumah, meski di perantauan dirimu punya segalanya. Karenanya, kamu akan selalu tetap rindu pada kampung halamanmu.

Kata demi kata yang dituliskan pada pembukaan tulisannya, begitu mendalam bagiku. Aku ingin pulang sekarang juga. Bukan ke apartemenku, tetapi ke desaku, kampung halamanku.

Ingin segera pergi dari kantor, yang telah kuanggap sebagai rumah selama dua tahun ini. Tak kuhiraukan pertanyaan teman-teman, tentang tujuan kepergianku. Terus saja berjalan cepat, dengan menahan panas di pipiku. Biarlah orang terheran-heran. Biarlah mereka melihat sisi rapuhku saat ini.

Biarkan mereka bertanya-tanya, tentang yang terjadi padaku. Dan biarkan aku pergi sekarang. Segera saja pergi dari sini, naik bus yang menuju luar kota. Segera menuju rumahku yang sebenarnya. Aku pergi untuk kembali. Aku kembali.

Aku akan kembali ke pelukan masa kecil. Pelukan ibu, yang sehangat matahari. Aku akan kembali merasakan lembutnya rumput-rumput liar di padang gembala, bersama kumpulan domba ternak milik ayah. Aku akan kembali ke dalam rumah bilik, sebagai tempat yang nyaman kala hujan mengguyur deras.

Aku pulang. Dan menangis senang, ketika bus yang kutumpangi melaju. Tak tertahankan lagi rasa rindu kepada kampung halamanku, yang telah lama ditinggalkan.

*) Abdul Toyib Sodikin adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: