Skip to content

Keunikan Raja Gimbal

by pada 6 Mei 2014
(www.tipswisatamurah.com)

(www.tipswisatamurah.com)

Oleh Yunanda Ferlisa

‘Tanah Para Dewa’ begitulah istilah yang menggambarkan Dataran Tinggi Dieng. Berada di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, wilayah ini disebut sebagai tempat bersemayamnya para Dewa. Masyarakat yang tinggal pada ketinggian lebih 2000 meter di atas permukaan laut, masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka.

Banyak hal menarik dan unik yang ditemukan di tempat ini, salah satunya fenomena anak gimbal. Sepintas memang sama seperti anak-anak umumnya, hanya saja mereka cenderung lebih aktif, agak nakal dan kuat. Juga kerap menyendiri, namun masyarakat Dieng memercayai mereka tengah bercengkerama dengan makhluk gaib yang menyertainya.

Menurut legenda, dulu terdapat seorang pengelana yang merintis dan berkuasa di Dataran Tinggi Dieng. Kyai Kolodete –begitu diapanggilnya– pernah bersumpah, tidak akan mencukur rambut gimbalnya sampai kawasan Dataran Tinggi Dieng ini makmur. Jika keinginannya tidak terkabul, dia akan menitiskan rohnya pada anak yang lahir kemudian. Karenanya, warga Dieng mempercayai anak berrambut gimbal adalah titisan Kyai Kolodete.

Rambut gimbal yang tumbuh bukan disebabkan faktor genetik atau diwariskan turun menurun. Tak ada yang tahu, pada siapa dan kapan rambut gimbal itu tumbuh. Anak gimbal memang terlahir normal, namun pada suatu fase ketika mereka diserang demam tinggi dan mengigau saat tidurnya. Gejala ini tidak bisa diobati, karena akan sembuh dengan sendirinya. Demam tinggi itu menjadi awal mula tumbuhnya rambut gimbal.

Rambut gimbal tidak selamanya bersarang di kepala si anak gimbal. Warga setempat juga percaya: jika rambut gimbal dipertahankan hingga remaja atau dewasa, akan membawa musibah bagi anak dan keluarganya. Waktu pemotongan rambut gimbal juga harus ditentukan anaknya sendiri, karena jika tidak akan terus tumbuh meski sudah dipotong berkali-kali.

Itupun tidak boleh sembarangan, seperti memotong rambut biasanya, Ia harus mengikuti prosesi ruwatan, yang biasanya digelar secara massal di depan Candi Arjuna. Anak gimbal dimandikan dengan air dari 7 mata air, diarak dan dilempari beras kuning maupun uang koin. Setelah itu rambutnya dipotong Pemuka Adat, yang kemudian melarungnya di Telaga Warna. Prosesi adat ini dirangkaikan pada acara Dieng Culture Festival, yang diselenggarakan di komplek Candi Arjuna.

Uniknya, orang tua harus menuruti permintaan anaknya saat prosesi pemotongan rambut. Sesulit dan seaneh apapun. Layaknya kepolosan seorang anak kecil, permintaannya sangat beragam. Ada yang minta dibelikan sepeda, baju dan mainan. Ada juga permintaan yang rumit semisal mobil sedan. Betapa pusing orangtuanya, namun permintaan itu disiasati dengan membelikan mobil mainan. Jika keinginan anak tidak terpenuhi, anak gimbal tersebut akan jatuh sakit.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: