Skip to content

Cerpen: Mimpiku (1)

by pada 10 Mei 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(news.metrotvnews.com)

(news.metrotvnews.com)

Oleh Febrisiwi Rizka Andini

Pagi ini aku terlalu bahagia, setelah seharian penuh kemarin menghadiri launching buku bestseller milikku. Ini memang bukan pertama kalinya aku menerbitkan buku dan mendapatkan titel bestseller pada umurku yang baru saja memasuki 20 tahun, tepatnya beberapa minggu yang lalu.

Seketika aku terbangun, merasakan mentari memasuki kamar yang terselimuti embun. Aku hempaskan selimut menjauh, untuk segera bergegas membersihkan tubuh. Setelah itu kembali kerutinitasku: membuka email dan membaca selembar demi selembar kisah setiap orang yang ingin membaginya kepadaku.

From: helen.tami@yahoo.com
To: lucky_listen@ymail.com
Subject : —

Dear Miss Lucky

Ini adalah ceritaku yang terakhir. Meski hingga kini, kamu tidak juga membalasnya..

Aku menatap sejenak beberapa surat yang belum dibuka, dari pengirim yang sama. Ternyata hampir empat bulan diriku tidak membuka email, yang tersadar setelah memperhatikan tanggal surat pertama sang pengirim.

10/06/2012

Hello Miss Lucky. Aku Tami, sekarang aku berumur 20 tahun. Sahabatku pernah berkata, Jakarta itu kejam. Ya, meski ungkapan itu tidak mempengaruhi hidupku sama sekali. Well, inilah aku. Aku dibesarkan di dalam keluarga dengan kekayaan yang luar biasa.

Papiku memiliki perusahaan tekstil terbesar di India. Mami juga tidak kalah hebatnya, sebagai Manager di perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Sebagaimana orang kaya lainnya, mereka benar-benar sibuk sepanjang waktu. Aku juga seperti anak orang kaya lainnya, always lonely.

So, aku akan melanjutkan cerita berikutnya kepadamu tentang hidup yang aku rasakan.

See you

*******

11/06/2012

Hello, cerita ini bermula setahun yang lalu. Sampai saat itu, kehidupku benar-benar tidak sehat. Aku senang clubbing, minum-minuman beralkohol dan nge-drugs. Entah sejak kapan aku memulai kegiatan terkutuk ini.

Well, aku mempunyai seorang teman yang dikenal dari tempat clubbing. Namanya Tomi, umurnya sekitar 20 tahun. He’s very perfect. Ya, dia benar-benar sempurna. Dia anak orang kaya, juga pintar dan tampan. Namun, entah kenapa, Tomi yang anak konglomerat ini mau menjadi Bandar narkoba. Katanya sih hobi.

Saat itu pukul 02.15 WIB. Aku, Tomi dan teman-teman baruku keluar dari salah satu tempat clubbing di Jakarta. Tomi –yang saat itu dalam keadaan setengah mabuk– mengajakku pulang bersamanya, untunglah aku membawa mobil sendiri.

Gue pergi dulu, ya. Ada klien minta barang, nih. Oh ya, jangan kangen lu sama gue, karena gue bakal pergi meninggalkan lu. Bye, my darling,” ungkapnya, sambil tertawa terbahak dan menghilang di balik mobil biru.

Aku pun bergegas memasuki mobil, tak ada firasat apa pun malam itu. Semua berjalan seperti biasa.

*******

Sudah dua hari aku tidak mendengar keberadaan Tomi. Di club pun dia tidak muncul. Aku penasaran sekali dan memutuskan pergi menuju apartemen, tempat biasanya dia menghabiskan waktu.

Setiba di apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan, aku segera menuju ke lantai lima. Rasanya lama sekali hingga lift terbuka, mataku langsung tertuju pada karpet biru yang menghiasi setiap lorong. Sunyi sekali di lorong, walaupun pagi sudah melewati pukul 11.00 WIB.

Aku berhenti di depan sebuah pintu di pojok kanan lorong. Berdiri bosan, karena lebih tiga kali aku menekan bel tanpa jawaban. Aku tidak sengaja menyentuh pintu, yang tiba-tiba saja terbuka sendiri. Aku masuk perlahan dan mencoba memanggil Tomi, namun tetap tidak ada jawaban.

Gelap dan berantakan sekali ruangan ini, batinku. “Tom, Tomi.. Tom, jangan bercanda, ah!”teriakku.

Aku nyaris putus asa, lantaran ama sekali tidak ada jawaban. Ketika kuputuskan meninggalkan ruangan, tanpa sengaja melihat pintu kamar tidur Tomi yang terbuka. Aku mendekat dengan rasa cemas, karena di situ benar-benar gelap.

Aku mencari-cari sosok Tomi di dalam. Ruangan itu juga terasa dingin sekali. “Oh, Tuhan!”

Itu Tomi! Benar Tomi, yang telah tidak bernyawa di atas tempat tidurnya. Tangan kanannya menggenggam pisau dan handphone di tangan kiri. Keringat dingin mengucur melihat itu semua, tak mampu berkedip sedikit pun. Air mataku tak dapat ditahan lagi, sekujur tubuh bagai tersengat listrik saat itu.

Aku memutuskan segera menghubungi kantor polisi. Beberapa lama kemudian apartemen dipenuhi aparat kepolisian dan wartawan. Aku diminta keterangan kapan terakhir bertemu Tomi dan untuk apa datang ke apartemen. Setelah memberikan keterangan pada polisi, aku diizinkan pulang.

*******

12/06/2012

Hai, Miss Lucky. Ini surat ketigaku dan semoga kamu membalasnya.

Pada 10 Januari tahun lalu –tepat saat ulang tahunku ke-19– Papi menyempatkan diri datang dan memberikanku mobil baru. Tetapi diriku tidak bisa menikmati kado ulang tahun Papi, karena kematian Tomi. Padahal, kejadiannya sudah berlalu seminggu silam.

Kepolisian menyatakan kematiannya sebagai kasus bunuh diri, dengan bukti pesan singkat di handphone yang dipegang Tomi saat kejadian. SMS itu berisi permintaan maaf Tomi, karena harus mengakhiri hidupnya. Meski polisi menemukan sidik jari selain Tomi, namun pemilik sidik jari tersebut tak dapat ditemukan juga.

Entah mengapa, aku tidak percaya kesimpulan polisi tersebut. Ditambah lagi –seminggu ini– aku tak dapat tidur nyenyak, karena bermimpi yang sangat aneh. Aku seperti menyaksikan kematian Tomi di hadapanku. Aku melihat dia bertengkar dengan seorang pria berbadan tegap, tinggi dan sedikit gemuk yang membawa pisau.

Aku bingung sekali mengartikan mimpi itu. Setiap hari seolah mimpi berlanjut, menunjukan kepadaku fakta demi fakta. Aku berusaha mengikuti petunjuk tersebut.. (Bersambung)

 

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: