Skip to content

Cerpen: Mimpiku (2)

by pada 11 Mei 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(theangelmichael.blogspot.com)

(theangelmichael.blogspot.com)

Oleh Febrisiwi Rizka Andini

Aku menyelidiki apartemen Tomi, setelah mendapat izin keluarganya. Di sana aku mencari laci berwarna merah untuk menemukan agenda kecil, sesuai yang terlihat di dalam mimpi. Pada agenda, tertera banyak sekali catatan orang yang menelpon dan ditelpon Tomi. Aku membaca satu persatu.

03/01/2011

085432133565, Vinka bahaya!

Aku tidak mengerti maksud tulisan itu, yang bertanggal tepat di hari kematian Tomi. Aku mencoba menelusuri pemilik nomer telpon. Ternyata Vinka, seorang mahasiswi salah satu Universitas Swasta di Jakarta, tewas akibat over dosis.

Di mimpiku selanjutnya, aku melihat seseorang yang sama di mimpiku sebelumnya. Namun kali ini aku melihat dia memegang handphone Tomi, yang ditemukan polisi pada jenazahnya. Pria itu tengah mengetik pesan, agaknya keinginan Tomi untuk bunuh diri.

Aku tersentak kaget, tetapi aku tidak menemukan bukti untuk mengatakan itu semua kepada polisi. Karena yang kulihat hanya dari mimpi, yang terus berlanjut seperti sinetron.

Dan aku baru sadar, kini tanpa sengaja diriku telah tak tertarik lagi dengan duniaku dulu. Dunia yang penuh hura-hura, seperti clubbing, minum-minuman beralkohol dan nge-drugs. Akhirnya aku sadar, betapa nistanya bila hidup seperti itu. Sama sekali tak bermanfaat, bahkan untuk diriku sendiri. Belum lagi etika, norma dan aturan agama yang dilanggar akibat perbuatan itu. Oh, untunglah.

Sekarang aku hanya tertarik menantikan kisah selanjutnya dari mimpiku, yang mungkin akan menunjukan kebenaran tragedi Tomi. Karena biar bagaimana, Tomi pernah menjadi orang yang dekat denganku.

*******

Tunggu! Cerita apa ini? Aku berhenti dari nikmatnya kopi, yang aku ingin minum. Aku terkejut bukan main atas email Tami ini. Membuatku penasaran membaca kisah yang dikirim Tami selanjutnya. Sambil bersandar di tempat tidur, aku menyimak kisahnya lebih dalam.

13/06/2012

Hari berikutnya, mimpiku lebih jelas kali ini. Aku melihat pria yang sama meninggalkan apartemen Tomi menuju pemakaman umum. Di sana, aku melihat pria itu menangis sambil tertawa di depan sebuah makam yang bertuliskan:

Vinka Agustina
Lahir 13-09-1989
Wafat 24-02-2009

Aku kaget sekali. Apa maksud ini semua? Apa hubungannya Vinka dengan pria itu? Apa hubungannya Vinka dengan Tomi? Mengapa pria itu menangis di depan makam Vinka? Semua pertanyaan berputar-putar di kepalaku.

Keesokannya, aku menuju pemakaman yang ditunjukkan mimpi. Benar, di sana aku mendapatkan banyak informasi tentang tempat tinggal keluarganya Vinka. Aku menelusuri teriknya matahari, di jalan setapak daerah Jakarta Pusat.

Well, aku tiba di sebuah rumah minimalis, namun suram seperti tidak terurus. Meski takut, segera kudekati dan berusaha masuk. Rasanya berat sekali saat kucoba mendorong pintunya. Sesampai di dalam, aku berteriak memanggil penghuni rumah. Aneh, rasanya kulit ini dingin sekali. Padahal, saat itu, matahari sedang bertengger gagah di atas kepalaku.

“Jangan bergerak sedikit pun!”

Aku mendengar hardikan itu di belakang tubuhku. Ketika mencoba membalikkan tubuh, gerakanku tertahan oleh sebuah pisau yang menempel di leher. Lalu, tiba-tiba kepalaku pusing sekali dan cahaya di mataku meredup.

Aku terbangun kaget di atas sebuah bangku dengan kondisi terikat. Betapa terkejutnya aku, melihat di depan mata sosok pria yang sama di dalam mimpi. Tetap kucoba tenang untuk menjelaskan maksud dan tujuanku datang. Mendengar jawabanku, pria itu hanya tertawa terbahak hingga meneteskan air mata. Kemudian ia pun bercerita.

Ternyata Vinka adalah anak pria yang bernama Anton. Aku mendengarkan semua kisahnya dengan tetap waspada, karena dia nampak sangat stress. Sementara aku terus berusaha melepaskan ikatan yang membelit tubuh.

Vinka meninggal karena over dosis. Dan itu semua karena Tomi. Vinka sangat mencintai Tomi, tetapi Tomi menjerumuskan Vinka ke dunianya. Duniaku dulu juga. Anton benar-benar frustasi kehilangan Vinka, sebagai anak satu-satunya yang dia miliki. Istri maupun keluarganya meninggal dunia, karena kecelakaan sebelum Vinka tewas. Anton jadi sangat membenci Tomi. Ternyata, memang Anton lah yang merekayasa kematian Tomi.

Aku hanya bisa menatap mata Anton yang penuh amarah, saat dia menceritakan semua itu. Dan untungnya ikatan ditubuhku mulai terlepas tanpa sepengetahuan Anton. Perlahan, kucoba meraih tas untuk mengambil hanphone dan menghubungi kantor polisi. Namun, sayangnya, Anton melihat perbuatanku. Aku takut sekali, karena dia kemudian marah dan mencoba membunuhku.

Aku makin terpojok sudut ruangan berdebu itu. Alhamdulillah, aku akhirnya dapat bernafas lega saat mendengar sirine mobil polisi. Aku bersyukur, ternyata upayaku tadi menghubungi polisi tidak percuma. Anton berusaha melarikan diri, meski akhirnya tertangkap.

Aku pikir, semua sudah berakhir. Anton masuk penjara dan kasus kematian Tomi sudah terungkap. Mimpiku pun tidak berkanjut lagi.

Namun ternyata, mimpi tidak berakhir untukku. Semenjak itu, setiap aku melihat kasus kematian, selalu saja mendapat alur kejadiannya di mimpiku.

Karenanya, sejak saat itu aku benar-benar meninggalkan segala kegiatanku dulu yang terkutuk. Aku bukan lagi Tami yang kesepian, karena kini hari-hariku ditemani berbagai macam kasus. Akupun lebih fokus membantu orang-orang yang membutuhkan bantuanku untuk memecahkan kasus.

Ini memang terdengar aneh, rumit dan tidak masuk akal. Mungkin kamu juga berfikir seperti itu, Miss. Lucky, hingga kamu tak kunjung membalas ceritaku ini. Tapi percayalah, ini memang terjadi padaku. It’s real!

So, thanks Miss. Lucky. Karena kamu mau menyediakan tempat untukku bercerita. Semoga aku bisa menjadi inspirasimu untuk menulis lagi.

Sincerely,

Helena Tami Aditomo J

*******

Ini mengejutkan bagiku. “Ini benar-benar kisah nyata kah?” Aku tidak pernah mendengar kisah semacam ini. Tanpa basa basi lagi, aku langsung mengetik semua kisah Tami dalam sebuah karya baruku. Insya Allah, nanti akan kupersembahkan pada Tami. Kalian mau baca juga? (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: