Skip to content

Ingin Lebih Baik, Mengapa Ragu?

by pada 13 Mei 2014
(www.setkab.go.id)

(www.setkab.go.id)

Oleh Vicky Yunita Clara Wati

Musim terus berganti, tidak lagi bisa diperkirakan. Panas dan hujan sulit dijadwalkan. Bahkan hingga Mei kali ini, hujan masih sering datang. Pagi terang benderang, beranjak sore, sulit diperkirakan. Bahkan bisa terjadi sebaliknya.

Banjir bukan lagi hal tabu bagi beberapa daerah, ketika musim hujan tiba. Begitu pula Jakarta. Beberapa titik di Jakarta pun, menjadi langganan penerimaan air kiriman tersebut.

“Musim hujan datang, air kiriman tidak bisa ditolak lagi.” Begitulah ucapan mereka, yang kerap kali menjadi korban air kiriman tersebut. Kesan ikhlas untuk menerima nasib mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan, karena hal itu sudah biasa mereka terima.

Bukan hanya banjir kiriman, penyakit pun terbawa air yang mengalir dan kemudian menggenang. Ketika penyakit menyerang, bukan tidak mungkin masyarakat menuntut perhatian pemerintah. Saat itulah pemerintah terpojok.

Jika sudut pandang diarahkan pada pemerintah, mereka memang mempunyai kewajiban untuk mengatasi keluhan warganya. Tapi perlu diperhatikan juga, apa yang harus mereka lakukan lagi –ketika semua yang sudah diupayakan– hanya menghasilkan keluhan yang semakin banyak dari masyarakat.

Pemerintah mulai berada di posisi sulit, untuk memberdayakan lingkungan yang lebih baik, tanpa dukungan dari masyarakat. Bukan sekadar persetujuan, pemerintah juga membutuhkan kerjasama warga untuk mengikuti aturan yang diberlakukan.

Dalam penanganan banjir, terbesit pemikiran, pemerintah –khususnya Pemda DKI jakarta– memberlakukan denda terhadap masyarakat yang tetap membuang sampah ke kali Ciliwung. Kebijakan ini diperkirakan akan diberlakukan tahun 2014. Besarnya denda yang dikeluarkan pelaku individu sebanyak Rp. 500.000 dan bagi sebuah perusahaan sebanyak Rp. 50.000.000

Setiap pemberlakuan kebijakan, pasti akan menuai pro dan kontra. Sudah jelas untuk masyarakat yang pro dengan pemerintah, pasti telah mempertimbangkan keuntungan yang didapat. Menginginkan Jakarta yang lebih tertib, salah satunya. Besarnya nominal denda, bukan bermaksud merugikan masyarakat, namun untuk mendatangkan kesadaran masyarakat demi menghasilkan Jakarta yang lebih baik.

Pendapat kontra pun memungkinkan terjadi, ketidaksetujan besarnya nominal denda menjadi salah satu alasannya. Tidak tersedianya tempat pembuangan sampah, sampai tidak adanya sistem pengangkut sampah, menjadi alasan lainnya untuk menolak kebijakan tersebut.

Jika dipelajari lebih dalam, alasan-alasan tesebut hanya menjadi penghalang untuk terciptanya Jakarta yang lebih baik. Pada dasarnya, alasan tersebut bisa didiskusikan guna pencapaian keputusan yang menguntungkan kedua pihak. Tidak perlu memperbanyak alasan. Kebijakan yang akan diberlakukan, setidaknya telah melalui proses pemikiran yang cukup matang.

Kita perlu menanamkan kepercayaan untuk para pemegang kuasa. Kita telah memilih mereka sebagai wujud kepercayaan kita, mereka mampu melakukannya. Biarkan sekarang mereka bekerja, membuktikan tanggung jawab mereka terhadap kepercayaan yang telah kita berikan.

Diingatkan pula bagi pemegang kekuasaan, dalam kepercayaan kami pun terdapat sedikit keraguan. Jadi sudah menjadi kewajiban kalian. untuk membuktikan kalau keraguan kami salah.

Masalah banjir sering terjadi, solusi telah terpikirkan, berhasil atau tidak? Tidak ada salahnya dicoba.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: