Skip to content

Home(town) Sweet Home(town)

by pada 15 Mei 2014
(selamatkanyaki.com)

(selamatkanyaki.com)

Oleh Yonna Prastika Anthoni*

Aku pulang ketika itu, Natal 2012 dan Tahun Baru 2013.  Cerita awal sangat menyenangkan, sejak di bandara saat kami dinaikkan bis untuk sampai di depan pintu pengambilan bagasi. Ternyata, jaraknya hanya sekitar 50 meter. Penumpang lain pun tertawa dengan berbagai komentar.

E’do’do’e. Kita kira le jauh skali. Cuma brapa meter le ini. Kyapa nyanda bajalang jo tadi? Hahaha,” komentar seorang Bapak. Artinya, “Astaga. Saya kira jauh sekali. Cuma beberapa meter. Kenapa kita tidak jalan kaki saja tadi? Hahaha.”

Ucapan itu membuyarkan lamunanku, yang kemudian juga tertawa. Dalam kesadaran mendadak ini, ku bergumam dalam hati. Ah. Aku pulang. Sekarang sudah di kampung halaman. Manado.

Momentum ini yang sangat lama kutunggu, merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga besarku. Setelah ditinggal pergi almarhum Papa, aku dan Mama pergi merantau. Ini kepulangan kedua setelah 10 tahun merantau, sama excited-nya dengan 3 tahun lalu.

Panas khas Manado, sudah terasa sejak turun dari pesawat. Aku langsung melepas jaket, lalu naik bis-50-meter itu dan mengambil barang. Ada tips untuk semua orang yang ingin menaruh barang di bagasi pesawat: jangan pakai dus Aqua! Banyak sekali yang menggunakannya. Aku perlu sekitar tiga kali putaran, sampai benar-benar sadar kalau dus itu milikku dan mengambilnya.

Rumah Oma dari keluarga Papa selalu sama. Berbata, mungil dan banyak kue kering. Bagian terakhir paling menyenangkan, karena kue kering buatan Oma selalu lezat. Yang berbeda hanya jalan raya di dekatnya, kini penuh dengan toko, distro, rukan, dan tentunya, Mantos, Manado Town Square.

Oma gode’ (panggilan kesayanganku pada Oma) pun tetap sama, karena sejak dulu –sebelum aku merantau– Oma tetaplah gode’ (artinya gendut dalam bahasa Manado). Selalu saat pulang ke Sulawesi Utara, mampir di rumah Oma gode’ di Manado adalah suatu keharusan.

Dari Oma barulah melanjutkan perjalanan ke Bitung, tempat keluarga besar Mama. Tempat aku lahir dan hidup selama empat tahun, sebelum merantau. Pisang goreng besar, tebal dan lezat yang ditambah sambal, serta kue-kue kering yang disebut kukis, menyambutku di rumah Oma gode’. Suguhan yang pas sekali dengan perut lapar dan besarnya nafsu makan pada sajian khas daerah.

Esok harinya, aku dan Mama berangkat ke Bitung. Menggunakan transportasi umum ternyata memperoleh keuntungan tersendiri, walau panasnya bukan main. Di Airmadidi –antara Manado dan Bitung– masih ada kebudayaan yang tersimpan. Rumah warga yang khas dan bermodel sama menjadi kesenangan tersendiri, karena jelas terlihat keaslian rumah adat Sulawesi Utara. Sayangnya handphone kami tidak terlalu canggih, untuk mengabadikan rumah-rumah itu dalam bentuk gambar.

Rumah Opa di Bitung serasa lukisan. Posisinya di desa yang tepat berada di kaki gunung, membuat pemandangan di belakang rumah sangat hijau dengan dua gunung sekaligus. Kalau melihat dari teras depan, terdapat hutan dan laut dengan kapal besar persis di tengahnya.

Posisi rumah Opa, tetapi bukan persis di bawah kaki gunung dan di depan laut. Masih harus dicapai dengan berjalan kaki, sekitar setengah jam ke arah bawah. Aku pernah mencoba dan rasanya seperti turun gunung. Terjal –bahkan sampai sandal putus– hanya tidak securam gunung sesungguhnya, karena melewati rumah warga.

Kata Opa, kapal yang di tengah laut itu mengambil minyak dan akan ‘menetap’ selama beberapa hari. Haluan kapalnya saja yang berubah mengikuti arah angin, tetapi jangkarnya tetap bertahan di situ. Kalau kapalnya sudah tidak ada, berarti tengah mengirimkan minyaknya ke daerah lain. Beberapa hari kemudian dia akan kembali dan melakukan hal yang sama, ‘bertengger di tengah lautan.’

Kalau kita sudah berada di pantai dan menghadap ke arah rumah Opa, dua gunung tersebut juga terlihat sekaligus. Berarti rumah Opa sedikit di bawahnya, sangat menyenangkan. Sepuluh hari disana, kita pergi ke pantai tiga kali. Maklumlah. Jaraknya hanya 30 menit berjalan kaki.

Tidak akan susah bagi kami, yang sedari kecil memang dibiasakan berjalan kaki. Pertama ke pantai, aku melewati jalan (yang mirip) gunung itu. Seru rasanya. Alasan pertama, karena pori-pori terlihat membesar akibat hawa panas yang bukan main menyengat.

Alasan kedua dan ketiga? Aku ketagihan. Apalagi di kali ketiga, terdapat berkat Tuhan di pantai. Bukan hanya banyak keluarga yang ikut, tapi juga terjadi hujan dengan 2 pelangi. Serasa tepat sekali waktu kepulanganku.

Yang spesial tentang kampung halaman, adanya keluarga besar dan perayaan Hari Raya bersama. Semuanya berkumpul di sini. Ditambah lagi, kepulanganku bersamaan dengan perayaan Natal. Agama Nasrani yang banyak dianut di Manado, menjadikan perayaan Natal sangat memorable.

Kumpul keluarga merupakan hal yang cukup mendebarkan buatku, si anak perantauan yang sejak kecil pergi ke Pulau Jawa. Yang telah lama tidak pulang kampung dan jarang menghubungi mereka. Malah Mama yang lebih sering berbicara lama di telepon, saat keluarga menghubungi kami. Alhasil, mesam-mesem kebingungan selalu menghias wajahku saat mendatangi rumah sanak saudara.

“Iya, itu saudara sepupu Mama. Dulu kamu masih kecil sering digendong Tante sama Om itu. Sering mereka ajak kamu jalan-jalan.”

“Duh, sekarang sudah kuliah ya? Dulu waktu kecil, kamu masih suka main sama anak Tante. Pasti sekarang sudah lupa.”

“Ya ampun, sudah besar ya? Sudah punya pacar?”

Yah, begitulah kira-kira inti pertanyaan mereka. Yang terus menghujani, meski aku tengah menyeruput minuman soda suguhannya. Kadang kalau mereka mulai bercanda dengan bahasa Manado lalu tiba-tiba tertawa, aku butuh waktu lebih –untuk menanyakan arti terlebih dulu– baru kemudian ikut tertawa. Terlambat sudah tawaku, yang kerap membuatku sangat malu.

O ya, minuman soda selalu tersedia di Sulawesi Utara. Dugaanku, setiap hari raya stok pabrik dikeluarkan 2 kali lipat saat Hari Raya. Betapa tidak, semua rumah punya berpak-pak minuman bersoda. Satu pak biasanya berisi 10 botol. Tiap orang biasa meminum sebotol sekali bertamu. Sehari –sejak pagi sampai siang– biasanya tiap rumah mendapat tamu sekitar 5 sampai 6 keluarga. Masih untung, kalau hanya tetangga yang datang.

Orang-orang pemerintahan punya kesempatan besar mendapat tamu yang dua kali lipat jumlahnya. Padahal silaturahmi bukan hanya pada hari-H saja, bahkan selama sepekan penuh. Hanya saja, minuman soda mereka tidak pernah habis.

Hitungan begini baru dari sisi tuan rumah. Dari sisi para tamu, aku tidak bisa membayangkan. Betapa kembungnya perut mereka, kalau sehari berkeliling ke lima rumah. Hebatnya, saat pulang ke rumah mereka pun minum soda juga. Hahaha.

Sepanjang di sana, kerlap-kerlip lampu Natal tak hanya diterawang dari jendela. Lampunya menggantung dan membentuk bermacam-macam pola. Di mana digantungnya? Di pohon depan rumah maupun pintu depan bagian luar. Ketakutanku –saat pertama kali melihat lampu di pohon– hanya satu, mungkin esok paginya lampu akan hilang dicuri orang. Tetapi lama-kelamaan ketakutan hilang, ternyata semua keluarga yang merayakan hari Natal juga memiliki lampu di pohon dan di teras rumah mereka masing-masing.

Di kota perantauan –yang sekarang sudah jadi kampung halaman kedua– angkutan umum tidak akan beroperasi lebih dari jam 8. Di sini? Jam 12 malam pun jadi. Justru angkutan yang semrawut turun ke jalan, untuk mencari penumpang.

Malam 30 Desember, aku, Mama, dan beberapa saudara turun ke kota. Niatnya berjalan-jalan, tetapi kami malah bertemu macet di pusat kota Bitung. Ya, karena angkutan, manusia, dan para pedagang yang memenuhi jalan. Semuanya ada di sana.

Sebelum take-off dari bandara, aku memandang jejeran pohon kelapa di atas gunung. Sampaikan salamku, pada pantai dan kue kering buatan Oma gode’ Manado, juga untuk seluruh keluarga di Bitung. Sampai ketemu lagi, ya, Manado!

*) Yonna Prastika Anthoni adalah mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: