Skip to content

Cerpen: Aku, Listrik dan Impian Kampungku

by pada 18 Mei 2014
(www.bantenposnews.com)

(www.bantenposnews.com)

Oleh Ai Megawati*

Nyaris semua orang merasakan sekarang adalah zaman serba instan dan modern, yang disebabkan makin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jarak dan ruang tidak lagi sebagai penghalang melakukan sesuatu. Berbagai media dan alat elektronik menjadi kebutuhan primer bagi manusia masa kini.

Namun tidak bagiku –maupun semua orang di kampungku– yang masih belum dapat menikmati listrik sebagai penunjang utama berbagai alat elektronik. Kami hidup dengan cara tradisional dan sangat bergantung pada alam.

Aku, warga yang tinggal di desa –yang mungkin sulit dijangkau orang lain– bernama Cikupa. Kampungku ini memang masih terisolir dan sangat pelosok, sama sekali tidak terdapat barang-barang yang menggunakan listrik.

Pernah diusulkan ke Pemerintah Daerah, supaya dibangun jalur listrik ke kampung kami. Meski sudah beberapa kali diajukan, seakan tak digubris sedikit pun. Entah apa yang salah, aku tidak tahu. Yang jelas, tak ada respon positif pemerintah hingga saat ini.

Setiap malam kami harus menyalakan secentir lampu minyak, demi menerangi rumah yang begitu gelap dan hening. Lampu yang menerangi setengah ruangan, karena cahayanya menjangkau beberapa meter saja. Tidak seperti lampu yang menggunakan listrik.

Apalagi saat adikku mengerjakan tugas sekolah, hanya diri dan bukunya saja yang terang. Terkadang aku bertengkar dengannya –sekadar memperebutkan lampu centir– yang sampai padam tertiup akibat gerakan dan nafas kami.

Aktivitas warga di kampungku juga terbatas hingga menjelang magrib, paling saat malam-malam terang bulan saja mereka bisa beraktifitas di luar. Selain malam itu, mereka lebih memilih bercengkrama dengan anggota keluarga di dalam rumah.

Perubahan harus aku lakukan, meski sulit. Aku ingin membuat jaringan listrik di kampungku sendiri, sehingga kami tidak kegelapan bila malam datang. Memang listrik adalah impian kami –sebagai penduduk Desa Cikupa– yang sekian lama mengharapkan bantuan pemerintah.

*******

Suatu ketika aku pergi ke toko di kota, membeli bahan ajar untuk madrasah di kampungku. Tanpa sengaja, kutemukan sebuah buku berjudul “Pembangkit Listrik Tenaga Air Sederhana” yang menarik perhatianku.

Setelah kulihat daftar isi, ternyata memang sangat membantu pecahkan masalah yang dialami kampungku. Kuputuskan membelinya dengan sisa uang untuk ongkos pulang ke rumah, meski resikonya harus mencari tumpangan gratis agar sampai di rumah.

Keberuntungan lainnya, aku tak sengaja bertemu teman lamaku sewaktu SMP. Egol biasanya dia  kupanggil, walau nama sebenarnya Ahmad. Pertemuan yang memberikan solusi untukku pulang, karena dia membawa kendaraan bermotor dengan tujuan yang sama.

Kami banyak berbincang di jalan. Sekarang dia tengah melanjutkan pendidikannya di universitas ternama di Bandung, mengambil konsentrasi Fisika. Sungguh beruntung sekali hari ini, ternyata doaku dan orang-orang di kampungku dikabulkanNya.

Aku menceritakan keadaan di kampungku, tetapi dia tidak percaya kalau masih ada daerah yang terisolir di zaman serba canggih ini. Di tengah perbincangan, kuceritakan buku tadi. Kukatakan pula keinginan membuat jaringan listrik sendiri di kampungku.

It’s good idea, bro! Aku sangat mendukung rencanamu yang bagus,” jawabnya dengan ciri khas yang dimilikinya sejak SMP dulu. Sok ke-Inggris-an.

“Tapi masalahnya, aku tidak tahu cara memulai proyek ini. Bermodalkan sebuah buku saja tentu tidak cukup. Apalagi aku hanya lulusan SMA, bukan lulusan fakultas teknik,“ sanggahku.

Dengan santai dia menjawab, ”Beruntung sekali kau bertemu dengan seorang fisikawan yang baik hati, seperti aku. Tak ada yang tidak mungkin di dunia, jika Tuhan menghendakinya. Aku akan bantu kau semampunya.”

Aku tersenyum sambil berkata, “Memang ini jawaban doaku.”

Perjalanan pulang yang panjang pun tak terasa, kami banyak bertukar pikiran untuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air. Akhirnya kudapatkan ahli, yang akan membantu proyek besar ini.

*******

Sesampai di rumah, kuceritakan pada keluarga. Awalnya mereka tidak percaya, karena niatku ini tidak mungkin dilakukan. Tetapi, menyerah bukan sifatku. Dengan bantuan Ahmad, aku berusaha meyakinkan keluarga dan penduduk kampungku.

“Bapak dan Ibu sekalian, percayalah kami. Pembangunan pembangkit dapat membantu kesulitan kampung ini, mengenai sumber listrik yang kita cita-citakan. Apalagi kita memiliki seorang yang ahli dan mengerti listrik,” himbauku di rapat desa.

“Betul! Kita bersama-sama membangun PLTA Mini khusus kampung ini. Kebetulan saya memiliki kenalan di Bandung, yang memproduksi turbin,” sambung Ahmad.

“Bagaimana kami bisa percaya kalian?” tanya seorang penduduk.

“Saya adalah mahasiswa Jurusan Fisika, yang kebetulan mengetahui teknik-teknik dan prosedur pembangunan turbin, Bapak-bapak bisa melihat kartu mahasiswa saya sebagai bukti,” jawab Ahmad dengan lugas.

“Baiklah, kami setuju! Kami akan memdukung proyek ini,” sahut Kepala Desa sepakat.

Dengan usaha yang keras, akhirnya kami berdua bisa meyakinkan penduduk. Kampungku akan membuat tenaga listrik sendiri, dengan memanfaatkan sungai. Dalam rapat, kami mempresentasikan tahap demi tahap pembangunan PLTA Mini tersebut. Mulai penentuan lokasi yang tepat, sampai rancang bangun penampungan listrik, serta menetapkan turbin yang sesuai deras air sungai di kampung kami.

Proyek pun kami mulai, dengan pembuatan jalur air dan membangun tempat peletakan turbin yang sudah kami pesan. Kemudian kami lanjutkan dengan pembangunan tempat penyimpanan daya listrik yang dihasilkan dan mulai merangkai rangkaian listrik. Dengan berjalannya waktu, kami dapat menyelesaikan proyek ini dalam jangka waktu tiga minggu walaupun beberapa kesulitan kami hadapi namun dapat teratasi.

Hari ini kami akan menyalurkan daya listrik sekitar 800 Watt yang tertampung, cukup menerangi 15 rumah di kampungku. Penuh tegang Ahmad menarik tuas yang akan menghubungkan generator, dengan kabel-kabel yang sudah tersambung ke rumah-rumah.

Akhirnya, kami dapat melihat lampu menyala di rumah-rumah. Dengan penuh bangga, aku memeluk sahabatku. Semua orang bersorak kegirangan dan menghujani kami berbagai pujian.

“Jang, bener sekali! Ujang mampu membuktikan ke semua orang, kita dapat memiliki jaringan listrik.” Pak RT sontak memuji kami.

“Tidak, Pak. Ini semua berkat kerja keras kita bersama-sama, saya hanya membantu saja.” ujar Ahmad tersipu.

Kebahagaian itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam, ketika terjadi suara ledakan di salah satu rumah warga yang diiringi kepulan asap, Setelah kuperhatikan ternyata berasal dari rumahku. Tak kupedulikan semua, bergegas lari menuju rumah dihantui cemas yang memuncak.

Ya Tuhan, mengapa ini bisa terjadi? Terlihat adikku dikerumuni warga, dalam keadaan luka bakar yang parah. Kami segera membawanya ke Puskesmas Desa, namun Tuhan berkehendak lain. Adikku menghembuskan nafas akibat nyaris sekujur tubuhnya hangus.

Aku sangat bersalah, meski kejadian ini disebabkan hubungan arus pendek. Terlebih rumahku terbuat dari kayu, sehingga adik terjebak san tak sempat menyelamatkan diri. Ayahku yang berada di depan rumah telah berusaha menerobos masuk dan membawanya keluar dari kepungan api, namun ia tidak tertolong.

*******

Setelah kejadian itu, aku mengalami trauma yang begitu dalam. Aku berubah menjadi orang yang pendiam dan penyendiri, tidak pernah keluar rumah. Ahmad dan keluargaku selalu memberi motivasi, namun tidak berpengaruh bagiku. Proyek PLTA terlantar begitu saja.

Akhirnya Ahmad dengan kasar menegurku, “Memangnya kau ini Tuhan, yang menentukan nasib atau hidup seseorang? Kau itu hanyalah makhluk-Nya. Adikmu meninggal sudah menjadi takdirnya, bukan kesalahanmu!”

Perkataan Ahmad ternyata malah memberiku hidayah, untuk mampu bangkit dari keterpurukan. Secara perlahan semangatku –yang dulu pernah hilang– berangsur kembali. Ahmad memang sahabat sejati, ia melakukan berbagai cara untuk memotivasiku. Ia juga menawarkan untuk mengajukan beasiswa di universitas, dengan jurusan Teknik Elektro yang kuidamkan.

Kendati awalnya memang coba-coba, namun aku berhasil mendapatkan beasiswa. Kubuka lembaran hidup baru, dengan tekad akan meneruskan proyek PLTA yang terbengkalai. Semuanya ini demi sebuah impian, kampungku dapat mempunyai listrik.

*) Ai Megawati adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Gunung Djati, Bandung

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: